
"Saya itu tidak gila! kakak yang gila." ucap Tiara.
"Maafkan Kakak dek, iya kakak yang gila. Maafkan kakak ya, maaf." ucap Satria Esa.
"Entah kenapa, akhir - akhir ini semuanya menganggap saya aneh. Padahal saya itu tidak aneh."ucap Tiara.
" Dek, kita jalan - jalan yuk. Biar kamu tidak bosan di rumah." ajak Satria Esa.
"Apa kakak sedang merayu saya?" ucap Tiara.
"Hahaha.. iya , suami kamu itu sedang merayu kamu." ucap Satria Esa.
Tiara tiba - tiba memeluk tubuh Satria Esa, saat tiba - tiba di peluk, merasakan kaget. Lantas dengan ragu, Satria Esa membalas pelukan Tiara.
"Sudah lama, saya tidak di peluk begini kak. Saya rindu, dan sudah lama juga kakak tidak mencium saya." ucap Tiara.
"Ci- cium!" ucap Satria Esa.
Tiara mendongakkan kepalanya ke atas, Satria Esa menatap wajah Tiara yang begitu sangat dekat.
"Cium!" pintar Tiara.
"Ci - cium! " ucap Satria Esa.
"Iya, cium. Kakak cium saya, kangen."
Satria Esa tampak ragu, walau dahulu pernah melakukannya, tetapi tidak dengan sekarang dengan kondisi yang berbeda.
"Kak! nggak mau cium ya?" ucap Tiara dengan wajah kesal.
Satria Esa mengecup kening Tiara, namun Tiara merasa kesal dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa cuman di kening! bibir lah." protes Tiara.
"Tapi dek, kakak itu. " ucap Satria Esa.
"Kakak kenapa? apa kakak sudah tidak sayang, sudah tidak cinta?"
"Bu - bukan begitu."
"Lantas kenapa? bukannya saya ini istri kakak! "
"Iya, ta - tapi dek."
"Saya paham, pasti kakak sudah punya yang lain di luar sana, katakan kak? apa itu benar! "
"Sumpah dek, kakak tidak punya kekasih lain di luar sana, hanya adek yang kakak cinta."
"Lantas, kenapa kakak tidak mau mencium bibir saya? kita kan pasangan suami istri, kenapa kakak tidak mau?"
Satria Esa mengepalkan keduanya tangannya, dengan mata terpejam. Satria Esa lantas dengan menarik nafas panjang, menarik tengkuk leher Tiara, dan menempelkan bibirnya ke bibir Tiara.
Dengan perlahan tapi pasti, Satria Esa mencium bibir Tiara, bahkan Tiara membalasnya dengan lebih agresif. Kedua tangan Tiara mengalunkan di leher Satria Esa, dengan mencengkram rambutnya nya.
Aaahhh
Suara yang terdengar dari mulut Tiara, saat ciuman itu mendarat di lehernya, lantas meninggalkan jejak.
"Maaf." ucap Satria Esa dengan melepaskan ciumannya.
"Kok sudah? kakak selama ini tidak pernah menyentuh saya lagi." ucap Tiara.
__ADS_1
"Maafkan Kakak dek, maaf." udak Satria Esa beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Tiara.
"Kak Ade kenapa ya? apa saya kurang memuaskan! atau dia punya yang lain?"
****
Mobil pun berhenti tepat di jembatan Merah, Satria Esa memutuskan untuk tidak menginjakkan kakinya disini, harus menginjakkan kakinya lagi di jembatan mereka bersama cinta pertamanya.
"Kenapa kakak bawa kesini?" tanya Tiara.
"Bukannya, ini jembatan yang penuh kenangan kita dek." jawab Satria Esa.
"Tidak kak, ini bukan kenangan kita. Tapi kenangan masa lalu kita pulang kak." ucap Tiara memasuki mobil kembali, tapi di tahan oleh Satria Esa.
"Kamu jangan pergi, ini ada cerita tentang kita." ucap Satria Esa.
"Saat itu, warna langit tampak cerah.
Awan putih bagai kapas, menghiasi langit yang biru.
Terik matahari, tampak begitu menyengat, menerpa kulit.
Tapi tidak meruntuhkan niat, untuk bertemu dengan sang pujaan hati.
Hati berbunga - bunga, saat sang Bidadari ada di depan mata.
Warna bibir merah muda, terasa ingin mengecup.
Tangan halus melambai, dengan dua tangan menarik tubuh dalam pelukan.
Cinta tidak akan pernah hilang, cara kita bertemu dan bersatu seperti ini.
ujian yang terberat, adalah perpisahan sementara.
