
Satria dan Tiara saling berciuman dengan tubuh mereka yang saling menempel tanpa, ada pembatas. Tiara terus merasakan bagai terbang di atas langit ke tujuh.
"Kakak mulai ya?" bisik Satria.
Tiara menganggukkan kepalanya, dengan memejamkan kedua matanya. Tangan kanan dan kiri, mencengkram seprai.
Aaaaaaaa
"Kak..!! " teriak Tiara saat milik Satria masuk.
"Maaf kalau kasar." ucap Satria yang menghentikan aksinya.
"Sakit kak, perih kak." ucap Tiara.
"Ini awal sayang, nanti akan terasa enak kalau sudah sempurna masuk."
"Jangan dulu lanjut, sakit kak." ucap Tiara dengan meneteskan air matanya.
"Ya kakak, membiarkan kamu terbiasa dulu."
Satria mengecup kedua mata Tiara, dan turun ke bibir. Tiara mengalungkan kedua tangannya, di leher Satria.
"Gimana, sudah siap lanjut?"ucap Satria.
" Pelan - pelan kak." ucap Tiara.
Satria kembali mendorong, dengan pelan tapi pasti. Hingga Tiara pun, bisa menyesuaikan benda asing yang masuk ke miliknya.
Aaahhhhhh
"Kak, pelan aaaahhhhh." ucap Tiara.
"Pelan sayang, ini belum sempurna masuk."
Tiara mencengkram pundak Satria, hingga kuku - kuku panjangnya, mencakar punggung sehingga membuat banyak luka.
"Tahan yank, sudah masuk sempurna." ucap Satria sambil terus memaju mundur.
Tiara pun sudah menyesuaikan sempurna, rasa sakit kini berubah menjadi nikmat. Suara - suara indah dari Tiara keluarkan, membuat Satria semakin bergejolak.
Hingga akhirnya sampai di ujung pelurunya, dan menyemburkan sebuah ****** *****, hingga kedalam.
CUP
"Makasih sayang." ucap Satria dengan mengecup bibir Tiara.
Keduanya lantas saling berpelukan, dengan satu selimut. Jemari Tiara bermain di sekitar dada Satria , yang masih terdapat keringat.
"Malam ini kamu bahagia kan?" tanya Satria.
"Bahagia sekali kak, sekarang kakak milik saya seutuhnya, dan saya milik kakak seutuhnya." ucap Tiara.
"Yank."
"Hmm."
"Nanti rencana mau punya anak berapa?"
"Kakak mau berapa?"
"Kakak mau punya anak lima."
"Ah.. lima kak? banyak sekali, dua saja ya."
"Nggak mau, kakak ingin lima."
"Dua."
__ADS_1
"Lima."
"Dua."
"Lima."
Satria membalikkan tubuh Tiara hingga terlentang, dengan menindih tangan Satria kembali bertamasya.
"Kakak mau lagi?" tanya Tiara.
"Iya sayang kakak mau lagi." jawab Satria.
****
Tiara membuang sampai di tempat sampah depan rumahnya, saat selesai menaruh dia kantung plastik sampah, tanpa sengaja Tiara melihat pria yang mengikutinya.
"Bukannya dia yang mengikuti saya, dia sudah tahu tempat tinggal saya. Sebenarnya dia siapa? sampai mengikuti saya." ucap Tiara lantas bergegas masuk ke dalam rumah.
Tiara dengan mengunci pintu rumahnya, sebelumnya mengunci pintu pagar. Dari balik jendela, Tiara melihat pria tersebut masih berdiri di seberang jalan.
"Siapa dia? kenapa mencurigakan sekali."ucap Tiara.
Satria sampai di rumahnya, melihat pintu gerbang terkunci, lantas dengan kunci cadangan Satria membukanya.
" Assalamu'alaikum Yank." ucap Satria mengucapkan salam.
Tok.. tok..
Ceklek
Tiara menoleh ke kanan dan kiri, melihat tidak ada pria yang mencurigakan itu. Satria masuk, dan Tiara mengunci pintu rumahnya lagi.
"Kamu kenapa sih dek? itu gerbang di kunci, pintu rumah di kunci." ucap Satria.
"Maaf kak, tadi ada pria itu lagi." ucap Tiara.
"Pria yang saya ceritakan itu kak." jawab Tiara.
"Apa yang dia mau? kalau niat maling dia pasti memaksa masuk. Mungkin, kamu punya dendam atau musuh?" tanya Satria.
