Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Dia Itu Masa Lalu


__ADS_3

Tiara hadir di acara rutin kegiatan Ibu Persit, Tiara tampak akrab dengan ibu persit lainnya. Saat tak sengaja beralih pandang, Tiara menatap pria yang mengaku Satria Esa sedang menatapnya. Lantas dia segera mengalihkan pandangan, saat Satria ade datang menghampirinya.


"Sudah kan acara nya?" tanya Satria.


"Sudah." jawab Tiara.


"Kakak antar kamu pulang." ucap Satria.


"Kak, nanti pulangnya. Nggak enak ibu Wage masih ada, masa mau pulang duluan, yang lain masih pada kumpul."


"Kakak tidak mau kamu, disini lama - lama, kakak antar pulang sekarang."


"Iya, Kakak yang pamitan, saya malu kalau pamit sekarang."


"Ya, kita pamitan."


Tiara dan Satria berjalan untuk berpamitan pulang, dengan Ibu Wage yang masih mengobrol dengan ibu persit lainnya.


"Mohon ijin Ibu, maaf saya mau pamit sebentar, istri saya ada keperluan darurat." ucap Satria.


"Mohon ijin Ibu, saya minta maaf Bu, harus pamit duluan." ucap Tiara.


"Iya tidak apa - apa, acaranya kan sudah selesai, dan kalau memang ada halangan tidak apa - apa." ucap Ibu Wage.


"Terima kasih bu, kalau begitu kami pamit." ucap Satria.


"Iya." ucap Ibu Wage tersenyum.


Saat Tiara dan Satria berjalan bergandengan tangan, Satria Esa melihat keduanya begitu mesra. Satria Esa hanya bisa tersenyum kecut, ada rasa sakit di hati.


"Kamu sudah menerima Ade, dan benar melupakan saya."


Satria Esa lantas membalikkan tubuhnya, dan Alam sudah ada tepat didepan nya.


"Kamu." ucap Satria Esa.


"Saya perhatikan kamu, melihat ke arah Tiara, jangan katakan kamu ada sesuatu." ucap Alam.


"Jangan sok tahu ya, orang punya mata. Bebas mau larak lirik sana sini." ucap Satria Esa.


"Tapi lirikan kamu itu beda, dan saya perhatikan kamu sekarang jaga jarak sama Satria. Apa dugaan saya itu benar, kalau iya bisa ada perang dunia ketiga."


"Lebih baik, kamu jangan nyebar hoaks deh, jangan merubah suasana tenang jadi panas."


"Kalau memang tidak ada sesuatu, kamu di tanya gini gitu nadanya tidak seperti ini."


****


"Lagian kenapa sih kak, kan bisa pulang nanti." ucap Tiara.


"Kakak tidak ingin saja, kamu terganggu oleh seseorang." ucap Satria.


"Maksud kakak, Firza yang kata saya gangguin itu."


"Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Kakak tidak mengerti, mau dia apa."


"Kakak percaya sama dia?"


"Percaya apa?" tanya Satria.


"Tidak, tidak apa." jawab Tiara.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak mengatakan dek, kalau Firza itu Satria Esa. Kenapa kamu tidak katakan kalau dia pernah bilang seperti itu." ucap Satria dalam hati.


"Kak saya bingung kak, apa saya harus katakan kalau dia pernah mengaku sebagai Satria Esa." ucap Tiara dalam hati.


****


"Pak, saya minta sate kambing nya 20 tusuk." ucap Tiara


"Baik mba." ucap Penjual sate.


"Pak, saya 10 tusuk nanti bayar nya disatukan sama mba ini."


Tiara langsung menoleh ke arah pria itu, Tiara langsung duduk bergeser menjauh, saat ada Satria Esa. Entah perasaan Tiara begitu berbeda, rasa takut dan khawatir saat berada di sampingnya.


"Kamu mau sama lontongnya tidak?" ucapnya, tapi Tiara diam.


Satria Esa hanya tersenyum tipis, sambil melirik ke arah Tiara. Beberapa pembeli pergi, dan hanya sisa keduanya.


"Pak sate nya masih lama ya?" tanya Tiara.


"Sebentar lagi mba." jawab penjual sate.


"Saya boleh minta nomer telepon kamu?" ucap Satria Esa.


Tiara diam dan sesekali melongok kan kepalanya, melihat sate pesanannya yang terasa sangat lama.


"Mba Mas ini sate nya, totalnya 60 ribu Mas." ucap Penjual sate.


"Punya saya saja Pak, dia bayar sendiri." ucap Tiara.