Tiara diam saat pria di depannya membawakan sebuah kata - kata indah. Satria Esa memegang kedua tangan Tiara, mengecup kedua punggung tangannya.
"Cinta, jangan pernah kamu lepas, saat tahu kebenarannya. Jangan pernah membenci, saat apa yang pernah kita lakukan. Satu kata, saya akan selalu ada untuk kamu." ucap Satria Esa.
"Kak, saya mencintai kakak. Bagi saya, Kakak adalah cinta sejati, cinta yang tidak akan pernah luntur. Cinta ini, akan selalu tumbuh di setiap detik." ucap Tiara.
"Terima kasih."
***
"Kamu yakin, akan menikah dengan Tiara dalam kondisi seperti itu?" tanya Pak Agus.
"Saya yakin Om, karena saya mencintai Tiara." jawab Satria Esa.
"Tapi Tiara sekarang, menganggap kamu itu Ade bukan Esa. Kalau suatu saat ingat, bagaimana nantinya?"
"Benar, Tante takut dia marah - marah." ucap Bunda Lidia.
"Saya peduli dengan anaknya, anak dalam kandungannya, butuh sosok Ayah, dan Tiara juga butuh sosok pria." ucap Satria Esa.
"Sosok pria itu Ade, bukan kamu." ucap Bunda Lidia.
"Saya tahu, tapi saya berharap dia akan bisa menerima ikhlas."
"Baik, kami setuju saja. Tapi kalau suatu saat Tiara sadar, dan bangun dari ke halusinasinya. Kamu harus bisa, menahan emosi dia." ucap Pak Aji memberikan penjelasan.
"Iya om." ucap Satria Esa.
__ADS_1
****
"Kak, saya ingin makan kerak telor." ucap Tiara dengan merengek.
"Sudah jam 12 malam dek, mau cari kemana?" ucap Satria Esa yang sedang duduk di depan TV.
"Ya cari kak, lapar nih."
"Kakak buatkan mie rebus mau?"
"Mau kerak telor, bukan Mie rebus."
"Yaudah, nanti kakak cari yang masih ada dimana."
Satria Esa mengambil jaket dan kunci motor, Tiara lantas mengambil jaket, dan langsung naik ke atas motor.
"Dek, kamu ikut?" tanya Satria Esa.
"Iya Kak, saya mau ikut." jawab Tiara.
"Jangan dek, kamu kan sedang hamil, kakak cari muter - muter loh, dan kalau belum dapat, kakak cari tempat lain." ucap Satria Esa.
"Saya mau ikut." ucap Tiara.
Tiara pun ikut mencari pesanannya, dengan memeluk erat pinggang Satria Esa. Bahkan Satria Esa merasakan benda kenyal, di punggungnya.
"Dek, kalau tidak ada gimana?"
"Ya cari kak, masa tidak ada."
"Ini sudah 30 menit loh. Kita sudah jauh, ini kan posisi malam, sudah tidak ada yang jual kerak telor." ucap Satria Esa.
"Pokoknya cari, saya tidak mau pulang kalau belum dapat. " ucap Tiara kesal.
"Ya dek, kita cari."
Dengan motor hingga sampai di perbatasan kabupaten, tidak ada yang menjual kerak telor. Tiara tertidur, saat Satria Esa memanggilnya.
"Dek, sudah jauh nih dek. Kita pulang ya, kerak telornya tidak ada." ucap Satria Esa.
Tiara begitu terlihat nyenyak, lantas langsung Satria Esa memutar ara motornya, untuk kembali pulang.
"Maaf ya dek, kita pulang." ucap Satria Esa.
****
Satria Esa dengan pelan turun dari motor, dan membantu Tiara yang masih terlelap, dengan kedua tangan mengangkat tubuh Tiara, lantas membawanya masuk ke dalam kamar.
Tubuh Tiara, oleh Satria Esa di selimuti hingga sebatas dada, tidak lupa mencium keningnya.
"Maafkan Kakak dek, kakak tidak bisa memenuhi keinginan kamu. Tapi janji, kalau besok ada, kakak akan belikan." ucap Satria Esa.
Satria Esa mengecup kening Tiara, lantas dengan berani Satria Esa mengecup perut Tiara, yang tampak sedikit buncit.
"Semoga anak kamu lahir selamat, dan sehat keduanya."
Satria Esa melihat photo almarhum saudara kembarnya, Satria Esa mengambil bingkai tersebut.
"Saya janji de, akan melindungi dia. Maafkan saya De, kalau saya memang mencintai dia, maafkan saya, apa yang pernah jadi milik kamu, saya ambil. Saya akan melanjutkan hubungan ini, dan saya berharap akan ada kisah indah suatu saat nanti." ucap Satria.
.
__ADS_1
.