Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Rasa Kehilangan Yang Begitu Besar


__ADS_3

Satria Esa merasakan terganggu, saat tidurnya. Rasa berat dan geli, namun terasa nikmat. Kedua mata Satria Esa terbuka lebar, saat melihat, Tiara tengah menciumi dadanya.


"Tiara! " bentak Satria Esa, dengan segera bangun dan Tiara turun dari atas tubuhnya.


"Kak, kamu kenapa? saya ini istri kamu." ucap Tiara


"Ini sudah di luar batas, kita tidak boleh melakukan itu." ucap Satria Esa lantas berdiri.


"Saya istri kakak, apa kakak sudah tidak mencintai saya? dan saya sedang hamil anak kakak!"


"Saya itu bukan suami kamu!" ucap lantang Satria Esa.


Tiara bangun, dan kini tubuhnya berhadapan dengan Satria Esa. Tiara menatap tajam ke arah Satria Esa, tatapannya berubah menjadi tatapan seakan ingin mencabik mangsa.


"Katakan, alasan apa?" ucap Tiara.


"Dek, saya ini Esa. Bukan Ade, dan suami kamu sudah meninggal dunia karena kecelakaan, kamu sadar Tiara!" ucap Satria Esa.


"Saya tidak percaya, pasti kakak memiliki wanita lain."


Satria menarik tangan Tiara masuk ke dalam kamarnya, dan memperlihatkan photo Satria Ade pada Tiara.


"Lihat wajahnya? sama tidak! kita dulu sama, tapi sekarang berbeda, karena saya operasi plastik. Ini suami kamu, saya memang mencintai kamu, tapi tidak untuk sekarang saya akan menikah sama kamu. Tapi nanti, setelah anak kamu lahir."


Tiara lantas mengambil figura tersebut, dan menatap photo pria yang ada dalamnya. Tiara berkaca - kaca, saat melihat pria yang ada di figura tersebut.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kakak...!! " teriak Tiara.


"Kakak...!! " teriak kembali Tiara.


Satria Esa, lantas memeluk tubuh Tiara, tangisannya semakin kencang. Bahkan memukul - pukul Satria Esa.


"Kenapa tidak kamu saja yang mati! kenapa harus suami saya! " ucap Tiara sambil berteriak.


"Kalau boleh meminta, kakak rela mati, menggantikan suami kamu." ucap Satria Esa.


"Kakak...!!! "


"Kamu harus ikhlas, karena ini kenyataannya."


"Pergi kamu, pergi..!! " bentak Tiara mendorong tubuh Satria Esa.


"Pergi kamu, jangan pernah datang di depan mata saya lagi. Pergi kamu! pergi."bentak kembali Tiara.


" Kakak pergi, kakak akan pergi. Tapi tolong, jangan lakukan hal yang tidak boleh di lakukan." ucap Satria Esa.


"Pergi..!! " bentak Tiara.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Kak Ade...!! "


Satria Esa tidak pergi dari rumah itu, dia duduk bersembunyi di balik pohon, dan hanya mengawasi Tiara dari CCTV. Melalui layar ponselnya, Satria Esa mengawasi Tiara yang ada di dalam.


Terlihat Tiara memeluk seragam milik suaminya, bahkan sesekali berteriak. Satria Esa, hanya bisa melihat sedih.


"Saya akan tetap ada disamping kamu, saya akan tetap ada buat kamu."

__ADS_1


****


"Kamu tadi berantem?" tanya Ibu Retno.


"Iya, dia juga harus disadarkan, kalau saya ini bukan suaminya." jawab Satria Esa.


"Apa kita masukan saja ke rumah sakit jiwa? dari pada seperti ini."


"Tapi bagaimana dengan orang tuanya?"


"Pasti setuju, kasihan di rumah seperti ini. Kalau dia di rumah sakit jiwa, dia akan ada yang rawat, siapa tahu membaik. Kasihan anak dalam kandungannya juga, kamu siapkan semuanya, bawa dia kesana."


"Baik Bu, saya akan urus semuanya." ucap Satria Esa.


*


*


"Baiklah kalau memang itu, yang terbaik buat anak saya." ucap Bunda Lidia.


"Maaf, kalau kami ambil tindakan seperti ini. Kami kasihan pada dia, apalagi sedang hamil." ucap Ibu Retno.


"Iya, bawa saja. Demi semuanya."


Setelah menelepon Bunda Lidia, Ibu Retno mendekati Tiara. Ibu Retno membelai rambut menantunya, yang tergerai.


"Nak, kita jalan - jalan yuk! " ajak Ibu Retno.


"Jalan - jalan kemana Bu?" tanya Tiara.


"Kita jalan - jalan cari sesuatu yang segar, ibu ingin makan es buah." jawab Ibu Retno.


