Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Orang Asing


__ADS_3

"Inara." sapa Tiara saat Inara datang ke rumah Tiara.


"Apa kabar?" sapa Inara kembali, dengan saling berpelukan.


"Alhamdulillah baik, kamu juga baik kan?" tanya Tiara.


"Baik, sangat baik. By the way suami kamu belum pulang?" jawab Inara kembali bertanya.


"Dia sedang naik piket, kamu kesini malam banget sih, nginap ya disini. Temani saya, Kak Satria nggak pulang."


"Ya niatnya juga gitu, saya nginep. Mumpung besok, saya itu cuti sengaja ingin main ke rumah kamu."


"Ada kabar apa saja di TK?" tanya Tiara.


"Nggak ada kabar apa - apa, hanya saja anak - anak banyak yang tanyain kamu." jawab Inara.


"Saya jadi kangen mereka." ucap Tiara.


"Gimana pernikahan kalian?"


"Alhamdulillah, kita bahagia."


"Kamu sudah move on ya? sudah nggak seperti dulu lagi."


"Kalau pun saya tetap tidak mau menerima kenyataan, nggak ada untungnya yang. Kenapa? karena nggak akan mungkin Kak Satria Esa akan kembali. Dia tidak akan pernah kembali, jadi saya harus bisa menerima kenyataan."


"Benar, kita berharap nya sih ada keajaiban, tapi tidak akan mungkin. Saya senang mendengarnya, dan saya juga yakin. Kak Satria itu pria yang baik." ucap Inara.


"Sampai lupa kamu belum saya kasih minum, kamu mau minum apa?" ucap Tiara .


"Apa saja, yang penting minum."


"Saya buatkan es jeruk saja ya, biar seger walau bukan cuaca panas tapi enak deh."


"Kalian nggak ada rencana beli rumah?" tanya Inara.


"Adalah, masa tidak ada. Hanya saja uangnya belum terkumpul, jadi masih nabung dikit demi dikit." jawab Tiara sambil membuat Es jeruk.


"Tiara, saya mau tanya sama kamu."


"Tanya apa sih?" ucap Tiara sambil memeras buah jeruk.


"Kamu percaya mukjizat?"


"Percaya, kenapa?"


"Seandainya, orang yang kita sayangi. Sudah lama kita lupakan, tapi dia kembali hadir saat kita sudah bahagia bagaimana?"


"Kita harus jalani yang sekarang, karena itu bagian dari masa lalu."


"Apa tidak menyesal?"


"Buat apa menyesal, karena jalannya sudah begini."


"Benar juga kata kamu." ucap Inara.


"Tunggu dulu, kamu itu cerita masalah kamu ya?" tanya Tiara menebak.

__ADS_1


"Ih.. nggak lah." jawab Inara.


"Sudah mengaku saja, hayo... ya kan." ledek Tiara.


"Nggak ih, ah kamu mah."


****


"In, saya ke pasar dulu ya sambil olahraga , kamu mau ikut nggak?" teriak Tiara.


"Nggak ah, saya masih ngantuk." jawab Inara.


"Yaudah saya pamit ya."


"Iya."


Tiara pun dengan berjalan kaki menuju ke pasar, saat suasana masih sangat gelap. Tiara melangkah kan kakinya dengan santai, namun Tiara merasakan ada orang yang mengikutinya.


Tiara menoleh, ada seorang pria mengenakan hoodie yang sedang berjalan di belakang Tiara. Tiara terus berjalan, dan memutuskan berhenti pria tersebut pun berhenti. Tiara kembali berjalan, pria itu pun kembali berjalan.


Dengan langkah cepat seribu Tiara langsung berlari , dan segera masuk kedalam barisan para pedagang yang akan menjual barang dagangannya di pasar.


"Cepat banget dia lari, kemana dia?" ucap pria yang mengejar Tiara.


Dengan hati yang takut Tiara tidak konsen berbelanja, dan akhirnya segera pulang, dan tidak di ikutinya lagi.