"Kalau punya mba, 40 ribu." ucap penjual sate.


Tiara pun mengambil uang di dompetnya, dan saat akan membayar Satria Esa sudah membayarnya. Satria langsung pergi, dan Tiara mengejarnya.


"Ada apa?" ucapnya.


"Ini, bayar sate tadi." ucap Tiara sambil menyerahkan uangnya, namun Satria Esa tidak mengambilnya.


"Saya ikhlas."


"Tolong jangan ganggu kami, biarkan rumah tangga kami bahagia. Tolong kalau pun kamu memang masa lalu saya, tolong lupakan saya. Karena saya sudah menerima yang sekarang, saya tidak ingin menyakiti hati dia."


"Apa kamu masih menyimpan rasa itu? sehingga kamu seperti ini."


"Masalah hati, kamu tidak harus tahu. Kami sudah menganggap kamu itu telah lama mati, kamu bukan Satria Esa tapi kamu Firza. "


"Saya Satria Esa Tiara, saya bukan Firza."


"Maaf, saya harus segera pulang. Suami saya, sedang menunggu untuk makan malam." ucap Tiara lantas pergi.


****


Satria Esa tidak memakan sate yang di belinya, Satria Esa hanya menatap sate tersebut. Alam datang menghampiri, dan mengambil satu tusuk sate milik temannya itu.


"Kamu boleh cerita sama saya, siapa tahu saya bisa bantu kamu." ucap Alam.


"Saya cerita juga, tidak akan ada yang percaya. Yang ada saya di katakan gila, gara - gara wajah ini yang membuat semuanya berubah." ucap Satria Esa.


"Wajahnya kamu itu kenapa? terlalu tampan." ucap Alam dengan tersenyum.


****

__ADS_1


Satria mencari Tiara, sejak selesai makan malam bersama, Tiara langsung pergi. Satria melihat Tiara, sedang berada di teras depan rumahnya.


"Dek."


Praaakkk


Ponsel Tiara jauh karena kaget, dan langsung di ambilnya. Tiara tersenyum, dan Satria duduk di samping istrinya.


"Kamu kok kaget gitu, kamu melamun ya?" ucap Satria.


"Nggak kok, saya kaget saja." ucap Tiara.


"Kak, kalau rumah sakit Paradina Hospital itu, di daerah x itu jauh nggak dari Stasiun kota?" tanya Tiara.


"Kamu mau apa kesana?" tanya Satria.


"Itu teman ada yang dinas disana, dia sebagai dokter. Ngajak main, boleh ya saya main kesana." jawab Tiara.


"Nanti kalau kakak ada waktu, nanti kakak antar."


"Ah lama, saya sendirian saja."


"Memangnya kapan inginnya?"


"Lusa saya ingin berangkat, boleh ya sekalian reunian Inara juga ikut."


"Oh sama Inara? yaudah nggak apa - apa, tapi hati - hati. Nanti menginap atau pulang pergi?"


"Tergantung."


"Kalau sama Inara, kakak nggak khawatir tak kira betul sendirian."


****


"Kamu tumben main kesini, suami kamu tahu nggak?" tanya Inara.


"Nggak tahu, makannya dia pulang saya harus sudah sampai." jawab Tiara.


"Kamu mau? kita ke rumah sakit Paradina Hospital, kita berangkat besok."


"Hah.. itu kan jauh Tiara."


"Saya ingin memastikan, Firza itu apa benar Satria Esa. Nama selebgram Firza pernah dirawat lama disana, saya ingin dari tahu tentang kebenarannya."ucap Tiara.


" Tapi memang benar dia Satria Esa, kita tinggal tes DNA saja buat apa kita jauh - jauh kesana."


"Suami saya nggak akan mau, dan orang tuanya juga karena ini jelas pembohongan."


"Dia itu tidak bohong, itu benar. Dia hanya kembali hidup, dengan wajah orang lain."


"Saya hanya ingin tahu, faktanya kalau dia memang Firza."


"Dia memang Satria, walau awalnya saya tidak percaya. Dia itu cinta pertama kamu, dia kembali. Doa kamu terkabul, karena kalian itu memang ditakdirkan untuk bertemu lagi, walau kalian tidak mungkin bersatu."


"Kalau memang benar itu dia, jujur hati saya senang. Tapi walau masih ada cinta, saya tidak akan mungkin meninggalkan suami saya. Dia pun sama mencintai saya, mungkin suami saya sudah tahu hanya dia diam tidak mau menceritakan hal yang tidak penting."


"Dia hanya ingin, orang tahu kalau dia belum meninggal dunia."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2