Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Cinta Sejati Sampai Akhir


__ADS_3

Satria Esa telah kembali, dari pelatihan. Dirinya langsung pergi ke rumah sakit, untuk bertemu Tiara. Rasa rindu, yang teramat sangat, tidak bisa di bendung lagi membuat dirinya tidak ingin menunda - nunda.


"Sayang! " Satria Esa membuka pintu kamar Tiara, tetapi Tiara tidak ada di kamarnya.


Lantas Satria Esa mencari Tiara di taman, namun tidak ada. Hingga dirinya mencari di setiap koridor rumah sakit.


"Dokter! " panggil Satria Esa pada dokter yang menangani Tiara.


"Tiara kemana ya? kok saya cari tidak ada!" tanya Satria.


"Bapak belum tahu! " jawabnya.


"Ada apa ya?" tanya Satria Esa


"Tiara masuk rumah sakit, sudah 3 hari di rawat disana." jawab dokter.


"Kenapa dok? sakit apa!" ucap Satria Esa kaget.


"Percobaan bunuh diri."


"Rumah sakit mana?"


"Harapan Medica, dia masih di ruang ICU."


"Terima kasih dok."


Satria Esa langsung bergegas, pergi ke rumah sakit dimana Tiara di rawat, Tiara di bawa ke rumah sakit besar karena luka yang sangat serius.


"Ya Allah Tiara, kamu kenapa bisa sampai melakukan hal bodoh."


****


"Ayah Ibu. " panggil Satria Esa, berlari dan Bunda Lidia serta Pak Aji pun, ada di sana.


"Nak."ucap Ibu Retno.


" Kalian kenapa, tidak memberitahu saya? kalau Tiara seperti ini!"ucap Satria Esa.


"Maafkan kami nak, karena kami tidak ingin kamu disana kenapa - napa."ucap Pak Aji.


"Jelas tidak di beritahu, saya marah dan saya kecewa disaat Tiara kritis begini kalian diam. Sekarang mana Tiara? " ucap Satria Esa, dengan lantang.


"Nak, Tiara ada didalam, sudah 3 hari dia koma. Kami hanya bisa pasrah, melihat kondisinya." ucap Bunda Lidia.


Satria Esa masuk kedalam kamar ICU, terlihat Tiara masih berbaring di atas tempat tidur, dengan alat yang terpasang di tubuhnya.


"Ya Allah Dek, kamu kenapa seperti ini? kenapa kamu lakukan itu Dek, Kakak bilang tolong tunggu kakak." ucap Satria Esa.


"Dokter masih mantau janinnya, dan berkembang baik, karena dokter memberikan asupan dari selang yang terpasang." ucap Satria Esa.


"Ya Allah Tiara, kakak pulang dek, kamu bangun." ucap Satria Esa.


"Tante sudah pasrah dan ikhlas kalau memang Tiara harus pergi, kami semua sudah Ikhlas. Hiks.. hiks... hiks.. " ucap Bunda Lidia.


"Dek, bangun Dek. Ini kakak, kamu harus bangun. Kakak pulang dek, dan apalagi sebentar lagi, kamu akan melahirkan." ucap Satria Esa.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Bangun Dek, bangun! "


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kakak mencintai kamu, kakak sayang sama kamu. Tolong jangan tinggalkan kakak dek, tolong hiks.. hiks.. "


Sebuah gerakan jari, dirasakan oleh Satria Esa. Satria lantas menatap Tiara, dan melihat jarinya bergerak.


"Tiara!" ucap Satria Esa.


"Tante, Tiara menggerakkan jarinya." ucap Satria Esa.


Binda Lidia melihatnya, gerakan jari tangan membuat semuanya tersenyum menunggu Tiara membuka kedua matanya.


"Nak, Esa datang nak. Dia sudah pulang, kamu lihat dia." ucap Bunda Lidia.


Tiara perlahan membuka kedua matanya, dengan cahaya yang masih silau, membuat Tiara belum terbuka sempurna.


"Sayang, ini kakak." ucap Satria Esa.


Tiara menatap Satria Esa perlahan tersenyum, dengan air mata keluar dari kedua sudut matanya.


"Kakak pulang, kakak janji tidak akan tinggalkan kamu lagi."


Tiara perlahan mengangkat tangannya yang masih lemas, dan Satria Esa langsung memegang tangan Tiara.


"Maafkan kakak ya, kakak pergi meninggalkan kamu."


Dokter pun lantas masuk, setelah Bunda Lidia memanggil dokter untuk mengecek , kondisi Tiara.

__ADS_1


Tiara lantas tiba - tiba Mengejan, dan dokter langsung memeriksa kondisi Tiara. Semuanya panik, melihat kondisi Tiara seperti itu.


"Sepertinya pasien kontraksi, bayi nya akan lahir, kita harus melakukan cesar." ucap dokter.


"Lakukanlah dok, selamatkan cucu kami." ucap Bunda Lidia.


