
"Dek, kamu yang jelas bicaranya. Kakak itu nggak mengerti kamu bicara apa, tanya apa. Tiba - tiba seolah kalau kakak ini, di jadikan tersangka. Coba jelaskan, secara detail. Ada apa? biar kakak itu paham pokok masalahnya."ucap Satria.
" Nunik kakak kontrakin disini berapa lama? terus kakak tidur dengan dia berapa kali?" ucap Tiara.
"Kamu kok tanya seperti itu, siapa yang bilang?" ucap Satria.
"Ibu - ibu disini, tadi ibu RT juga kesini. Karena ini rumah dia, bahkan dia tahu semuanya. Dan mereka kira, yang akan di nikahin itu Nunik, ternyata saya. Kakak sudah berapa kali, tidur dengan Nunik?" ucap Tiara.
"Itu masa lalu dek, tidak usah di bahas." ucap Satria.
"Kalau benar, pantas Nunik terus ingin memisahkan kita. Bagaimana rasanya seorang wanita, yang sudah tidak suci. Kakak tinggalkan, di luar sana belum tentu pria lain akan menerima dia." ucap Tiara.
"Maafkan Kakak."ucap Satria.
" Saya memang orang ketiga, disaat seperti ini. Saya berharap cinta pertama saya masih hidup, dia datang bagai malaikat yang akan membawa saya keluar dari masalah ini." ucap Tiara dengan mata berkaca - kaca.
"Kami memang pernah, melakukannya. Tapi tidak sampai hamil, itu saat kakak pulang kesini." ucap Satria, sehingga membuat Tiara lemas.
"Saya sudah belajar menerima takdir, berusaha ikhlas tapi setelah belajar untuk menerima kakak, dan kita pacaran setelah menikah, saya malah dapat kabar begini. Gimana saya nggak lemes kak, sekarang begini saja. Kakak ceraikan saya, dan nikahin Nunik. Kasihan Nunik kak, kakak harus bertanggung jawab." ucap Tiara.
"Tidak dek, kakak tidak akan menceraikan kamu. Kakak akan tetap mempertahankan kamu, sampai kamu katakan 1000 kali juga kakak tidak akan ceraikan kamu." ucap Satria mempertegas.
"Kalau begitu, nikahin dia." ucap Tiara.
"Dek, apa kamu mau, suami di bagi dua? apa kamu mau waktu yang terbagi, kakak tidak akan menikahi dia." ucap Satria.
Tiara beranjak dari duduknya dan lebih memilih masuk kedalam kamar sebelah, Satria lantas menyusul Tiara dengan mengetuk pintu kamar.
"Dek, maafkan kakak."
Tidak ada jawaban." Satria pun menjauh dari pintu kamar.
***
Tiara terisak menangis, setelah mengetahui semuanya. Tiara langsung teringat dengan kekasihnya yang sudah tiada, Tiara semakin terisak menangis.
Hiks.. hiks..
"Kenapa kakak harus meninggal secepat ini, hiks.. hiks.. hiks.. saya kangen sama kakak."
Tiara menangis sambil memeluk bantal, Tiara melampiaskan amarahnya dengan cara memukul bantal.
Aaaaaaaaa
"Saya kangen kakak...! bawa saya kak, hiks.. hiks.. bawa saya kak...!! "
Satria mendengar teriakan Tiara, rasa bersalah begitu sangat besar. Satria ingin masuk ke dalam kamar, namun di kunci.
__ADS_1
"Maafkan kakak dek." ucap Satria.
****
Dengan mata yang sembab, Tiara keluar dari kamar. Tak terlihat Satria, bahkan di dalam kamarnya pun tidak ada. Tiara lantas memeriksa motor milik Satria, namun tidak ada.
Tiara semakin terisak, dan memilih untuk mengemasi pakaiannya. Tiara memasukkan semua pakaiannya, kedalam koper miliknya.
"Maafkan saya kak, saya belum bisa menerima Faktanya."
Tiara lantas keluar dari rumah kontrakan mereka, namun saat sampai pintu pagar rumah, Satria datang dan langsung turun dari motornya.
