Jembatan Merah 16 Februari

Jembatan Merah 16 Februari
Fakta Membuktikan


__ADS_3

"Ade, kamu ngapain bawa dia? katanya dia orang stress, kok kamu malah bawa dia." ucap Ibu Retno.


"Bu, nggak boleh begitu. Dia orang waras bu, kalau nggak waras, mana bisa dia masih pakai seragam begitu." ucap Pak Aji.


"Ayah Ibu, kalian harus tahu yang sebenarnya, siapa pria yang ada di depan kalian? kenapa dia ada disini, dan kenapa dia saya bawa. Ayah dan Ibu, mungkin bertanya - tanya, tapi saat saya cerita, Ayah dan Ibu tidak akan percaya." ucap Satria Ade.


"Maksud kamu apa sih De? Ayah sama Ibu tidak mengerti." ucap Pak Aji.


"Benar, langsung to the point saja. Jangan berbelit - belit, kamu cerita langsung." ucap Ibu Retno.


"Bu, Ayah dia ini bukan Firza. Tapi dia ini adalah Satria Esa Ade Tama, anak Ayah dan Ibu yang di nyatakan meninggal dunia." ucap Satria Ade.


"Kamu itu ngawur, kalau iya wajannya mirip kamu. Jelas ini beda, tuh lihat apanya yang mirip. Saudara kamu itu, sudah almarhum. Kamu sudah besar, masih bisa di bohongi seperti anak kecil." ucap Pak Aji.


"Iya benar kamu itu, jangan ngaco. Jadi yang stress itu bukan dia saja, tapi anak Ayah dan Ibu juga sama ikut stress." ucap Ibu Retno.


"Ayah Ibu, saya adalah anak kalian, yang dinyatakan meninggal dunia. Jenazah yang di makamkan itu, adalah teman saya, dia meninggal dunia di tempat, sedangkan saya masih hidup tapi wajah saya rusak 90 persen, saya di temukan oleh seorang dokter bedah plastik, dia membawa saya dan mengubah wajah saya menjadi Firza, sedang nama Firza itu sudah meninggal dunia." ucap Satria Esa.


"Kami tidak percaya!" ucap Pak Aji.

__ADS_1


"Tiara sudah membuktikan." ucap Satria Ade.


"Tidak mungkin, Ibu tidak percaya." ucap Ibu Retno.


"Sama Ayah juga Bund, tidak percaya." ucap Pak Aji.


"Demi Allah Ayah, Ibu. Saya adalah anak Ayah dan Ibu, memang kalian tidak akan percaya, tapi ini wajah ada yang merubah karena wajah saya rusak total, saya baru bisa kembali. Karena saya ingin hidup, ingin bertemu kekasih saya dan Ibu sama Ayah, dan saudara kembar saya. Tapi menunggu waktu yang tepat, dan baru bisa sekarang." ucap Satria Esa menjelaskan.


"Kalau memang kamu itu anak saya, kenapa tidak dari dulu, lari dan walau kamu terancam, apa orang yang menolong kamu itu, orang jahat?" ucap Ibu Retno.


"Saya sempat tidak bisa jalan, dia mengancam akan membunuh saya, kalau saya tidak bisa menuruti apa kata dia, selama 5 tahun, saya harus menjadi Firza, anak dari dokter bedah plastik yang menolong saya, setelah dia meninggal dunia, baru saya ingin kembali menjadi Esa." ucap Satria Esa.


"Ayah dan Ibu bisa tanya Tiara, dia sudah mencari bukti, bahkan mereka sudah bertemu." ucap Satria Ade.


"Jangan percaya bu, kita cari kebenarannya dulu." ucap Pak Aji.


"Kita bisa tes DNA, kalau tidak ada yang percaya." ucap Satria Esa.


"Baik Tes DNA, kalau terbukti kamu bohong, saya akan masukan kamu ke penjara." ucap Pak Aji.

__ADS_1


"Baik, saya siap di penjarakan. Kalau memang terbukti, saya telah berbohong." ucap Satria Esa.


****


Tiara sampai di rumahnya, setelah menggunakan kendaraan umum, yang membawanya sampai depan rumah. Lampu yang mati, pintu rumah bahkan terkunci rapat.


Tiara lantas mencoba, menghubungi suaminya, namun tidak kunjung di angkat. Tiara mencoba kembali menelepon, panggilannya tidak juga di angkat.


"Kakak kemana? kenapa tidak pulang ke rumah." ucap Tiara.


Sambil menunggu, Tiara duduk di kursi terasa depan rumahnya, malam yang semakin larut, membuat tubuhnya merasakan dingin.


"Ya Allah, apa kakak pergi tanpa arah, karena kesalahan yang saya buat. Semoga saja, kakak pulang, agar saya tidak kedinginan." ucap Tiara.


****


"Yah, tapi Ibu kenapa yakin, dia itu anak kita. Dia benar Esa, dari raut wajahnya dia tidak bohong." ucap Ibu Retno.


"Bu, jangan tertipu dari wajahnya, bisa saja dia sedang memakai topeng, Ayah tidak percaya, makannya Ayah tantang dia untuk tes DNA. Kalau dia tidak datang, berati dia itu pembohong." ucap Pak Aji.

__ADS_1


.


.


__ADS_2