****


"Ya Allah, semoga anak Tiara lahir selamat, dia sadar langsung kontraksi." ucap Pak Agus.


Satria Esa bersandar di tembok, sambil duduk berjongkok memegang kepalanya yang sedikit penat. Pak Aji, lantas mendekati putranya.


"Kamu harus kuat Esa."ucap Pak Aji.


"Saya janji Yah, kalau semuanya selamat, Tiara sembuh saya akan menikah dengannya. Saya janji, tidak akan meninggalkan dia lagi. Saya janji akan selalu ada buat dia." ucap Satria Esa.


"Kita semua sama, tidak ingin kehilangan dia."


"Tolong suaminya mana?" tanya dokter saat keluar.


"Suaminya sudah meninggal dunia dok." ucap Pak Agus.


Satria Esa berdiri dan mendekat ke dokter tersebut, dengan rasa cemas dan penuh tanda tanya.


"Saya calon suaminya, kenapa dok?" ucap Satria Esa kembali bertanya.


"Operasi Cesar sudah selesai, dan bayinya berhasil diselamatkan. Dia akan dipindahkan ke kamarnya lagi, namun pasien seperti ingin mengatakan sesuatu dan dia ingin bertemu dengan yang bernama Esa.


"Itu saya dok." ucapnya.


"Mari ikut saya."


Satria Esa mengikuti langkah dokter, untuk masuk ke sebuah ruangan dimana pasien sebelum di bawa ke kamar rawat, pasien di letakkan di sebuah ruangan khusus setelah operasi.


"Mendekat Pak." ucap dokter.


"Dek, anak kamu sudah lahir." ucap Satria Esa.


"Kak, ka - mu jahat."ucap Tiara.


" Maafkan kakak dek, kakak janji tidak akan pergi meninggalkan kamu lagi." ucap Satria Esa.


"Sa - saya mencintai kakak."ucap Tiara terbata.


" Sama kakak juga dek, kakak mencintai kamu juga."


Hiks.. hiks.. hiks..


Satria Esa terisak menangis, tak kuasa mendengar ucapan Tiara. Terlihat Tiara pun mengeluarkan air mata, lantas tangannya yang lemah, berusaha menghapus air matanya.


"Te - terima kasih untuk cinta, terima kasih untuk cinta, yang sesaat. Sa - saya harus menyusul Kak Ade, cukup kisah kita sampai disini. Jembatan Merah, 16 febuari akan selalu kakak ingat." ucap Tiara dengan nafas yang terlihat sangat sulit.


"Iya, kakak akan selalu ingat."


Suster memperlihatkan bayi mungil perempuan yang di lahir kan Tiara, suster mendekatkannya, dan Tiara mencoba mencium pipi putrinya.


"Cantiknya Ibu, Ayah Ibu akan menunggu kamu, disana nak. Maafkan Ibu nak, Ibu akan menyusul Ayah, kami akan selalu ada di hati kamu." ucap Tiara terbata.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Mas, lihat saya."


Satria Esa mengangkat wajahnya, menatap Tiara. Wanita yang di cintainya tersenyum, dengan tangan masih menggenggam tangan Satria Esa.


"Tuntun saya."


Satria Esa mendekatkan bibirnya di telinga Tiara, dengan kuat menarik nafas dan sudah terasa tangan Tiara yang dingin.


"laa ilaha illallah." ucap Satria Esa menuntun.


"laa ilaha illallah. " ucap Tiara, lantas menutup kedua matanya, dan tangannya terlepas dari genggaman Satria Esa.


Hiks.. hiks... hiks..


Di luar Bunda Lidia dan Ibu Retno menangis, saat mendengar kabar Tiara meninggal dunia. Pak Agus pun tidak bisa membendung air matanya. Pak Aji langsung memeluk putra nya, saat keluar bersama Jenazah Tiara.


"Tiara... hiks... hiks...!!! " teriak Bunda Lidia.


*****


Tiara di makam kan di samping makam Satria Ade, semu keluarga merasakan sangat kehilangan. Bunda Lidia yang selalu pingsan, langsung di larikan ke rumah sakit, setelah acara pemakaman selesai.


"Kalian kini sudah bahagia, cinta kalian tidak bisa terpisahkan hingga di keabadian. Terima kasih Tiara, kamu sudah pernah singgah di hidup saya, walau hanya sesaat tapi akan selalu di ingat. " ucap Satria Esa.


"Tepat 16 febuari, tanggal keramat. Penuh dengan cerita, kita jadian, kamu menikah dengan Ade, kamu pun pergi dari dunia ini pada tanggal 16 febuari. Sampai bertemu, di kehidupan mendatang. Semoga kita, bisa bersama seperti di dunia. De kamu disana tidak sendiri, ada bidadari kamu yang sudah datang, surga untuk kalian berdua, bahagia selalu disana untuk tetap bersama." ucap Satria Esa lantas pergi, meninggalkan makam.


