
Dibelenggu sepi yang mampu melambungkan setinggi khayal.
Cara itu ku pilih tuk mencari dan menemukan mesra denganmu meski semu.
Seabsurd itu aku walau, bukan yang kau mau
Maka biarkanlah.
Karena aku tak ingin menjadi bagian dari dendam dan benci.
Untuk semua yang pernah terjadi, lupakan
Kenangan indah itu hanya miliku saja
Yang kan ku kenang setiap hening malam tiba
Dinginnya meremuk mimpi.
Bayangmu punah dililit sepi
Sesingkat itu saja kita bersama
Sebab aku tak pernah menghuni sisi ruang hatimu.
Jika aku pernah mejadi bagian kisah ceritamu
Itupun tak kau hargai
Maafkan.......
Aku pernah ada di bagian kisahmu yang salah.
Tiara diam, keduanya pun diam. Setelah pertengkaran di dalam mobil, Tiara terisak, sedangkan Satria keluar dari mobil untuk menenangkan diri sejenak.
Lantas ponsel Tiara berdering, panggilan telepon dari Satria Esa. Namun Tiara tidak mengangkatnya, dan mereject telepon dari Satria Esa.
Satria masuk kembali kedalam mobil, mendengar ponsel Tiara berdering kembali, namun di reject nya. Satria menjalankan mesin mobil, dan suara sering telepon terjadi kembali, Satria sempat melirik nama penelepon.
"Siapa itu Mr X?" tanya Satria.
"Nggak penting." jawab Tiara.
__ADS_1
"Esa ya? angkat saja nggak apa - apa, nggak marah kok. Sekarang bebas, kita jalani juga awalnya keterpaksaan." ucap Satria.
Tiara hanya diam tidak bicara sepatah kata pun, hingga sampai di rumah orang tua Tiara. Dengan membanting pintu, dan mengambil koper di bagasi mobil Tiara berjalan mendahului Satria.
"Assalamu'alaikum." ucap Tiara memberikan salam.
"Walaikumsalam." balas Bunda Lidia.
"Bunda." ucap Tiara langsung memeluk Bunda Lidia dengan terisak.
"Kamu kenapa nak?" tanya Bunda Lidia.
"Kamu bertengkar dengan Satria?" tanya Kembali Bunda Lidia.
"Satria, Tiara kenapa? dan ini koper apa maksudnya?" tanya kembali Bunda Lidia, saat Satria masuk.
"Bunda, maafkan saya. Untuk sementara kami pisah ranjang, dan saya pulangkan Tiara." jawab Satria dengan suara berat.
"Maksudnya kamu apa sih?" tanya Bunda.
Tiara langsung berlari masuk kedalam kamarnya, Satria hanya diam dengan menundukkan kepalanya.
"Katakan ada apa?" tanya Bunda Lidia tegas.
"Maksudnya kamu apa sih? saudara kembar kamu kan, sudah lama meninggal dunia. Ini gimana ceritanya, bisa kembali pacaran. Maksud kamu, anak saya pacaran sama hantu atau sama jasadnya gitu?"
"Saudara kembar saya masih hidup, dia kembali dengan wajah yang berbeda. Dia masih hidup Bunda."
"Kamu itu aneh, jangan mengarang cerita. Jangan buat alasan, agar kamu bisa cerai dengan anak saya."
"Bunda, saya berani bersumpah, saudara kembar saya, itu masih hidup. Tiara yang mencari informasinya, kalau tidak percaya tanya sama anak Bunda."
"Lantas kalau memang benar, kenapa kamu tidak bahagia kalau saudara kembar kamu itu, ternyata masih hidup? kenapa malah kamu bertengkar dengan anak saya, dan kamu kembalikan dia pada kamu, ini maksudnya menuju perceraian kan?"
"Saya marah, karena melihat dengan kepala mata saya sendiri, dia itu pelukan, Satria Esa cium keningnya, pegang tangan. Dan tanpa ijin saya, dia tidak cerita. Dari sini sudah jelas, kalau maunya seperti itu, saya ikhlas mundur, karena kita ini menjalin hubungan dengan keterpaksaan, saya yakin anak Bunda lebih berat ke dia." ucap Satria dengan mata berkaca - kaca.
Bunda Lidia terdiam, dan hanya bisa menerima kenyataan hari ini. Melihat kondisi pernikahan, anaknya berada di ujung tanduk.
"Bunda tidak bisa berkata - kata lagi, kalau ini lebih baik, tidak apa - apa. Tapi Bunda sebagai orang tua, hanya bisa berpesan. Jangan gegabah ambil keputusan, jangan sampai di kemudian hari ada penyesalan."
"Iya Bunda,tapi kehadiran saya pun ini, hanya terpaksa mungkin ini karma saya di awal dengan tidak mau menerima Tiara, lantas saya di hukum dengan membalikkan keadaan hati saya, dan sekarang pun di balikan lagi dengan kisah lama yang kembali."
__ADS_1
****
"Jadi, Satria masih hidup! " ucap Pak Agus.
"Benar Yah, makannya anak kita di kembalikan sama suaminya." ucap Bunda Lidia.
"Kamu sudah di talak?" tanya Pak Agus.
"Belum Ya, tapi kita pisah sementara." jawab Tiara.
"Lantas, kamu mau kembali sama dia? disaat kamu sudah menjadi istri orang, kamu mau memilih dia Tiara?" ucap Pak Agus.
"Saya masih sayang, tapi rasa sayang nya teralihkan oleh suami saya. Kami juga, memutuskan untuk menjadi saudara, dia kembali memang untuk saya, agar masih tetap bertahan hidup, tapi fakta kami tidak bisa bersatu." ucap Tiara.
"Katakan sama Ayah, apa kamu mau mempertaruhkan pernikahan kamu hah..? kamu di kembalikan ke sini kamu diam saja?"
"Yah, dia tidak percaya kalau saya itu tidak memiliki hubungan apa - apa sama mantan, di ceritakan juga tetap Yah, dia juga punya masa lalu, sakit kalau dengar masa lalu dia."
"Gimana suami percaya, walau itu saudara kandungnya, kalian jelas pernah punya hubungan, dia tahu kamu di tempat umum pelukan, dia cium kamu diam saja. Ayah juga akan sama, kalau itu terjatuh pada Ayah."
"Demi Allah Yah, saya itu berat sama suami."
"Terus, kalau berat kenapa kamu pulang kesini?"
"Saya disuruh memilih, tapi saya belum kasih jawaban."
"Sudah Bun, jelas anak kita yang salah. Kalau pun di ceraikan juga pantas, memang anak kita yang salah."
"Ayah kok bicaranya begitu, masa cerai. Kita bantu, agar rumah tangga nya kembali baik, dan kita menjadi penengah, jangan kembalinya Satria Esa, membuat dia tampak sedih, kembali yang tidak di inginkan. Jangan sampai itu terjadi, sekarang kamu pulang, perbaiki rumah tangga kalian." ucap Bunda Lidia.
"Saya tidak berani pulang." ucap Tiara.
****
"Ada apa kamu panggil saya? kamu mau memukuli saya lagi?" ucap Satria Esa.
"Kita bertemu Ayah dan Ibu, bukannya kamu juga, rindu pada mereka kan?" ucap Satria Ade.
"Kalau pun kehadiran saya, hanya membuat orang terluka lebih baik, saya kembali jauh. Saya hanya datang, sebagai pemicu retaknya rumah tangga saudara kembar saya dan wanita yang pernah hadir, menghiasi hari - hari saya." ucap Satria Esa.
"Kita pulang sama - sama, temui mereka."ucap Satria Ade.
__ADS_1
.
.