
Satria Esa menatap makam atas nama dirinya, Satria Esa menaburkan bunga diatas pusara dan mengirimkan doa untuk temannya yang meninggal dunia.
"Semoga kamu tenang di alam sana, dan kelak mendapatkan tempat terindah." ucap Satria Esa.
"Karena makam ini, saya di kira sudah meninggal dunia, mungkin jalan takdir saya seperti ini untuk kembali dan memulai hidup kedua. Maafkan kawan, kalau jasad kamu telah ditukar, saya akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya, dan menyerahkan makam ini keluarga kamu." ucap Satria kembali.
"Siapa kamu?"
Satria Esa menoleh ke kebelakang, kedua matanya berkaca - kaca, saat melihat Pak Aji Ayahnya.
"Maaf kamu siapa?" tanya Pak Aji kembali.
"Saya, sa - saya Firza." jawab Satria Esa bohong karena tidak ingin membuat Pak Aji kaget.
"Kamu temannya anak saya?" tanya Pak Aji.
"Benar Pak, saya baru sempat kesini." jawab Firza.
"Oh, kalau begitu mampir ke rumah, kebetulan kami sedang main disini."
"Iya Pak boleh."
"Sebentar ya, saya mau kirim doa dulu."
Satria Esa merasa bahagia bisa melihat lebih dekat lagi, sosok orang tua yang dirindukannya.
"Ayah saya ingin peluk Ayah."
****
"Ini rumah kami nak, tapi tidak ditempati karena disini penuh kenangan Esa. Ibunya selalu menangis terus kalau ingat, jadi kami memutuskan untuk pindah." ucap Pak Aji.
"Assalamu'alaikum bu." ucap Pak Aji memberikan salam.
"Walaikumsalam." ucap Ibu Retno dan tampak kaget melihat sosok pria yang pernah mengikutinya.
"Bu ini nak Firza, dia temannya Almarhum." ucap Pak Aji mengenalkan.
"Firza bu." ucap Firza lantas mencium punggung tangan Ibu Retno.
"Silahkan duduk." ucap Ibu Retno.
"Silahkan nak duduk, anggap saja rumah sendiri." ucap Pak Aji.
"Ayah bisa bicara sebentar?" ucap Ibu Retno.
"Sebentar nak, saya kebelakang dulu." ucap Pak Aji.
"Oh iya Pak silahkan."
Satria Esa melihat dalam rumahnya, yang masih tampak sama, bahkan ada photo dirinya yang masih terpanjang.
"Ayah, Ayah tahu dia siapa?" ucap Ibu Retno.
"Tahu, dia kan temannya Almarhum." ucap Pak Aji.
"Ayah tahu dia itu, pernah ikutin Ibu."
"Dia ikuti Ibu karena memang Ibu itu, orang tua Almarhum." ucap Pak Aji.
"Yah, Ibu telepon Ade. Dan kata Ade dia itu stress, Ayah jangan percaya sama ucapan dia."
"Ibu ini gimana sih, orang stress masa pakai seragam."
"Pokonya Ayah itu, jangan percaya ucapan dia."
__ADS_1
Dari balik tembok, Satria Esa mengintip dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Satria Esa lantas segera kembali ke tempat duduknya, saat kedua orang tuanya kembali ke arah ruang tamu.
"Nak suka minum kopi?" ucap Pak Aji.
"Suka Pak, tapi saya hanya sebentar kok, mau pamit." ucap Satria Esa.
"Lah kok sebentar, kita ngobrol dulu."
"Maaf, kenal Esa sudah lama?" tanya Ibu Retno.
"Sudah sangat lama, bahkan saya mengenal lebih dalam." jawab Satria Esa.
"Maaf, mata kamu cokelat? sama seperti Almarhum." ucap Unu Retno, dan Satria Esa tersenyum.
"Saya kembar bu Pak, saya memiliki ciri warna mata cokelat."
"Oh kamu kembar, seperti anak kami." ucap Pak Aji.
"Maaf, saya hanya ingin tanya sama kamu. Kenapa kamu ikuti saya kemarin? kalau kamu teman anak saya, kenapa tidak langsung temui saya waktu itu." ucap Ibu Retno.
"Saya minta maaf Bu, karena sosok ibu mirip dengan sosok ibu saya. Saya kira, ibu bukan orang tua Almarhum, ternyata orang tuanya." ucap Satria Esa.
"Ibu kamu kemana nak?" tanya Pak Aji.
"Kedua orang tua saya, masih ada. Tapi mereka sekarang tidak mengenali saya lagi." jawab Satria Esa.
