
"Hasilnya akan kami hubungi." ucap dokter, setelah melakukan tes DNA.
"Terima kasih dok, semoga hasilnya sesuai yang di harapkan." ucap Pak Aji.
"Amin, kalau begitu saya permisi." ucap Pak dokter.
"Esa, bagi Ibu kamu adalah Esa. Karena Ibu Yakin, Kamu itu anak Ayah dan ibu." ucap Ibu Retno.
"Terima kasih Bu, Ayah." ucap Satria Esa.
"Ayah Ibu." sapa Satria Ade.
"Kamu dari mana? sama Tiara baru lihat!" ucap Pak Aji.
"Ada berita bahagia, buat Ayah dan Ibu." ucap Satria Esa.
"Berita apa?" tanya Ibu Retno.
"Alhamdulillah, saya mau jadi bapak." jawab Satria Ade.
"Alhamdulillah." ucap Pak Aji dan Ibu Retno.
Satria Esa tersenyum tipis sambil menatap ke arah Tiara dan saudara kembarnya. Ibu Retno, lantas memeluk tubuh Tiara.
"Selamat nak."
"Terima kasih Bu." ucap Tiara.
"Selamat ya, semoga lancar sampai melahirkan." ucap Satria Esa.
"Terima kasih Kak." ucap Tiara.
****
Satria Esa berada di jembatan merah, air matanya terus lolos sambil menatap air sungai yang deras.
Inara hanya diam, membiarkan mantan kekasih sahabatnya mengeluarkan semua masalah di dalam dada.
"Kak, apa sudah enak?" tanya Inara.
"Iya, ini lega banget." jawab Satria Esa.
"Tiara hamil, berarti dia bahagia."
"Iya, dia bahagia. Kakak tahu itu, jembatan ini telah menjadi saksi cerita cinta saya dengan Tiara, semuanya tinggal kenangan. Saya tidak akan pernah lagi, untuk datang ke jembatan Merah. Bila ingat, sedih rasanya. Setia pulang sekolah dia lewat kesini, saya duduk di situ tepat kamu berdiri. Jembatan Merah penuh kenangan, saya harus melupakan, dan saya tidak akan pernah menginjakkan kaki disini lagi."
"Semoga kakak mendapatkan pengganti Tiara."
"Iya, terima kasih untuk doa nya." ucap Satria Esa.
"Setelah hasil tes DNA keluar, saya akan melaporkan diri siapa saya, menghidupkan nama saya yang telah mati. Dan mengembalikan Jenazah yang di kira itu saya, pada keluarganya. Setelah itu, saya akan pergi. "
__ADS_1
"Kakak mau pergi kemana?"
"Pergi melupakan kenangan."
****
"Akhirnya kamu ada dalam perut Bunda sayang." ucap Satria Ade, dengan mengusap perut Tiara.
"Ini hadiah terindah, sangat indah. Semoga kelak, kamu akan menjadi anak yang sholeh sholehah." ucap Tiara sambil mengusap perut nya.
Muach
Satria Ade mencium perut Tiara, bahkan memeluk bagai guling, Tiara membelai rambut, suaminya hingga terlihat lama - lama tertidur.
****
"Kamu bermalam lah disini nak, Ibu ingin setiap seminggu sekali, kamu pulang." ucap Ibu Retno melalui sambungan teleponnya.
"Insya Allah Bu, saya usahakan."
"Esa, perasaan kamu bagaimana?"
"Sudahlah Bu, jangan bahas itu lagi. Ibu sama Ayah sedang apa?" ucap Satria Esa mengalihkan pembicaraan.
"Ibu sama Ayah, sedang santai saja."
****
"Kak." panggil Tiara.
"Saya ingin makan buah mangga."
"Nanti kakak cari ya, mau mangga muda atau yang matang?"
"Mangga muda, tapi mau mangga ambil di rumah Inara." ucap Tiara.
"Nanti ya, kalau hari minggu. Sekarang baru hari rabu, kita sekalian main ke rumah Ayah Ibu." ucap Satria Ade.
"Maunya sekarang kak, bukan minggu." ucap Tiara kesal.
"Ya sabar dek, sekarang Kakak dinas."
"Maunya sekarang Kak."
"Berangkat sendiri saja ya."
"Nggak mau Kak, saya maunya sama Kakak, terus Kakak yang manjat itu pohon mangga." ucap Tiara.
"Tapi dek, Kakak kan harus dinas."
"Pulang dinas, kalau nggak mau, anak Kakak keluar air liur terus?"
__ADS_1
"Iya ya, nanti kita kesana."
****
"Mau tanya, kalau ngidam tidak kesampaian itu anaknya keluar air liur terus ya?" tanya Satria Ade.
"Ya begitu mitosnya, memang istri kamu lagi ngidam apa?" tanya Fuji.
"Minta mangga muda, tapi ambilnya di kampung dia tapi milik sahabatnya Inara. Kata saya nanti, hari minggu, eh mau hari ini dan saya yang harus manjat pohonnya." ucap Satria Ade.
"Sudah turuti saja, lagian deket gitu." ucap Fuji.
"Ya memang harus." ucap Farhan yang tiba - tiba datang.
"Main nyosor aja kamu." celetuk Fuji, dan di senyumin oleh Farhan.
****
"Yang banyak Kak." teriak Tiara dari bawah.
"Dek, banyak semut! Kakak sudah nggak tahan." ucap Satria Ade dari atas pohon.
"Nggak mau, satu lagi tuh yang diatas."
Suaminya pun menurut, dan naik lebih tinggi lagi, lantas di lempar ke arah kain, yang sudah di bentangkan dengan tali, yang mengikat di antara pohon.
"Mangganya jangan di habiskan kak, nanti saya kena omel Bapak." ucap Inara.
"Aduh pelit amat sih, bayar ini." ucap Tiara.
"Heheee angkut lah." ucap Inara.
Suaminya turun dari atas pohon mangga, namun Satria Esa merasakan gatal - gatal di sekujur tubuhnya.
"Inara, punya bedak atau apa, ini pada gatal - gatal." ucap Satria Esa.
"Mandi saja kak, percuma pakai bedak sih. Nanti tetap gatal, mandi baru kasih bedak. " ucap Inara.
"Maaf ya Inara." ucap Satria Esa.
"Santai saja kak." ucap Inara sedang membuat sambal rujak.
"Mantap say, jadi saya ingin makan langsung sekarang, mmmmm enak banget." ucap Tiara.
"Boleh saya cerita?" tanya Inara.
"Boleh tentang apa?" jawab Tiara kembali bertanya."
"Kemarin kak Esa, sama saya di jembatan Merah. Dia bilang, tidak Kan pernah lagi datang ke jembatan merah."
"Dia sudah memutuskan, tidak ada lagi.
__ADS_1
.
.