****


"Loh kok cuman dapat ikan saja, katanya ke pasar?" tanya Inara.


"Saya itu tadi di ikuti laki - laki, saya berhenti dia ikut berhenti. Saya jalan dia ikut jalan, coba bagaimana saya tidak takut."


"Saya tidak kenal, tapi dari gaya jalannya seperti kenal gitu, dimana y saya itu tiba -tiba lupa." ucap Tiara.


"Atau orang yang mau buat jahat sama kamu?"


"Ah masa sih? kok saya jadi takut gitu."


"Kalau sudah begini, kamu tidak boleh keluar sendirian, dan disaat suami kamu pergi, harus kunci rapat rumah ini."


"Ih.. kok jadi seram gini sih, apa perlu pindah saja ya rumahnya." ucap Tiara.


"Tunggu dulu, kamu di ikuti dari mana? kalau dari rumah dia berarti bisa saja kesini."


"Tadi pas belokan jalan, tapi apa memang penjahat yang ingin mencuri ya."


"Bisa jadi, yang jelas hati - hati."


****


"Lama ya, nggak ketemu sama kamu. Sekarang makin cantik, makin fresh."puji Satria, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tiara, sehingga membuat Inara terkekeh.


" Mampus tuh, muji cewek lain di depan istri sendiri." ucap Inara.


"Tapi tetap saja, paling cantik Tiara tersayang." ucap Satria.


"Wuuuuu." ucap Inara.

__ADS_1


"Uh dasar gombal." ucap Tiara.


"Kalau di bilang Tiara terjelek, kamu nggak marah dek?"ucap Satria.


" Marah lah." ucap Tiara.


"Kak, istri kamu ada yang ikuti saat mau ke pasar." ucap Inara.


"Betul itu sayang?" tanya Satria.


"Benar kak, saya jalan dia jalan. Saya berhenti dia malah ikut berhenti, saya itu takut kak, sampai pulang juga buru - buru." jawab Tiara.


"Tapi kamu tidak apa - apa kan? terus barang juga tidak ada yang hilang?" tanya Satria panik.


"Tidak ada kak, hanya saja saya takut." jawab Tiara.


"Kak Satria, hati - hati di rumah juga. Takutnya memang dia itu penjahat, dan bisa membawa barang atau menculik Tiara."


***


"Kak, pintu sudah dikunci semua?" tanya Tiara pada Satria.


"Sudah." jawab Satria.


"Yakin?" ucap Tiara.


"Yakin sayang, kamu nggak percaya ya?" ucap Satria.


"Saya masih kepikiran Kak, kalau kakak gimana, sama nggak seperti saya?" ucap Tiara.


Satria memeluk tubuh Tiara, di ciumnya tengkuk leher Tiara oleh Satria. Dan tangan Satria yang sudah bergerak kesana kemari.


"Kak, jangan begini geli."ucap Tiara.


" Kan Adek janji, bakalan menyerahkan semuanya untuk Kakak." ucap Satria dengan terus menciumi leher dan pundak.


"Iya tapi pastikan jendela kamar awet." ucap Tiara.


"Sudah sayang, kamu tenang aja." ucap Satria.


Tiara memejamkan kedua matanya, saat merasakan bibir Satria berada tepat di dada.'


"Kak.. aahhhhh. " ucap Tiara menikmati.


"Malam ini, akan kakak berikan sentuhan yang akan membuat kamu candu." bisik Satria dengan menggigit daun telinga.


Tiara mencium bibir Satria, tubuh rampingnya, memudahkan Satria mengangkatnya. Lantas di baringkan di atas tempat tidur.


"Kak ahhhh. "


"Ya sayang, nikmati saja." ucap Satria dengan bermain di area dada.


Tangan Tiara mencengkram kepala Satria, saat merasakan bagian perut di ciumi oleh Satria. Tiara berkali-kali merasakan nikmat, yang keluar dari miliknya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2