****


Tiara menatap keluar jendela, Pak Aji mengemudikan mobil, sedangkan Tiara dan Ibu Retno duduk di kursi penumpang belakang.


"Kita mau kemana?" tanya Tiara.


"Ke suatu tempat, kamu nanti akan banyak teman disana." jawab Ibu Retno dengan mata yang berkaca - kaca.


"Banyak teman!" ucap Tiara.


"Benar nak, banyak teman. "


Satria Esa memilih mengendarai motor, agar Tiara tidak mengamuk bila melihat Satria Esa. Mobil pun sampai di rumah sakit, Tiara tahu ini adalah rumah sakit jiwa.


"Apa ini maksudnya?" tanya Tiara.


"Maafkan Ayah sama Ibu, kamu akan tinggal disini." jawab Pak Aji.


"Kalian pikir, saya itu gila! kalian pikir, saya ini tidak waras! jangan kurang ajar ya, saya itu tidak gila." ucap Tiara.


"Nak, kamu disini akan sembuh, ini untuk sementara saja. Kamu harus di obati, kamu itu sedang hamil juga." ucap Ibu Retno.


"Tapi saya tidak gila! " bentak Tiara.


Satria Esa segera memanggil perawat, dan ada tiga perawat yang segera membawa Tiara masuk.


"Saya tidak gila..! hahahahaha... saya tidak gila. "

__ADS_1


Ibu Retno menangis, melihat kondisi menantunya. Satria Esa lantas, segera masuk ke dalam rumah sakit, untuk mengurus segala administrasinya.


***


"Saya tidak gila, saya tidak gila." ucap Tiara yang semakin melemah, karena di beri suntikan obat tidur.


Tiara pun tertidur, dengan tangan di tali, tepat di pergelangan tangannya. Satria Esa, Ibu Retno dan Pak Aji hanya bisa menatap dari balik kaca.


"Pasien akan lebih baik disini, pasien mengalami gangguan kejiwaan, rasa kehilangan membuat jiwanya terguncang." ucap dokter Karina, spesialis kejiwaan.


"Apa itu bisa sembuh?" tanya Satria Esa.


"Insya Allah Bisa, karena semuanya kuasa yang diatas. Sedangkan kami hanya sebagai perantara, mengusahakan agar sembuh." jawab dokter Karina.


"Terima kasih dok."


"Sama - sama."


"Saya akan sering kemari." ucap Satria Esa.


"Benar nak, kamu sering tengok dia. Kasihan, hanya kita yang dekat." ucap Ibu Retno.


"Apa niat kamu masih terus berlanjut?" ucap Pak Aji.


"Insya Allah saya tetap ingin menikah dengannya, semoga sembuh dengan cepat."


"Kalau memang saya tidak bisa menikahinya, saya akan tetap melindungi dia."


Tiara masih tertidur, dengan kedua tangan di tali. Satria Esa, hanya berharap dalam hatinya, agar sehat kembali seperti dulu.


"Saya akan selalu ada untuk kamu."


****


"Jadi dia sekarang di rumah sakit jiwa?" tanya Alam.


"iya, dia sekarang di rumah sakit jiwa." jawab Satria Esa.


"Saya turut perihatin atas apa yang terjadi pada dia, dulu saat tahu kamu meninggal dunia, ya seperti ini. Dia itu gila, tapi lama - lama berkat saudara kembar kamu, dia menjadi sembuh. Dan sekarang dia seperti ini lagi, begitu sangat besar sekali cintanya." ucap Alam.


"Saya akan membuat dia sembuh, saya akan bawa kembali dia seperti Tiara yang saya kenal." ucap Satria Esa.


Sedangkan di rumah sakit, Tiara hanya diam dengan tangan terikat. Bunda Lidia dan Pak Agus, sangat sedih melihat putrinya yang seperti ini.


"Yah, anak kita bisa sembuh tidak?" tanya Bunda Lidia.


"Bisa, pasti bisa Bund." jawab Pak Agus.


Satria Esa datang, melihat kondisi Tiara yang memprihatinkan. Pak Agus mengusap punggung Satria Esa, saat pria masa lalu putrinya berdiri bersama.


"Anak saya sekarang seperti ini, apa kamu masih tetap ingin bersama dia?" ucap Pak Agus.


"Saya akan tetap ada untuk dia, saya akan buat dia kembali seperti dulu." ucap Satria Esa.


"Dia kehilangan orang yang paling dia sayangi, dia sangat begitu besar rasa cintanya seperti sama kamu waktu dulu. Sekarang, meninggalnya Ade, membuat dia begitu sangat kehilangan. Tidak ada yang bisa tergantikan, hanya satu ikhlas menerima, tidak akan terjadi seperti ini." ucap Pak Agus.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2