
"Mba Tiara, makan dulu yuk, biar si dede dalam perut sehat." udah Suster sambil membawa nampan berisi makan siang.
"Keluarga saya mana sus?" tanya Tiara.
"Mungkin Pak Esa datang sore atau malam." jawab Suster.
"Siapa Pak Esa?" tanya kembali Tiara.
"Mba Tiara tidak kenal? bukanya dia orangnya tampan, gagah sayang sama mba Tiara. Coba lihat buket bunga itu, semuanya dari Pak Esa." jawab Suster sambil menyuapi Tiara.
"Dia pacar saya?"
"Tepat! "
Tiara tersenyum sambil mengambil buket bunga tersebut, yang dekat dengannya. Buket warna hitam, dengan mawar merah segar, terlihat cantik dan harum.
"Apa dia pengganti suami saya?" tanya Tiara.
Suster itu hanya tersenyum, lalu menyuapi lagi. Tiara memeluk buket pemberian dari Satria Esa.
Makan pun selesai, Satria Esa datang. Dengan tersenyum membawa buket mawar merah kembali, Suster pun langsung pergi.
"Boleh kakak masuk?" tanya Satria Esa.
"Iya." jawab Tiara dengan tersenyum.
"Ini buat kamu." ucap Satria Esa.
"Apa kamu, datang menggantikan suami saya? kamu di minta untuk bersama saya?"
"Iya, saya akan bersama kamu. Menjaga kamu dan anak kamu, kalau bisa dengan cinta."ucap Satria Esa.
" Apa kamu sayang?"
"Iya saya sayang." ucap Satria Esa.
****
"Kondisi dia itu kandan naik, kadang turun, kadang datar. Dan mood yang berubah - ubah, rasa kesal, sedih kadang bahagia. Dia bilang seperti itu, bisa saja besok berubah lagi." ucap dokter Yasmin.
"Untuk kondisi janinnya bagaimana?"
"Sehat, kami yang memperhatikan kondisinya. Karena si ibu, tidak peduli bahkan lupa kalau dirinya hamil."
"Saya minta, untuk kandungannya tetap terjaga." ucap Satria Esa.
"siap Pak, kami akan selalu memantau."
****
"Kakak, mau pulang ya?" tanya Tiara.
"Iya, kakak harus pulang. Maaf ya nanti besok kakak kesini lagi. Lihat perutnya sudah besar, semoga sehat semuanya."
"Iya Kak, besok jangan lupa bawa mawar lagi."
"Iya, kakak akan bawa mawarnya."
"Besok janji ya kesini."
"Iya kakak janji, sekarang kakak pamit." ucap Satria Esa mengecup kening Tiara.
Satria keluar dari kamar Tiara, menutup rapat pintunya, Tiara mengintip dari jendela tersenyum sambil melambai.
"Kok, hati saya sedih ya." ucap Tiara dengan berkaca - kaca.
Tiara lantas kembali ke arah dekat nakas, menciumi bunga mawar merah, yang wanginya mengharumkan seisi kamar.
"Ah... segarnya."
__ADS_1
****
"De, istri kamu dan anak kamu sehat. Walau sekarang, istri kamu harus dalam pengawasan dokter. Rasa kehilangan yang begitu besar, membuat dirinya jadi depresi. " ucap Satria Esa di depan pusara saudara kembarnya.
"Saya akan menjaganya, kamu tidak usah khawatir. Saya curahkan hidup ini, hanya untuk Tiara. Saya akan melanjutkan, perjuangan cinta kamu."
Satria Esa mengecup nisan bertuliskan, nama Saudara kembarnya. Lantas beranjak bangun dari duduknya, dan saat berbalik badan. Satria Esa melihat Nunik ada di depan nya.
"Saya lebih puas dia meninggal dunia, sama - sama tidak memiliki lelaki seperti dia." ucap Nunik.
"Saya sebagai perwakilan keluarganya, minta dengan ikhlas memaafkan kesalahan almarhum. Maaf atas segala salah dan khilaf." ucap Satria Esa.
"Saya telah memaafkan dia, tahu dia meninggal dunia. langsung saya mengucapkan, saya maafkan dia. Agar jalannya lancar, dan menjadi golongan terbaik di sana." ucap Nunik.
"Gimana kabarnya dia?"tanya Nunik.
" Siapa? maksud kamu istrinya?" tanya Satria Esa.
"Iya, istrinya!" jawab Nunik.
"Dia di rumah sakit jiwa, karena depresi kehilangan suaminya." ucap Satria Esa.
"Hahahaha.. karma itu ada, semuanya berbuah manis."
"Kamu boleh bangga, dan merasakan puas. Tapi ingat suatu saat, kamu juga akan menerima akibatnya." ucap Satria Esa lantas pergi.
Nunik hanya menatap sinis, dan pergi meninggalkan pemakaman. Namun sebelum pergi, Nunik meletakkan seikat bunga.
