Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Kita Saudara


__ADS_3

"Dek, kamu harus hubungi orang yang kamu temui kemarin." ucap Satria Ade.


"Maksudnya? Pak Latif!" ucap Tiara.


"Benar, karena Esa sudah kakak pertemukan dengan Ayah dan Ibu, tapi Ayah dan Ibu meminta untuk tes DNA." ucap Satria Ade.


"Nanti saya hubungi Pak Latif, dia juga pernah bilang akan membantu proses pengembalian nama Kak Esa." ucap Tiara.


"Dek, maafkan kakak ya! kalau kemarin sempat cemburu, dan tidak memikirkan pernikahan."


"Tidak apa - apa kak, saya paham kenapa kakak seperti itu. Saya yang seharusnya minyak maaf, karena saya tidak ada persetujuan dari kakak. Memang cara berpisahnya saya dan kak Esa seperti ini, pantas kalau kakak sempat menyerah, sekarang kakak harus percaya, jangan cemburu sama kak Esa." ucap Davina.


"Iya de."


****


Satria Esa selesai menjalankan ibadah shalat Dzuhur, setelah selesai shalat dan berdoa, Satria Esa memilih tetap duduk di dalam masjid. Satria Ade menghampiri saudara kembarnya, dan duduk bersebelahan.


"Maaf ya." ucap Satria Ade.


Satria Esa menoleh ke arah saudara kembarnya, melihat mengajak bersalaman. Satria Esa tersenyum, lantas bersalaman.


"Maafkan saya juga." ucap Satria Esa.


"Saya percaya, kalau kamu itu saudara kembar saya. Tanpa tes DNA pun, saya yakin kamu itu Esa."


"Terima kasih, kamu sudah mau percaya."


"Untuk Tiara, maafkan saya." ucap Satria Ade.


"Tolong jaga dia, jangan sakiti dia." pesan Satria Esa.


"Iya, saya janji akan jaga dia." ucap Satria Ade.


"Tiara itu wanita yang ceria, pertama kenal dia sangat lucu, selalu tersenyum, tidak pernah sedih,karena dia pandai menyembunyikannya. Dia itu, wanita baik - baik, berbeda dengan wanita lain. Setianya dia, membuktikan bahwa cintanya akan selalu ada untuk satu orang, sampai akhir hidupnya. Jaga dia, selalu buat dia tersenyum, jangan sakiti hatinya."


"Iya, saya janji."


****


"Assalamu'alaikum Pak." sapa Tiara, melalui sambungan teleponnya.


"Walaikumsalam, maaf siapa ya?" tanya Pak Latif dari seberang.


"Bapak Maaf, ini saya Tiara. Yang kemarin datang ke rumah, tanya tentang Firza." jawab Davina.


"Oh iya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Latif dari seberang.


"Pak maaf, bisakah Bapak, datang ke sini, untuk menjelaskan dan membuktikan kalau Satria Esa itu masih hidup?"


"Bisa mba, kapan saya kesana?"


"Nanti akan ada orang yang jemput Pak Latif."


"Iya mba, itu kapan?"


"Besok Pak bisa?"

__ADS_1


"Insya Allah bisa."


"Terima kasih Pak."


"Sama - sama."


Setelah menelepon Pak Latif, Tiara langsung menghampiri suaminya, yang sedang duduk di sofa keluarga sambil menonton televisi.


"Gimana Dek? bisa! " tanya Satria Ade.


"Bisa kak, nanti kakak yang jemput?" jawab Tiara kembali bertanya.


"Sama Esa." ucap Satria Ade.


Tok.. tok.


"Kak, tamu tuh." ucap Tiara.


"Oh iya, nanti kakak bukakan pintu dulu." ucap Satria Ade.


"Siapa kak? malam - malam begini! kakak janjian sama teman?"


"Nanti juga kamu tahu."


Satria Ade membukakan pintu, Satria Esa tersenyum saat saudara kembarnya yang membukakan pintu. Tiara mengintip, tamu yang datang saudara kembarnya.


