Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Rasa Cemas


__ADS_3

Tiara merasakan panik, dan seolah mencari pria yang biasa hadir di sisinya. Tiara berlari di Koridor rumah sakit, mencari pria yang selalu menghiburnya, dan membawanya jalan - jalan ke taman.


"Kak, kamu dimana? jangan bilang kamu pergi, meninggalkan saya." ucap Tiara yang sudah tampak cemas.


Tiara berlari kesana kemari, hingga rasa panik itu timbul. Tiara menangis, sambil memegang perutnya yang sudah besar.


"Hiks.. hiks.. kakak, kakak pergi lagi. Kakak pergi lagi tinggalkan saya sama calon anak dalam perut."


Tiara berjalan cepat menunggu di taman, sambil duduk ditempat biasa mereka duduk. Hari sudah mulai siang, tapi tidak ada tanda - tanda Satria Esa datang.


"Kamu biasanya setiap hari kesini kak, sekarang hari sudah terlalu siang. Sebelum berangkat, kakak selalu kesini, tapi sekarang kakak tidak datang."


"Tiara!" sapa Bunda Lidia, yang datang bersama Pak Agus.


"Kamu kenapa disini?" tanya Bunda Lidia.


"Kamu sendirian saja, kita ke kamar yuk." ajak Pak Agus.


"Mana kak Esa! "tanya Tiara.


" Dia kan sedang ada tugas, apa kamu lupa?" jawab Bunda Lidia.


"Tugas! dimana?" tanya Tiara.


"Sedang latihan di hutan, nanti juga pulang." jawab Pak Agus.


"Latihan!" ucap Tiara mengingat.


"Kamu sudah ingat?" tanya Bunda Lidia.


Tiara tersenyum dan mengangguk kepalanya, Pak Agus membelai rambut putrinya, begitu juga Bunda Lidia, yang tampak melihat sedih.


"Bunda bawa apa?" tanya Tiara.


"Ini, ada manisan. Kamu pasti suka!" jawab Bunda Lidia menunjukkan manisan ciremai.


"Wah.. saya suka Bunda." ucap Tiara, lantas langsung memakannya.


Bunda Lidia meneteskan air matanya, sambil memegang tangan Pak Agus. Air mata tak terasa menetes membasahi kedua pipinya, dan Pah Agus mengusap punggung istrinya.


"Bunda kok menangis! kenapa?" tanya Tiara.


"Bunda, kemasukan sesuatu nak." jawab Pak Agus.


"Oh, saya kira kenapa." ucap Tiara sambil memakan manisan ciremai.


"Habiskan Nak, kalau kamu suka. Nanti Bunda bawakan lagi, enak kan?" ucap Bunda Lidia sambil terisak.


"Enak Bunda, enak banget."


"Syukurlah kalau enak." ucap Bunda Lidia.


Sedangkan Pak Agus membuat video, lantas mengirimkan pada Satria Esa. Tiara tersenyum saat Pak Agus merekamnya.


***


Satria Esa, baru selesai latihan. Melihat ponselnya tidak ada sinyal, lantas mencari tempat dimana ada sinyal, tapi tidak ada.


"Kenapa?" tanya Alam.

__ADS_1


"Susah ya, dari pertama datang tidak ada sinyal satupun." jawab Satria Esa.


"Bang, sinyal dibawah sana bagus. Disini malah hilang, ada lagi disana dekat jurang itu full." ucap Edo.


"Iya nanti saja, kalau kita cari air." ucap Satria Esa.


Tiara memeluk bantal gulingnya, di temani Bunda Lidia dan Pak Agus. Tiara mulai kembali termenung, dengan menatap kosong.


"Kamu kenapa? sedang mikirin apa!" ucap Bunda Lidia.


"Kangen Kak Esa, dia belum pulang." ucap Tiara.


"Sabar nak, nanti juga pulang." ucap Pak Agus.


"Saya takut, takut dia pergi seperti Kak Ade selamanya." ucap Tiara.


"Tidak nak, hilangkan rasa takut kamu ya."


"Jam 5 sore. " ucap Tiara.


"Ayah Bunda, sudah lebih dari jamnya. Pasti terjadi sesuatu pada Kak Esa, jangan - jangan seperti kak Ade." ucap Tiara kembali.


"Nak, tadi Ayah bilang apa? Esa sedang latihan di hutan."ucap Pak Agus.


"Latihan! " ucap Tiara kembali tenang.


"Iya, latihan! kamu jangan khawatir ya." ucap Pak Agus menenangkan Tiara.