****
6 Bulan Kemudian
"Lihat Bu, calon cucunya perempuan." ucap doker Hana, saat cek kandungan Tiara.
"Bayinya sehat kan dok?" tanya Bunda Lidia.
"Nanti tolong diperhatikan kondisi pasien, vitamin yang utama." ucap dokter Hana, pada suster yang bertanggung jawab merawat Tiara.
"Baik dok."
"Pak Bu, kondisi bayi terlihat sungsang tapi posisi bisa berubah, kalau posisi bayi tetap senang seperti itu, terpaksa harus cesar."
"Baik dok, terima kasih informasinya." ucap Pak Agus.
****
"Sayang, kamu sebentar lagi lahir ke dunia. Kamu akan melihat indahnya dunia, yang penuh warna. Kamu akan tertawa, menghibur Bunda. " ucap Tiara dengan mengusap perutnya.
Satria Esa menatap Tiara dari jarak 20 meter, bersama dokter Yasmin. Terlihat Tiara, yang tampak tenang dan sudah bisa beradaptasi dengan pasien lainnya.
"Kondisi sudah mulai tidak seperti dulu lagi, saya harap Pak Esa bisa terus membantu, agar lebih semangat lagi."
"Sepertinya, dia juga sudah bisa menerima kondisi dia. Dan menerima fakta, kalau suaminya telah tiada."
"Benar Pak, sekarang lebih memperhatikan calon bayinya."
"Apa bisa di bawa pulang?" tanya Satria Esa.
"Sepertinya tidak Pak, karena kondisi dia masih kami observasi terus." jawab dokter.
"Saya serahkan semuanya sama rumah sakit ini."
"Baik Pak."
***
"Mau baju yang model apa?" tanya Ibarat, saat berada di toko perlengkapan bayi.
"Katanya bayinya perempuan, beli lah buat yang cewek, kamu pilih yang bagus." jawab Satria Esa sambil memilih tempat tidur Bayi.
__ADS_1
"Mba, tolong bungkus ini, sepatu bayi, stroller sama ini jaket nya lucu - lucu." ucap Satria Esa pada pelayan toko.
"Ya ampun kak, ini satu toko kakak borong semuanya?" ucap Inara.
"Iya terus kenapa?" ucap Satria Esa.
"Tapi kak, bayi itu cepat besar loh. Bahkan bajunya, hanya di pakai sebentar."
"Nggak apa - apa, buat anak berapa pun harga tak beli."
"Bukan masalah harga, tapi ini nggak akan terpakai semuanya."
"Hus jangan protes."
Satria Esa lantas meminta kasir menghitung total belanjaannya, hampir puluhan juta hanya untuk calon keponakannya.
"Totalnya 35 juta Pak, mau pakai cash atau non tunai?" ucap Kasir.
Non tunai."
"Busyet deh, 35 juta." ucap Inara menggelengkan kepalanya.
****
"Anak Ayah, apa kabar?" ucap Satria Esa dengan mengusap perut Tiara.
"Kabar baik Ayah." ucap Tiara.
"Ada yang dirasa?" tanya Satria Esa.
"Tidak ada, rasanya hanya kangen saja." jawab Tiara.
"Sabar ya, kalau sembuh nanti juga akan sama - sama."
"Iya, makasih sudah selalu ada."
"Iya sayang, sekarang minum vitamin dulu. Biar ibu dan bayinya sehat." ucap Satria Esa memberikan vitamin, yang dari dokter.
"Kak, saya kangen makam Kak Ade." ucap Tiara tiba - tiba.
"Nanti kita kesana." ucap Satria Esa.
"Saya kangen kak, hiks.. hiks.. hiks..!" Tiara terisak, lantas segera memeluknya.
"Jangan menangis, tidak bisa kesana kita bisa kirim doa dari sini."
"Iya."
Satria Esa mengecup kening Tiara, lantas mengusap perutnya, ada rasa gerakan dari dalam perut Tiara.
Satria tersenyum, saat bergerak aktif, dan bergerak kembali. Namun tidak dengan Tiara, yang tiba - tiba menjadi sedih."
"Kok sedih? kenapa?"
"Hiks.. hiks... saya rindu kak. Satria Ade."
"Tiara memang berganti mood, disaat tiba - tiba sedih, dari sini kami melarang Pak Satria untuk membawanya pulang, karena memang mba Tiara itu belum stabil. "
ucapan kata itu yang terucap dari bibir dokter,yang masih di ingat oleh Satria Esa.
"Semoga kamu cepat sembuh." ucap Satria Esa.
****
"Kalau anak saya di bully bagaimana? nanti kalau ada yang tahu, Bunda kamu gila
Aaaaarrrrrggghhhhh
Bagaimana ini, bagaimana untuk ke depannya." ucap Tiara menjerit.
__ADS_1