Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Membuka Hati


__ADS_3

"Kak." ucap Tiara saat melihat Satria memasukkan semua pakaian ke dalam tas.


"Jujur saya sudah tidak tahan, kalau kamu terus meminta itu. Kamu tidak tahu, bagaimana perasaannya saya. Kamu harus tahu, saya itu mencintai kamu. Mau bilang berapa kali, tidak dan tidak saya tidak mau cerai sama kamu." ucap Satria lantas keluar dari kamarnya.


"Nunik kak, Nunik." ucap Tiara.


"Stop kamu sebut nama dia, kalau saya sudah tidak cocok dengan dia gimana? saya itu lebih nyaman sama kamu sekarang." ucap Satria.


"Maafkan saya kak." ucap Tiara dengan mata berkaca - kaca.


"Saya akan pergi, kalau kamu minta cerai lagi." ancam Satria.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Maafkan saya kak, hiks.. hiks.. " ucap Tiara terisak.


Satria memeluk tubuh Tiara, di dekatnya istri yang sedang di landa banyak masalah, yang membuatnya tidak bisa tidur.


"Maafkan kakak, kalau kakak sudah buat kamu seperti ini. Itu memang masa lalu kakak, kita punya masa lalu. Kalau kita terus, memikirkan yang kemarin, rumah tangga kita akan terus memanas." ucap Satria.


"Saya hanya merasa sebagai pemisah." ucap Tiara terisak.


"Berhentilah berpikir seperti itu,kalau kamu berpikir seperti itu, masalah akan terus ada."


****


"Ade." ucap Nunik, saat keduanya janjian di suatu tempat.


"Saya tidak menyangka, kayak mimpi kamu minta kita ketemu." ucap Nunik.


"Kamu masih punya perasaan sama saya?" tanya Satria.


"Kalau iya kenapa? dari dulu perasaan saya tidak pernah berubah." jawab Nunik.


"Kamu bicara apa saja? selama tinggal di sana." tanya kembali Satria.


"Ya bicara apa adanya, kalau kita memang pasangan serasi, kalau kita ini bakalan hidup bersama." jawab Nunik.


"Kita salah, memang kita melakukannya di luar nikah. Apa kamu merasakan di rugikan?" ucap Satria.


"Saya menyerahkan nya karena cinta, kalau bukan karena cinta, buat apa saya memberikan semuanya sama kamu. Disini saya sudah disakiti, kamu malah dengan Tiara." ucap Nunik.


"Kamu harus paham posisi saya, kamu harus tahu bagaimana saat itu, dan kamu lihat sendiri kan, saat tahu faktanya kalau kekasihnya sudah tiada."


"Terus tujuan kamu, minta saya untuk datang? hanya untuk mengatakan ini?"


"Saya hanya ingin, kita berpisah secara baik - baik, saya berharap kamu mendapatkan pria yang mau menerima kamu apa adanya."


"Saya paham, habis manis sepah di buang."


"Tiara sudah tahu semua, apa yang kita lakukan dulu." ucap Satria.


"Bagus dong, dia harus sadar kenyataan." ucap Nunik.


"Kita sahabatan, kita kenal baik - baik, dan akhiri dengan baik - baik lagi."


"Dasar brengsek kamu, benar - benar pria yang ter brengsek yang saya temui." ucap Nunik bangun dari duduknya.


"Saya doakan, hidup kamu tidak akan pernah bahagia." ucap Nunik lantas langsung pergi.


***


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Satria masuk kamar. Tiara terlihat sudah tidur, dengan memunggunginya. Satria naik ke atas tempat tidur, di peluknya tubuh Tiara.


"Kamu sudah tidur?" bisik Satria dengan mengecup punggung Tiara.

__ADS_1


Tiara bergerak, tangan Satria semakin memeluk erat tubuh Tiara. Mata yang tadi terpejam, kini membuka lebar.


"Kak." ucap Tiara.


"Ganggu tidur kamu ya? maaf ya dek." ucap Satria.


"Kakak dari mana? baru pulang jam segini."


"Kakak habis, menyelesaikan sesuatu yang penting." ucap Satria yang terus menciumi punggung istrinya.


Tiara membalikkan tubuhnya, menatap wajah suaminya sangat dekat. Di raba wajahnya, hingga menyentuh bibir.


"Lantas bagaimana?" tanya Tiara.


"Kita lupakan masa lalu, kita tutup masa lalu kita." jawab Satria.