***


Satria Esa tersenyum, saat melihat kiriman video dari Pak Agus. Tangannya meraba layar ponsel, tepat di wajah Tiara.


"I love you."


Sedangkan Tiara tertidur, namun tidurnya yang tidak nyenyak. Keringat membasahi tubuhnya, dengan tubuh yang bergetar.


"Kak.. jangan pergi!" teriak Tiara saat melihat Satria Esa pergi bersama saudara kembarnya.


"Kak.., kakak.. hiks.. hiks.. jangan pergi tinggalkan saya, hiks.. hiks.. "


Kedua saudara kembar itu, tidak menoleh ke belakang dan tidak memperdulikan Tiara yang berlari mengejar. Seakan tak bisa di gapai, hanya rasa lelah yang Tiara rasakan.


"Kak... jangan tinggalkan saya.. !! "


"Kak..!! " Tiara terbangun dari tidurnya, dengan nafas yang naik turun.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kalian kenapa pergi! hiks.. hiks.. saya sendirian, hiks.. hiks... " Tiara menangis.


Lantas Tiara turun dari atas tempat tidur, dan berjalan ke arah pintu kamar. Namun pintu kamar terkunci, dan Tiara membuka gorden kamarnya terlihat sepi di lorong nya.


"Saya harus bertemu Kak Esa, dia tidak boleh pergi meninggalkan saya."ucap Tiara.


Brok..brok..


" Buka..!! "


Brok.. brok..

__ADS_1


"Buka..!! "


"Tolong buka, tolong saya harus bertemu Kak Esa. "


Aaaaarrggghhh


"Jangan pergi tinggalkan saya kak, jangan..!! "


Tiara mundur dari arah pintu, dan berjalan menghadap ke arah tembok, Tiara tersenyum sambil menatap tembok itu.


"Kalian pergi lagi, pergi untuk selamanya. Saya harus menyusul kalian, saya tidak mau sendirian disini."


Tiara menghantam kan kepalanya ke tembok berkali - kali, hingga saat ada perawat lewat mendengar seperti suara pukulan yang sangat keras.


"Bunyi apa itu?" ucapnya sambil mencari sumber bunyi tersebut.


Suara bunyi benda yang di pukul, tampak di kamar pasien nomer 34 dan segera membuka pintu tersebut yang hanya sebuah gembok di gantungkan.


"Hey.. hentikan! " teriaknya saat melihat Tiara memukul kan kepalanya ditembok, hingga darah mengalir banyak.


Perawat tersebut, segera memencet tombol darurat, dan segera menjauhkan Tiara dari tembok, dengan menekukkan kedua tangannya ke belakang.


Para perawat datang, dan segera memberikan pertolongan pada Tiara, bahkan dokter dengan segera meminta untuk dibawa ke ICU karena terlihat retak di bagian keningnya.


"Cepat segera siapkan ruang operasi." ucap dokter dengan sangat panik.


Tiara merasakan sakit, dan matanya mulai buram, Tiara tersenyum saat melihat seperti Satria Ade berdiri di sampingnya.


"Saya datang kak." ucapnya lantas tak sadarkan diri.


****


Hiks.. hiks... hiks..


"Tiara Yah..!! " isak Bunda Lidia sambil memeluk Pak Agus.


Ibu Retno dan Pak Aji segera menghampiri orang tua Tiara. Ibu Retno memeluk tubuh Bunda Lidia dari belakang.


"Hiks.. hiks.. semoga Tiara baik - baik saja, bisa melewati masa kritisnya." ucap Ibu Retno.


"Tiara belum bangun juga, sekarang sudah 4 jam selesai dari operasi dan kondisi dia masih kritis. Kami juga belum bisa menghubungi Esa, entah bagaimana nanti saat dia tahu kondisi Tiara sekarang." ucap Bunda Lidia.


"Kami akan kasih tahu pelan - pelan." ucap Pak Aji.


"Jangan, dia sedang latihan. Jangan sampai konsentrasi nya terganggu, semoga saat Esa pulang Tiara sudah membaik dan sadar." ucap Pak Agus.


***


Tiara tersenyum, sambil memegang tangan Satria Ade. Keduanya berjalan ke sebuah lembah, terlihat seorang anak kecil duduk di atas rumput hijau dengan kupu - kupu terbang diatasnya.


Satria Ade mengecup kening Tiara, dan anak kecil perempuan dengan memakai pakaian yang sama serba putih.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2