"Dek kamu mau kemana?" tanya Satria melihat koper di sampingnya.
"Saya mau pulang." jawab Tiara.
"Dek, kita selesaikan ya. Jangan libatkan kedua orang tua kita, kakak salah tapi mohon jangan pergi." ucap Satria.
"Maafkan saya kak, saya ingin pulang. Saya belum siap, untuk menerima kenyataan ini."
"Tapi dek, kalau kamu pulang, nanti mau bilang apa?"
"Saya akan bilang, kangen Ayah Bunda." ucap Tiara.
"Nggak dek, kamu tetap di rumah. Jangan pergi, tolong jangan pergi."
"Dek." panggil Satria.
Tiara duduk di sofa ruang keluarga, Tiara menangis dan Satria duduk diatas meja dengan posisi berhadapan dengan istrinya.
"Kamu jangan nangis terus, kalau kamu ingin melampiaskan amarah kamu, kamu boleh pukul Kakak, boleh kamu balas sepuasnya."
Tiara diam dengan memalingkan wajahnya kesamping. Satria memegang tangan Tiara, namun di tepisnya.
Satria berdiri dan melepaskan ikat pinggangnya, dan menaruh di tangan Satria. Lantas Satria melepaskan kaos nya, dan duduk berjongkok di depan Tiara.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Tiara.
"Pukul punggung kakak, dengan menggunakan ikat pinggang itu." jawab Satria.
"Kakak pikir, saya akan lakukan gitu?"
"Pukul dek, kakak pantas dapatkan hukuman cambuk dari kamu, kakak sudah salah."
Tiara lantas berdiri, memegang ikat pinggang yang di beri Satria. Sedangkan Satria telah siap, menerima cambukan dari istrinya.
Ceeettaaassss..
__ADS_1
Tiara mengayunkan dengan keras hingga membuat punggung Satria memerah. Tiara pun, kembali mencambuk Satria hingga berkali-kali. Bahkan terlihat ada beberapa luka cambukan yang membuat membekas dan memerah.
Satria menahan sakitnya cambukan dari Tiara, hingga Tiara menangis dan menjadi tempat Sekeras mungkin.
Aaaaaaaa
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kenapa ya Allah, hiks.. hiks.. kenapa takdir saya begini sekali."
Satria berusaha meraih tubuh Tiara, walau tubuhnya merasakan sakit, panas dan perih. Satria berhasil memeluk tubuh Tiara, dan Tiara membalas pelukan suaminya.
"Maafkan saya kak hiks.. hiks.. maafkan saya." ucap Tiara terisak.
"Kamu sudah puaskan? sudah puas mengeluarkan semuanya."
" Saya kangen Kak Esa."
Satria tersenyum kecut,saat keluar dari mulut istrinya.Satria sadar kesalahannya sehingga membawa Tiara mengingat masa lalu nya yang telah tiada.
***
Satria berusaha merebahkan tubuhnya, yang sakit akibat cambukan yang di terimanya. Pintu kamar terbuka, Tiara masuk dengan membawa kotak obat.
"Dek, kok belum tidur." ucap Satria.
"Saya akan obati luka kakak." ucap Tiara.
"Jangan dek, nggak usah di obati. Karena kakak pantas, dapatkan semuanya."
"Berbalik kak, saya akan obati kakak."
"Dek, kalau waktu bisa di putar. Apa kamu meminta Esa kembali?"
"Berbalik badan kak, saya akan obati."
"Dek, apa yang harus kakak lakukan, biar Esa hidup kembali? katakan sama kakak. Biar kamu bisa kembali sama dia, katakan sama kakak, harus dengan cara bagaimana?" ucap Satria.
"Kakak tidak akan bisa membuatnya kembali, dan saya pun tidak akan bisa bersatu dengannya. Sekarang saya akan obati luka kakak, sekarang balik badan." ucap Tiara.
"Apa kamu yakin, ingin minta cerai?" ucap Satria.
"Kalau kamu mau, saya siap." ucap Satria kembali.
.
.
__ADS_1
.