"Tidak ada kak." jawab Tiara.
****
"Istri saya sedang di perhatikan oleh seorang pria, tapi apa motif dia seperti itu." ucap Satria pada Alam dan Firza.
"Jangan - jangan orang yang berniat merampok lagi, biasanya dia akan mengawasi terlebih dahulu sebelum mereka beraksi."ucap Firza.
"Nah bisa jadi itu." ucap Alam.
"Kalau mau niat merampok, tapi dia mengikuti istri saya loh." ucap Satria.
"Iya ya, tapi motifnya apa." ucap Alam
"Saya juga tidak paham." ucap. ucap Satria.
****
Kedua teman Satria datang ke kontrakannya, terlihat rumah tampak sepi. Alam dan Firza masuk kedalam rumah, dan duduk di ruang tamu.
"Istri kamu mana?" tanya Alam.
"Nggak tahu, mungkin sedang ke luar." jawab Satria.
"Kalian pada suka buah nggak?" tanya Satria menawarkan.
"Suka lah masa tidak suka." jawab Firza.
__ADS_1
"Ini istri saya, suka sekali buah. Macam - macam buah ada, kalau buahnya habis. Dia itu langsung beli, kadang saya yang suruh beli." ucap Satria membawakan buat apel, jeruk, anggur, pear dalam satu piring.
"Minumnya mana?" tanya Alam.
"Oh iya lupa, ntar ya saya ambil dulu." jawab Satria.
****
"Apalagi mba Tiara?" tanya pemilik warung.
"Gula pasir bu 1 kilo, sama tambah kopi satu renteng." jawab Tiara.
"Mba Tiara belanja ya." sapa Ibu Yati.
"Eh iya bu, belanja gula m kopi sama telor habis stok di rumah." ucap Tiara.
"Dulu sih, mba Nunik itu jarang belanja beginian, ya mungkin Pak Satria kan jarang di rumah. Kalau pulang, ya Pak Satria."
"Oh gitu ya." ucap Tiara.
"Waktu dulu sih, pertama kenal tak kira sudah menikah ternyata tunangan, tapi Pak Satria jarang pulang, kadang satu tahun itu bisa di hitung." ucap Ibu pemilik warung.
"Berapa bu totalnya?" tanya Tiara.
"80 ribu." jawab Ibu pemilik warung.
Tiara langsung pergi dengan membawa kekesalan, selalu mendengar ucapan para Ibu - ibu tentang masa lalu suaminya.
"Kesel banget, lagi - lagi masalah itu yang di bahas, tapi kata Ibu pemilik warung Kak Satria jarang pulang hanya setahun bisa di hitung. Tapi kata Ibu RT kemarin, ah mungkin ini sih atas nama saja gara - gara kontrakan, lama - lama nggak betah tinggal disini." ucap Tiara kesal.
***
Satria terus menatap ke arah pintu, menanti istrinya yang belum juga pulang. Bahkan yang lebih khawatir, Tiara tidak membawa ponsel.
"Kamu seperti anak kecil saja istri kamu itu, dia mungkin sedang main atau kemana."ucap Alam.
" Saya itu khawatir, saat dengar dari cerita dia ada pria yang sedang memperhatikan dia terus." ucap Satria.
"Pasang CCTV." ucap Firza.
"Iya ya, apa saya pasang saja." ucap Satria.
"Iya betul, pasang saja." ucap Alam.
Tiara melihat ada dua motor terparkir di halaman rumahnya, Tiara memperhatikan motor keduanya yang satu Tiara hafal milik siapa motor tersebut, namun dengan satu nya Tiara merasa asing.
"Sayang." ucap Satria berjalan menyambut Tiara.
"Ada tamu ya kak?" tanya Tiara.
"Iya, ada Alam dan Firza." jawab Satria.
"Belanja apa?"
"Beli gula, kopi sama telur. Semuanya habis, mau titip ke kakak, kelamaan jadi lebih baik jalan saja sendiri." ucap Tiara.
"Yaudah masuk yuk, Kakak kamu mengenalkan kamu Abdi Negara selebgram, pasti kamu tahu."
"Siapa sih? kan banyak selebgram Abdi Negara itu."
"Ya kamu lihat saja." ucap Satria merangkul pundak Tiara.
"Assalamu'alaikum." ucap Tiara mengucapkan salam.
"Walaikumsalam." jawab Alam dan Firza.
.
__ADS_1
.