Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Milik Mu


__ADS_3

"Tiara, bangun Tiara." panggil pelan Satria Ade.


Tiara membuka kedua matanya, saat dirinya tidur di lantai tanpa alas. Tiara yang masih belum sadar, hanya diam duduk.


"Masuk, lanjut tidur di dalam." ucap Satria Ade.


Satria Ade membawa koper Tiara masuk, dan Tiara dengan jalan yang tidak seimbang, karena baru bangun tidur langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu kenapa pulang?" tanya Satria Ade.


"Hah.. apa kak?" tanya kembali Tiara.


"Lanjut tidur, masuk kedalam kamar."


Satria Ade memilih duduk menjauh, sedangkan Tiara memilih tidur di sofa tamu, karena tidak tega melihat istrinya yang sedang tertidur, Satria mengambil selimut, lantas menyelimuti Tiara.


"Kamu pulang, pasti disuruh orang tua kamu." ucap Satria Ade.


Satria bangun dari duduk jongkoknya, namun Tiara memegang tangan Arjuna, sehingga Arjuna tidak melanjutkan langkahnya.


"Kak, maafkan saya." ucap Tiara, namun kedua matanya masih terpejam.


***

__ADS_1


Suara kicauan burung, membuat Tiara bangun dari tidurnya. Tiara melihat, dan baru sadar dirinya tidur didalam rumah. Sambil mengingat - ingat, kenapa bisa sampai masuk.


"Kamu tadi malam tidur di teras, Kakak pulang minta kamu masuk, pindah tidur didalam." ucap Satria Ade sambil menyiapkan sarapan pagi.


"Terima kasih Kak." ucap Tiara.


"Sama - sama." ucap Satria Ade dengan wajah yang datar.


"kamu kenapa pulang? apa orang tua kamu meminta untuk memilih suami?" tanya Satria Ade.


"Karena saya ingin, mempertahankan rumah tangga kak."


"Kakak tidak bisa, kalau kamu masih memikirkan dia, lebih baik kita berpisah, kalau kamu memang masih cinta, buat apa di pertahankan." ucap Satria Ade.


Tiara berjalan ke arah Satria Esa yang sedang memunggunginya, kedua tangan Tiara, tiba - tiba memeluk tubuh Satria Ade dari belakang.


Tangan kekar memegang tangan Tiara, kedua matanya terpejam, merasakan sebuah pelukan yang tulus.


"Maafkan saya kak, tolong kasih saya kesempatan, untuk hubungan lebih baik lagi." ucap Tiara.


"Jujur Kakak takut, takut kamu pergi jauh meninggalkan kakak." ucap Satria Ade.


"Kita memang ditakdirkan bersama kak, dan ini awal dari segala - galanya, ada hitam dan putih." ucap Tiara.

__ADS_1


Satria Ade memutar tubuhnya, kini keduanya saling bertatap wajah, bahkan tangan kanan Satria Ade membelai wajah Tiara.


"Saya juga masih mencintai kamu dek, tolong jangan lakukan hal seperti kemarin, kakak takut, kakak takut kamu tidak mencintai kakak lagi."


"Saya akan tetap mencintai kakak, hati ini sudah menerima kakak, bahkan disaat saya sedang berjuang untuk melupakan masa lalu, dia datang. Ini ujian berat bagi kita, tapi jangan anggap dia musuh, dia keluarga. Saya dan dia, memutuskan untuk saling menerima kenyataan, tahu saja bagi kami itu cukup." ucap Tiara.


Satria Ade kembali memeluk tubuh Tiara, bahkan kedua nya saling berpelukan dengan erat.


"Kak." panggil Tiara, dan Satria Ade melonggarkan pelukannya.


"Kenapa sayang?" tanya kembali Satria Ade.


"I love you." jawab Tiara sambil tersenyum.


"I love you too." jawab kembali Tiara.


Satria Ade, memberikan sebuah ciuman pada Tiara, keduanya saling membalas dan bertukar saliva.


Satria Ade, mengangkat tubuh Taira, dengan bibir yang masih berciuman, hingga tubuh Tiara di baringkan di atas tempat tidur.


"Mulai sekarang, kakak tidak akan melepaskan kamu."


"Saya milik kakak, saya akan menjadi wanita satu - satunya, tidak ada pria lain."

__ADS_1


.


.


__ADS_2