"Saya kira kamu datang besok." ucap Satria Ade.


"Saya tadinya ingin ke rumah Ibu sama Ayah, tapi saya pikir lagi. Mereka pasti belum siap, makannya saya memutuskan kesini saja." ucap Satria Esa.


"Kamu duduk dekat kakak, kamu disini saja." ucap. Satria Ade.


Satria Esa hanya menundukkan kepalanya, saat Tiara duduk di depannya, Satria Ade memegang tangan Tiara, didepan saudara kembarnya.


"Dek, malam ini. Esa tidur disini. Kamu nanti siapkan kamar untuk dia, besok pagi kita berdua akan berangkat kesana."


"Iya Kak." ucap Tiara, yang tidak berani menatap Satria Esa.


"Esa, setelah masalah kamu selesai. Kami akan pindah ke rumah yang baru, ini hanya rumah ngontrak."


"Alhamdulillah ngontrak, dari pada tidak punya tempat tinggal."


"Kak, saya siapkan kamar untuk Kak Esa." ucap Tiara mencoba menghindar.


"Iya, kamu siapkan."


Tiara lantas bergegas masuk ke kamar satunya lagi, menyiapkan tempat tidur untuk Satria Esa.


***


"Kamu santai saja, anggap rumah sendiri. Kita kan saudara, kalau lapar ke dapur saja. Banyak stok makanan, tinggal pilih." ucap Satria Ade.


"Iya makasih." ucap Satria Esa.


Satria Ade lantas masuk kedalam kamar, terlihat Tiara sudah terlelap tidur, dengan perlahan Satria Ade memeluk tubuh Tiara.


Dalam kamar, Satria Esa tidak bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya kemana - mana, apalagi saat mendengar suara jeritan kecil, yang keluar dari mulut Tiara.

__ADS_1


Satria Esa mencoba menutup telinganya dengan bantal, namun samar - samar masih terdengar, hingga akhirnya Satria Esa menggunakan headphone miliknya, dengan menghidupkan musik.


***


"Kak, kok belum tidur?" tanya Tiara saat mendapati Satria Esa ada di dapur yang sedang membuat kopi.


"Maaf dek, kakak lancang ambil kopi." jawab Satria Esa.


"Santai saja kak, kenapa tidak bisa tidur?"


"Nggak tahu, kenapa tidak bisa tidur."


"Seperti saya, kalau tidak bisa tidur larinya makan, kalau tidak begitu yang tidak tidur - tidur. Perut kenyang sambil menonton televisi, tahu - tahu ketiduran pagi bangun, TV masih nyala."


"Dek, kamu bahagia ya sama Ade?"


"Iya Kak, saya bahagia."


"Alhamdulillah, kakak senang dengarnya."


"Terima kasih Kak, semoga kakak akan mendapatkan jodoh."


"Amin dek, makasih doanya."


"Iya kak, sama - sama."


"Dek, kamu sudah buang semua kenangan kita kan? Kakak tolong, hapus memori itu."


"Sebelum kakak meminta, saya sudah membuangnya, kakak tenang saja."


"Terima kasih dek kakak lega."


"Tapi saya tahu, kakak belum sepenuhnya membuang memori itu."


"Tolong jangan memaksa, karena kakak butuh proses."


"Saya paham kak, saya mengerti."


"Kalau gitu, saya kembali kedalam kamar."


"Iya dek."


*****


"Hari ini Ade dan anak itu pergi ke tempat orang itu, dia akan menceritakan kronologi kejadiannya, tapi kita tetap tes DNA." ucap Pak Aji.


"Tapi Yah, saya yakin dia tidak bohong." ucap Ibu Retno.


"Ibu jangan terpengaruh oleh wajahnya, ingat bu orang jahat lebih pintar dari kita." ucap Pak Aji.


"Kalau jelas terbukti, Ayah gimana?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2