****

__ADS_1


Satria Esa melemparkan buket bunga ke sungai yang sedang deras, buket bunga mawar itu hanyut terbawa arus sungai hingga cepat menghilang.


"Semuanya telah menjadi kenangan, kisah ini akan saya tutup rapat. Dalam hati, yang paling dalam ada nama kalian yang akan tetap di kenang. Selamat jalan, kalian membawa pergi dengan cinta yang begitu indah."


Satria Esa berjalan untuk naik ke atas motornya, dan pergi meninggalkan jembatan Merah.


Namun saat melihat dari kaca spion, Satria Esa melihat sosok memakai pakaian putih, melambaikan tangan dengan tersenyum. Motor pun berhenti mendadak, Satria Esa menoleh ke belakang namun tidak ada siapa - siapa. Lantas Satria Esa tersenyum, dan melanjutkan perjalanannya.


****


5 Tahun Kemudian


"Amora, ayo keluar nak. Nenek sama kakek sudah datang, hari ini kan kamu ulang tahun." ucap Bunda Lidia.


"Amora sayang, Nenek sama kakek bawakan kamu hadiah nak, ayo keluar." ucap Ibu Retno.


Ceklek


Dengan wajah cemberut, Amora menatap kedua Neneknya. Lantas berjalan ke luar, dan hanya melihat dua kakeknya yang sedang memasang balon.


"Ayah belum datang kan? Ayah tidak akan datang lagi. Seperti ulang tahun kemarin, hanya kado yang datang. " ucap Amora kesal.


"Ayah pasti datang, tunggu saja."ucap Pak Aji.


" Bohong, kakek selalu bilang begitu, tapi nyatanya Ayah tidak datang."


"Amora, Ayah kan tugasnya jauh sayang, tapi dia tidak akan lupa sama ulang tahun Amora, buktinya ini Ayah selalu siapkan ulang tahun untuk Amora." ucap Pak Agus.


"Nggak mau, ingin Ayah datang." ucap Amora lantas lari masuk kedalam kamarnya.


"Amora...! " panggil Satria Esa, yang baru tiba dengan menggendong tas ranselnya.


Lantas tas ranselnya di taruh, dan berjalan ke arah kamar Amora. Namun Satria Esa bersalaman terlebih dahulu, pada kedua orang tuanya dan Bunda Lidia serta Pak Agus.


"Amora marah, kamu rayu dia." ucap Ibu Retno.


Tok... tok.. tok..


"Amora keluar dong, Ayah pulang nih." ucap Satria Esa sambil mengetuk pintu kamar.


Tok.. tok..


"Nggak mau keluar ya, yaudah Ayah pulang lagi." ucap Satria Esa.


Ceklek


"Ayah.. !! " teriak Amora langsung memeluk tubuh Ayah angkatnya.


"Ayah jahat! "


"Iya, maaf ya. Tapi sekarang Ayah sudah pulang, sesuai janji Ayah pulang di hari ulang tahun Amora."


"Ayah bawa apa?" tanya Amora, yang sedang di gendong Satria Esa.


"Ayah bawa apa! nggak bawa apa - apa." jawab Satria Esa, lantas Amora cemberut.


"Bohong, Ayah bawa kado buat Amora." ucap Satria Esa, dan membuat Amora langsung tersenyum.


Satria Esa menurunkan Amora, dan membuka tasnya lantas memberikan sebuah kado untuk Amora.


"Taraaa... " ucap Satria Esa memberikan pada putri angkat nya.


"Makasih Ayah..! " ucap Amora dengan mencium pipi Ayah angkatnya.


Amora membuka kadonya, sebuah bola lampu yang terdapat musik dan menyala, didalamnya terdapat hiasan boneka gadis kecil dan pria dewasa berdansa.


"Ini Amora sama Ayah ya?" tunjuk Amora.


Satria Esa menganggukkan kepalanya, lantas Amora kembali memeluk Ayah angkatnya.


"Amora sayang Ayah."


"Sama Ayah juga, sayang Amora."


****


"Tiara Esa, hari ini saya datang bersama Amora. Dia ulang tahun yang ke 5 tahun, tak terasa anak kalian itu sudah besar, dan pintar. Wajahnya mirip kamu De, cerewetnya mirip Ibunya. Dia semakin pintar, dan sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Saya janji, akan menjaga dia, seperti dulu saya berjanji pada kamu Tiara."


"Ibu Ayah, Amora kangen sama kalian. Tapi Amora senang, malam tadi Ayah dan Ibu datang dalam mimpi, mengucapkan selamat ulang tahun. I love you Ibu Ayah." ucap Amora memeluk dua nisan yang berdekatan.


Satria Esa tersenyum, sebuah kenangan indah yang dititipkan padanya tumbuh bahagia, rasa sayang begitu besar seperti rasa sayang pada Tiara dan saudara kembarnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2