Ibu Retno mencolek pinggang Pak Aji, dan lantas berbisik ke telinganya.
"Jangan percaya, dia itu Stress." ucap Ibu Retno.
"Stress karena orang tua?" bisik Pak Aji yang masih terdengar oleh Satria Esa.
"Mungkin orang menilai saya gila, dan selalu mengatakan hal yang tidak akan membuat orang percaya." ucap Satria Esa.
"Benar nak, kami minta maaf." udah Ibu Retno.
"Tidak apa - apa, Pak Bu."
*****
Inara dan Tiara telah sampai di rumah sakit Paradina Hospital, mereka berdua mencari informasi tentang Firza. Tiara dan Inara langsung mendatangi bagian informasi.
"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu CS rumah sakit.
"Maaf mba, saya ingin tanya tentang pasien ini." tunjuk Tiara.
"Oh ini putra dari dokter bedah plastik, dokter Alexander, tapi pak dokter sudah meninggal dunia sekitar satu tahun lebih." ucapnya.
"Nggak gini, maksud saya apa benar pria ini pernah dirawat disini, karena dia kan selebgram pasti tahu lah."
"Betul, beliau anak almarhum dokter Alexander, pernah di rawat disini sekitar 3 bulan terkena kanker, tapi beliau di pindahkan ke luar negeri, ada kabar putra nya meninggal dunia, ada kabar masih hidup."
"Barang kali mba tahu info lainnya, mengenai pria ini?"
"Maaf mba, saya tidak tahu."
"Makasih ya mba." ucap Tiara kecewa.
"Kata saya itu dia memang Satria Esa." ucap Inara.
"Saya masih belum percaya, kita harus cari cara lain."
"Cari tahu cara lain gimana?"
"Mencari keluarga dokter Alexander." ucap Tiara kembali ke meja informasi.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Customer Service.
"Bisa minta alamat dokter Alexander?" tanya Tiara.
"Bisa, nanti saya carikan data dari nama pasien." jawabnya.
Tiara dan Inara menunggu hampir 5 menit, dan akhirnya mendapatkan alamat rumah dokter Alexander.
"Ini alamatnya."
"Terima kasih. " ucap Tiara, lantas kedua segera menuju ke alamat tersebut.
"Tiara, apa kamu yakin, kalau disana masih ada keluarganya? kalau keluarganya tidak mau mengatakan sebenarnya gimana?" ucap Inara.
"Namanya kan usaha, apa salahnya kita coba."
****
"Sudah saat nya kamu tahu." ucap Satria Esa pada Alam.
"Apa! " tanya Alam.
"Tolong bantu saya, untuk menyakinkan kalau saya ini bukan Firza." jawab Satria Esa.
"Saya ini saudara kembar Ade yang meninggal dunia 6 tahun yang lalu, selama 5 tahun terakhir saya berusaha untuk mengatakan sebenarnya, kalau Satria Esa masih hidup."
"Saya tidak percaya, kamu bicara apa."
"Jembatan Merah, 16 Febuari pasti kamu pernah dengar cerita itu."
Alam menatap ke arah Firza yang mengaku sebagai Satria Esa, lantas Alam tertawa terbahak - bahak.
Hahahaha..
"Namun itu keren." ucap Alam.
"Tolong percaya sama saya." ucap Satria Esa.
"Bagaimana harus percaya, wajah kamu saja berbeda, dan kamu itu jelas selebgram Abdi Negara."
"Demi Allah, saya itu Satria Esa dan memang wajah ini milik Firza. Karena saat kecelakaan, wajah saya rusak 100 persen, dan saya di tolong oleh dokter bedah plastik, yang ternyata merubah semuanya." ucap Satria Esa menjelaskan.
"Bagaimana saya harus percaya kamu?" ucap Alam.
****
"Tiara, ini benar alamatnya?" ucap Inara, saat melihat sebuah rumah mewah tampak tidak terawat.
"Benar, ini alamatnya. " ucap Tiara.
"Tapi tidak ada penghuni loh." ucap Inara memperhatikan rumah mewah yang terbengkalai.
"Kita masuk kesana." ajak Tiara.
"Kamu jangan macam - macam, nanti didalam sana ada orang gila atau hantu gimana?"
"Kamu ini ya, yuk ah masuk."
"Tiara, ini tuh rumah kosong. Kamu kalau di bilangin nggak percaya, jadi orang tuh penasaran banget."
"Kita ini datang jauh - jauh, harus dapatkan hasilnya, kalau kita tidak dapat apa - apa kan rugi, yuk ah masuk." ucap Tiara sambil menarik tangan Inara.
.
.
__ADS_1