Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Berkumpul Kembali


__ADS_3

"Kamu kesini tidak sama Ade?" tanya Ibu Retno saat Tiara sampai.


"Kak Ade sedang sama kak Esa, mau jemput Pak Latif kesini Bu." jawab Tiara.


"Siapa Pak Latif?" tanya Ibu Retno.


"Pak Latif itu, saksi kalau Firza itu Kak Esa."jawab Tiara.


" Apa kamu yakin? hati kecil Ibu jiga mengatakan yakin."


"Benar Bu, dia itu Kak Esa yang dinyatakan meninggal dunia. Karena saya sudah membuktikan, dan menyamakan kisah sebenarnya, ternyata benar Bu ucapan Kak Esa dan Pak Latif itu sama."


"Tapi nak, saat tahu kenyataan. Kamu tidak akan, meninggalkan Ade kan? tidak kembali dengan Esa?"


Tiara memegang tangan Ibu mertuanya, dengan menatap kedua matanya.


"Ibu, apapun yang terjadi. Saya tidak akan meninggalkan Kak Ade, karena dia suami saya. Kita bersama dengan satu ikatan pernikahan. Kak Esa, bagi saya dia sudah menjadi masa lalu."


"Terima kasih nak, kamu adil tidak menyakiti salah satu anak Ibu."


"Masa lalu tetap masa lalu, yang sekarang untuk masa depan."


****


"Ya Allah nak Esa." ucap Pak Latif memeluk tubuh Satria Esa.


"Bapak apa kabar?" tanya Satria Esa.


"Alhamdulillah bapak sehat, bapak kira kamu tidak akan pernah lagi, datang kemari." jawab Pak Latif.


"Saya akan tetap menjalin silaturahmi Pak, oh iya ini saudara kembar saya. Dia juga Satria namanya tapi Satria Eka Ade Tama, biasa di panggil Satria Ade atau Ade." ucap Satria Esa menjelaskan.


Satria Ade bersalaman dengan Pak Latif, lantas mengajak keduanya untuk duduk di sofa tamu, di rumah dokter Alexander.


"Nak Ade, di rumah ini. Saudara kembar kamu, harus terpaksa menjadi Firza. Padahal Firza itu sudah Almarhum, hanya Pak dokter tidak mau menerima takdir, kalau putra nya sudah meninggal dunia." ucap Pak Latif menjelaskan.


"Nak Satria harus berpura-pura menjadi Firza, saat bertugas di kesatuannya. Dengan Pak dokter selalu mengawasinya, dia di tekan kalau pergi nyawa kekasihnya terancam." ucap Pak Latif.


"Dokter itu, sampai bilang begitu?" ucap Satria Ade kaget.


"Benar nak, Esa ini bisa kabur karena bapak yang suruh setelah Pak dokter meninggal dunia, buktikan secara perlahan dan kembalikan Esa secara perlahan juga. Sejak dulu bapak menyuruh dia pergi, tapi dia lebih sayang nyawa kekasihnya."


"Saya tidak bohong de, tapi saya siap untuk tes DNA itu , biar Ayah dan ibu yakin dan percaya."ucap Satria Esa.


" Saya percaya kamu kok, tapi pasti orang tua ada rasa percaya, hanya masih ragu." ucap Satria Ade.


"Lantas, bapak harus bagaimana sekarang?" tanya Pak Latif.


"Bapak itu kami, jelaskan pada orang tua kami. Kalau bapak punya bukti, kalau Firza itu Satria Esa." ucap Satria Ade.


"Baik, saya akan ambil beberapa bukti seperti photo dan data rekam medik yang simpan oleh almarhum."


"Terima kasih Pak." ucap Satria Esa.


****


Tiara merasakan mual, namun di tahannya saat sedang makan malam bersama dengan kedua mertuanya. Tiara terus memaksa makan, namun mualnya semakin menjadi.


Tiara langsung lari ke arah kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya. Rasa mual, dengan perut yang bergejolak membuatnya lemas dan pusing.


"Bu, Tiara kenapa?" tanya Pak Aji.

__ADS_1


"Sebentar Yah, Ibu susul." jawab Ibu Retno.


Hoek... hoek...


"Tiara, kamu kenapa?" tanya Ibu Retno dengan memijat tengkuk lehernya.


"Hoek.. hoek..


" Kamu masuk angin ya?" tanya kembali Ibu Retno.


"Tidak tahu bu, ini terasa mual sekali. Rasanya perut, seperti di acak - acak isinya. Terus pusing banget, ini saja masih ingin muntah." jawab Tiara.


"Ibu kerok ya?"


"Nggak usah bu, nggak apa - apa."


Hoek.. hoek.. hoek..


Tiara kembali memuntahkan isi perutnya, hingga lemas terduduk di lantai kamar mandi.


