Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Bahagia Berkumpul


__ADS_3

Pak Aji dan Bu Retno membaca hasil tes DNA, mereka tersenyum bahagia saat hasil menunjukkan positif, Firza adalah Esa yang di nyatakan meninggal dunia.


Pak Aji memeluk putranya, walau kembali dengan wajah yang berbeda, namun hati keduanya sangat begitu bahagia.


"Ayah senang nak, Ayah tidak bisa berkata apa - apa." ucap Pak Aji.


"Ibu lega, walau rasa ragu itu ada. Ibu bahagia nak." ucap Ibu Retno.


"Maafkan Esa, kalau baru kasih tahu sekarang." ucap Satria Esa.


"Iya nak, tidak apa - apa." ucap Ibu Retno.


Satria Ade tersenyum saat melihat keluarganya kembali utuh, usaha saudara kembarnya membuahkan hasil. Untuk membuktikan jati dirinya, adalah Satria Esa Ade Tama, bukan sosok Firza atau orang lain.


"Saya akan bantu mengurus semuanya." ucap Satria Ade.


"Iya, terima kasih." ucap Satria Esa.


"Selamat datang kembali kak, selamat datang di keluarga Bapak Aji." ucap Tiara.


"Terima kasih dek."ucap Satria Esa.


****


" Ibu masak banyak, syukuran kecil - kecilan, menyambut kedatangan Esa. Kamu pasti kangen masakan ibu kan nak? ibu masak semua kesukaan kamu." ucap Ibu Retno.


"Makan nak, makan sepuasnya." ucap Pak Aji.


"Terima kasih Ayah Ibu." ucap Satria Esa.


"Oh iya, besok kamu pindah ke rumah baru. Berhubung masalah sudah selesai, saya ingin menempati rumah baru." ucap Satria Ade.


"Kamu ambil rumah yang itu?" tanya Satria Esa.


"Iya, kasihan di kontrakan terus, banyak yang ungkit masalah dulu." jawab Satria Ade.


"Masalah apa?" tanya Satria Esa.


"Masalah sama mantan." jawab Tiara, mengejutkan semua yang ada di meja makan.


"Kalau saya tidak masalah, mau masa lalu suami seperti apa, hanya telinga panas saja, lagi - lagi bahas mantan, apa tidak ada lagi yang di bahas. Jadi malas kan, semoga saja di rumah yang baru tidak ada lagi bahas seperti itu." ucap Tiara.


"Sudah ah makan." ucap Satria Esa.


****


"Mantan kamu kemana dia?" tanya Satria Esa pada saudara kembarnya.


"Nggak tahu kemana, saya juga banyak salah sama dia." jawab Satria Ade.


"Semua orang juga punya salah, tapi kamu sudah minta maafkan?"


"Sudah, saya sudah minta maaf."


"Bagus lah."


"Semoga dia mendapatkan jodoh yang mau menerima dia apa adanya, saya sudah merusak dia."


"Ini sebagai pelajaran hidup buat kamu, sekarang kamu fokus pada Tiara. Dia sedang hamil anak kamu, semoga lahir selamat dan sehat buat keduanya."


"Amin."


****


"Nyonya Ade rajin banget cuci piring." ucap Satria Esa.


"Kak, iya saya tidak suka saja lihat piring kotor banyak begini. Kasihan Ibu, buat ringankan beban Ibu." ucap Tiara.


"Kakak itu, bagai terlahir kembali. Namun ada yang hilang, tapi hati bahagia." ucap Satria Ade.


"Hilang itu, suatu saat akan ditemukan kembali. Hati yang patah, akan disatukan lagi. Dengan kisah yang lebih bahagia, dari pada kisah yang lalu." ucap Tiara.


"Terima kasih, sudah pernah menjadi kisah cinta yang indah, walau kisah cinta itu hanya singkat, tapi penuh dengan kisah yang tidak bisa di lupakan." ucap Satria Esa.


Tiara tersenyum, sembari mencuci piring. Satria Esa lantas pergi meninggalkan Tiara, hanya sebuah senyuman tipis, mengingat kenangan yang terdahulu.

__ADS_1


****


"Ini sih luas De, rumahnya." ucap Ibu Retno, saat berkunjung di rumah baru anak dan menantunya


Pak Agus, Pak Aji, Esa, dan Ade menurunkan barang - barang, sedangkan Tiara hanya duduk karena tidak boleh banyak bergerak, karena kehamilan yang masih sangat muda.


"Nak, nanti kamu jangan capek - capek ya." ucap Bunda Lidia.


"Iya Bund." ucap Tiara.


"Tiara bandel itu Bund, dia itu bersih - bersih rumah terus." celetuk Satria Ade.


"Kamu yang bandel, sebagai suami harus tegur itu istri kamu." ucap Ibu Retno.


"Saya kan tidak tahu Bu, kalau saya dinas dia pasti nggak mau diam." ucap Satria Ade.


"Sudah jangan ngobrol terus, itu masih banyak barang." tegur Satria Esa.


"Hati saya bahagia sekali, bisa lengkap anak - anak. Walau wajah Esa berbeda, tapi dia tetap Esa anak kami." ucap Ibu Retno.


****


"Minum dulu, pasti capek." ucap Tiara sambil mengelap keringat, yang ada di kening suaminya.


"Makasih sayang." ucap Satria Ade, lalu menegak air minum dingin.


"Sudah selesai kan?" tanya Tiara.