"Saya menerima kakak, saya sadar harus menerima segala kekurangan pasangan kita."


"Walau masa lalu kakak salah.. " ucap Satria terpotong saat Tiara mengecup bibir Satria.


"Sudah ya, jangan di bahas lagi."


Satria lantas membalas mencium bibir Tiara, bibir mereka saling membalas. Kini Satria berada di atas tubuh Tiara, dengan posisi saling berciuman.


Praaannggg


Tiara mendorong pelan tubuh Satria, terlihat photo pernikahan mereka terjatuh dan pecah. Satria lantas bangun, dan segera memungut serpihan kaca yang berserakan.


"Kok bisa jatuh? padahal tidak ada hewan dan paku masih ada." ucap Tiara.


"Kakak juga nggak mengerti." ucap Satria lantas memindahkan ke atas nakas.


"Seperti sebuah pertanda." ucap Tiara.


"Sudahlah, jangan bahas begituan. Pernikahan kita akan baik - baik saja, Kakak ambil sapu dulu ya."


****


"Tidak ada yang berubah." ucap Firza.


Firza menoleh saat melihat Inara dengan mengayuh sepedanya melintasi jembatan. Firza lantas menghalangi Inara sehingga Inara mengerem mendadak.


"Hi." sapa Firza.


"Hi, maaf siapa ya?" ucap Inara.


"Maaf saya potong perjalanan kamu, kamu masih kenal saya?" tanya Firza.


****


"Kakak, lepas ih nanti seragamnya kotor loh." ucap Tiara saat memasak, Satria memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kakak lihat kamu gemes banget deh." ucap Satria.


"Kenapa, karena saya cantik ya?" ucap Tiara.


"Iya, kenapa baru sekarang sih kita di pertemukan." ucap Satria dengan mengecup pipi istrinya.


"Sekarang sarapan terus berangkat, nanti telat loh."


"Suapin dong, duduk di paha kakak."


"Mulai deh."


"Ayo dong yank, keburu telat."


"Iya."

__ADS_1


Tiara lantas duduk di kedua paha Satria, dan menyuapi suaminya, Satria mengambil alih suapan nya dengan berganti menyuapi Tiara.


"Kak, nanti lagi. Kakak saja yang makan, saya nanti setelah kakak berangkat." ucap Tiara.


"Nggak mau, kita sarapan satu piring bersama."


"Kakak nggak kenyang."


"Kenyang kok, masa tidak kenyang. Lihat kamu saja dek, sudah kenyang."


"Ih.. dasar gombal."


"Cium dulu dong." ucap Satria sambil memajukan bibirnya.


"Ih.. orang sedang sarapan." ucap Tiara.


Cup


"Kakak! " ucap Tiara saat tiba - tiba mendapatkan ciuman mendadak di bibirnya.


"Kenapa?"tanya Satria sambil tersenyum.


" Nyebelin." jawab Tiara.


"Nanti malam, siap ya." bisik Satria.


"Nanti malam apa kak?" tanya Tiara penasaran.


"Masa sih nggak ngerti, kita kan sudah sah." jawab Satria.


"Ih.. apaan sih." ucap Tiara tersenyum geli.


****


"Cieeee cerah banget kamu."ucap Alam.


" Ya dong, kita sudah baikan." ucap Satria.


"Syukurlah, saya jadi ikut senang." ucap Alam.


"Bagi - bagi dong bahagianya." ucap Firza sambil memberikan dua kaleng minuman bersoda.


"Makasih ya." ucap Satria.


"Eh Firza, kamu sering dapat endorse ya?" tanya Alam.


"Ya ada sih, tapi tidak semua saya terima." jawab Firza.


"Kamu masih singel?" tanya Satria.


"Iya nih, kalau ada cariin dong." jawab Firza.


"Ada sih sahabat istri saya, dia guru TK juga. Kalau mau nanti saya kasih nomer dia, masalah fisik cantik lah." ucap Satria.


"Hahahaha.. atur saja lah, gimana enaknya."


"Masa sih kamu jomblo? saya nggak percaya." ucap Alam.


"Asli saya jomblo malah jomblo ngenes."


"Hahahaha.. masa sih? nggak percaya. Kamu percaya Sat kalau dia jones?"


"Nggak percaya, secara dia happy - happy saja." ucap Satria.


.


.

__ADS_1


__ADS_2