"Ayah..! " panggil Ibu Retno.


"Yah.. kesini sebentar." teriak Ibu Retno.


"Ada apa bu?" tanya Pak Aji.


"Tolong Yah, bantu Tiara." jawab Ibu Retno.


"Kamu kenapa Tiara?" ucap Pak Aji.


"Muntah Yah, sudah bantu ibu cepetan."


"Bu, Ade pulang. Ayah kesana dulu." ucap Pak Aji.


"Iya Yah."


***


"Yah, kenalkan ini Pak Latif, dia yang menolong Esa." ucap Satria Ade, mengenalkan Pak Latif dengan Ayahnya.


"Latif."


"Aji, mari masuk." ucap Pak Aji.


"Ibu sama Tiara mana Yah?" tanya Satria Ade.


"Ada di kamar, Tiara habis muntah - muntah." jawab Pak Aji.


"Muntah kenapa Yah?" tanya Satria Ade panik.


"Ayah belum tahu, kamu lihat saja sendiri." jawab Pak Aji.


Satria Ade berjalan cepat ke arah kamarnya, di lihat Ibu Retno sedang memberikan minyak kayu putih pada perut Tiara.


"Bu Tiara kenapa?" tanya Satria Ade cemas.


"Ibu tidak tahu, istri kamu sedang makan malam sama kita, eh langsung muntah - muntah." jawab Ibu Retno.


"Sayang, kamu tadinya makan apa? atau ada yang dirasa!" ucap Satria Ade.


"Nggak tahu kak, soalnya dari pagi udah kerasa enek saja gitu."

__ADS_1


"Sekarang masih?"


"Ya sudah agak mendingan."


"De, Ibu temui tamunya dulu, sambil mau buatkan minuman buat mereka." ucap Ibu Retno.


"Iya Bu."


Satria Ade memijat kedua kaki Tiara, dan terlihat sangat lemas. Satria Ade beralih memijat kepala istrinya, hingga Tiara merasakan lebih baik.


"Bulan sekarang telat haid belum?" tanya Arjuna.


"Belum haid kak." jawab Tiara.


"Jangan - jangan kamu hamil sayang, kalau betul hamil kita jadi orang tua." ucap Satria Ade.


"Mungkin Kak, tapi nanti saya coba cek di testpack."


"Nah, semoga ini tandanya kamu hamil."


"Amin ya Allah."


****


"Saya bersumpah atas nama Allah, kalau Firza ini Satria Esa. Dan ini buktinya, silahkan baca dan dan Perhatikan." ucap Pak Latif.


Ibu dan Pak Aji melihat beberapa lembar photo dan data Satri Esa. Ibu Retno berkaca - kaca, melihat berapa lembar photo dan hasilnya.


"Ayah Ibu kalau tidak percaya, besok saya siap untuk tes DNA ." ucap Satria Esa.


"Yah, hati ibu mengatakan dia Esa anak kita." ucap Ibu Retno.


"Ayah juga memiliki pikiran yang sama." ucap Pak Aji.


"Pak Bu, saya berani bersumpah dia itu anak Bapak sama Ibu, karena saya saksi bisu nya. Kalau tidak rusak parah, mungkin dia tidak menjadi Firza. Dokter Alexander mengoperasi wajah dia sebagai Firza , andai dari dulu tidak di ancam dan bisa pergi, pasti dia sudah berkumpul dengan kalian. Karena kekasihnya, dia bertahan dan tidak mau terluka." ucap Pak Latif.


"Seandainya, tes DNA negatif. Saya dan Pak Latif, siap di penjarakan." ucap Satria Esa.


"Nak, boleh Ibu memeluk kamu?" ucap Ibu Retno.


"Boleh bu, itu yang telah lama saya ingin dengar." ucap Satria Ade.


Ibu Retno memeluk tubuh Satria Esa, Satria Ade melihat pemandangan tersebut. Ibu Retno terisak menangis, memeluk putra yang dirindukannya.


"Ibu yakin, kamu itu Esa. Kamu tidak bohong, Ibu percaya, hiks.. hiks.. "


"Terima kasih Bu, terima kasih sudah percaya. Esa kangen sama ibu, kangen juga sama Ayah." ucap Satria Esa.


Hiks.. hiks..


"Ini suatu mukjizat, kalau anak yang di anggap telah meninggal dunia, ternyata masih hidup."


"Nak, peluk Ayah!" ucap Pak Aji.


Satria Esa, beralih memeluk tubuh Ayahnya. Keduanya saling terisak menangis, Satria Ade tersenyum melihat keluarganya kembali lengkap.


"Saya bahagia, akhirnya Nak Ade berkumpul kembali, dan sudah lunas tidak menjadi beban saya lagi." ucap Pak Latif.


.


.

__ADS_1


__ADS_2