"Sudah, ini tinggal rapih kan saja." jawab Satria Ade.


"Esa, kamu mau minum? ini!" ucap Satria Ade.


Satria Esa meminum air putih, satu gelas dengan saudara kembarnya. Terlihat dua pria yang capek, dengan keringat bercucuran.


"Saya tinggal kesana dulu." ucap Satria Esa.


****


"Kak, kamar ini buat kamar baby ya?" pinta Tiara.


"Mau ya?" ucap Tiara.


"Iya dong." ucap Satria Ade dengan menciumi tengkuk leher Tiara.


"Kak."


"Ya." ucap Satria Ade, yang terus menciumi tengkuk leher istrinya.


"Cinta dan sayang kakak, ke adek sebesar apa?"


"Cinta Kakak ke adek, sebesar lautan tanpa ujung."bisik Satria Ade.


" Kalau adek, cintanya sebesar apa?" tanya Satria Ade.


"Sebesar lautan yang tanpa batas, sebesar gunung Himalaya, sebesar alam semesta." jawab Tiara sambil mengecup bibir Satria Ade.


Satria Esa membuka pintu, melihat keduanya sedang bermesraan. Satria Esa lantas menutup kembali pintunya, dan melangkah pergi meninggalkan rumah saudara kembarnya.


****


"Motor ini masih awet?" tanya Satria Esa.


"Iya, ini masih saya pakai setiap hari." jawab Satria Ade.


"Kalau motor saya, yang di rumah masih ada nggak?" tanya Satria Esa.


"Masih, motor kan waktu itu sempat kamu bawa pulang, tapi motor nggak pernah di pakai sama Ayah, atau saya." jawab Satria Ade.


"Ditaruh di rumah mana?"


"Ada di rumah lama, mau di ambil?" ucap Satria Ade.


"Boleh, mungkin ada beberapa mesin kali ya yang di ganti." ucap Satria Esa.


"Iya, ada beberapa masih yang harus di ganti."

__ADS_1


"Sekarang saja gimana? kita betulkan sendiri, biasanya kan kita otak atik." ucap Satria Esa.


"Boleh, nanti saya bilang dulu sama Tiara."


Satria Ade mencari istrinya, terlihat istrinya sedang menonton televisi, sambil memakan cemilan.


"Sayang, Kakak mau ke rumah lama sama Esa."


"Ngapain kak?" tanya Tiara.


"Kakak mau ambil motor, mau di betulkan." jawab Satria Ade.


"Motor itu kan, bukannya sudah lama tidak jalan. Apa masih bisa di gunakan?" ucap Tiara.


"Masih, kalau ada yang di ganti. Kakak pinjam mobil pick up, milik Ikbal buat angkut motornya kesini."


"Tidak menginap kan?"


"Tidak sayang, tidak menginap." ucap Satria Ade sambil membelai rambutnya.


"Jadi kan?" hanya Satria Esa.


"Jadi, kita ke Ikbal pinjam mobilnya." ucap Satria Ade.


"Tiara, saya pinjam dulu suami kamu." ucap Satria Esa.


"Iya Kak, hati - hati."


****


Keduanya menaiki mobil pick up milik Ikbal, Satria Ade yang mengemudikan mobil, mereka saling bercerita, tawa dan canda.


"Jadi kamu masih ingat? waktu itu saya sudah di atas motor, terus motor saya jalankan, lalu pergi kamu masih belum naik, dan kamu lari - lari." ucap Satria Ade.


Hahahaha..


"Kalau ingat itu, saya ingin tertawa." ucap Satria Esa.


"Sumpah, saat hari itu saya ingin tertawa terus, tapi lihat wajah kamu yang kesal, bikin saya menahan tawa."


"Dasar asem, bikin saya kesal."


Hahahaha...


"Dan kamu ingat nggak? mungkin bagi kamu infas, kamu menaruh air cuci tangan di mangkok kecil, saya fokus ke ponsel, saya kira itu sayur, kamu kan tahu cara saya makan sayur, dengan menyeruput dari mangkok, eh ternyata air kotor. " ucap Satria Ade mengingat.


Hahaha..


"Itu terjorok yang pernah saya lihat." ucap Satria Esa.


"Parah, benar parah."


Tak terasa mobil pun sampai di rumah lama, Satria Esa tersenyum menatap rumah lama, teringat masa kecilnya, bermain bersama saudara kembarnya di halaman depan, Satria Ade merangkul pundak saudara kembarnya, menatap bersama rumah lama, yang penuh dengan kenangan.


"Akhirnya, saya bisa menginjakkan kaki ini kesini lagi." ucap Satria Esa.


"Masuk yuk, kamu kemarin sebentar kan kesini?" ucap Satria Ade.


"Iya, tapi hari ini saya bahagia. Yuk ah masuk, kangen sama motor." ucap Satria Esa.


****


"Dia masih gagah, hanya sudah tidak terawat." ucap Satria Esa.


"Coba saja, masih jalan tidak." ucap Satria Ade.


Satria Esa mencoba menyalakan mesin motornya, beberapa kali mesin tak menyala saat berusaha di hidupkan. Hingga ke sepuluh kalinya, motor pun menyala, tapi mati kembali.


"Memang benar ini harus di bongkar, tapi kita bawa pulang saja. Alat - alat, ada di rumah." ucap Satria Ade.


"Kita angkut sekarang." ucap Satria Esa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2