
"Jadi Pak, teman saya ini cinta pertama Kak Satria, dia tidak tahu kalau Kak Satria meninggal dunia. Saudara kembar dan keluarganya tidak memberitahu kalau Kak Satria itu meninggal dunia, selama 5 tahun di tutupi masalah ini, dan di tahun ke 5 baru, ada yang buka itu juga pacar dari saudara kembarnya, yang sekarang jadi suaminya. Teman saya itu, berharap kak Satria masih hidup, ternyata doanya di kabulkan tapi dia kembali saat teman saya sudah jadi istri saudara kembarnya." ucap Inara menjelaskan.
"Seandainya saat itu, dia bisa lari dia tidak akan seperti ini, karena saat itu kakinya mengalami patah tulang, dan selalu di ancam Karena alasan lainnya, nak Satria ingin tetap hidup demi cinta pertamanya, dia pun merasa disisi lain berhutang budi, bisa sembuh dan diselamatkan dari kecelakaan maut." ucap Pak Latif.
Tiara yang masih lemas, tidak bisa berkata-kata. Inara terus berusaha, agar Tiara bisa kuat, dan tidak tergoyahkan hatinya.
"Sekarang kamu percaya kan? doa kamu terkabulkan, cinta pertama kamu itu, masih hidup. Tapi ingat, walau kamu masih memiliki rasa sayang, kamu itu istri dari saudara kembarnya." ucap Inara.
"Kenapa dia kembali, disaat saya sudah milik orang lain. Disaat saya sudah bahagia dengan orang lain, kenapa tidak disaat sebelum menikah." ucap Tiara.
"Ini sudah jalan takdir kalian, di pertemukan lagi setelah kamu tidak sendiri. Saya hanya ingin ingatkan sama kamu, ingat jangan sampai goyah." ucap Inara.
"Maafkan, atas kesalahan dokter Alexander." ucap Pak Latif.
"Tidak Pak, dokter Alexander tidak salah. Kalau tidak di tolong oleh dia, Kak Satria mungkin akan cacat. Hanya saja, dia tidak bisa menerima kalau dirinya menjadi Firza, dia hanya ingin menjadi diri sendiri. Ingin mengatakan kalau dia adalah, pria yang dinyatakan meninggal dunia." ucap Inara.
"Seandainya dokter Alexander tidak memaksa dan mengancam, mungkin tidak akan seperti ini." ucap Tiara.
"Untuk menebus kesalahan Pak dokter, saya harus lakukan apa?" ucap Pak Latif.
"Bantu mengatakan pada keluarganya, dan bantu mengatakan pada kesatuan Firza dan Kak Satria untuk berita sebenarnya." ucap Inara.
****
"Kamu ingat kan pesan saya?" tanya Inara.
"Iya saya ingat." jawab Tiara.
"Ingat, suami kamu itu Satria Ade. Apapun yang terjadi nanti bila keadaan kembali lagi seperti awal, kamu harus terbiasa, kamu harus menerima hidup dalam keluarganya, di depan mantan kekasih kamu."
"Itu yang membuat saya tidak kuat."
"Kamu harus bisa, harus kalau kamu ingin mempertahankan rumah tangga kamu."
****
"Gimana tadi reuni nya?" tanya Satria saat Tiara baru sampai.
"Menyenangkan." jawab Tiara.
"Pasti capek ya, habis perjalanan jauh." ucap Satria, dengan memijat kedua bahu Tiara saat duduk di sofa.
"Capek banget Kak, capek tenaga dan capek pikiran."
"Memang capek pikiran apa?"
"Capek mikirin kakak." ucap Tiara tersenyum dengan menoleh ke arah Satria.
Satria pun lantas mencium bibir Tiara, Tiara lantas membalas ciumannya, bahkan meminta lebih dengan mendorong tubuh Satria.
"Hey.. mau ya?" goda Satria.
"Kalau iya kenapa?" tanya Tiara yang sudah mengangkat kaos, yang di pakai Satria hingga sudah sampai di dada.
Satria menarik tengkuk leher Tiara, kedua saling berciuman, Tiara yang tampak lebih agresif, memimpin permainan.
Tangannya turun kebawa bagian inti suaminya, dengan perlahan membuka resleting. Dengan pelan, mengeluarkan rudal milik Satria dan memainkan dengan lidah.
Satria merasakan sensasi yang melayang, saat istri memainkan layaknya makan sebuah lolipop.
Saat sudah sangat mengeras, Tiara telah siap memasukan ke miliknya, dengan pakaian yang masih melekat pada keduanya.
Aaaahhhh
Keduanya bersama merasakan nikmat, saat penyatuan. Tubuh Tiara meliuk bagai penari ular, sedangkan kedua tangan Satria memegang pinggang Tiara dengan selalu menekan, sampai ujung surga kenikmatan.
Aaaaahhhhhh
Mmmmmhhh
__ADS_1
"Kak mau keluar." teriak Tiara.
Aaahhhhh
Terasa bagai air mancur, hingga Satria merasakan air cinta yang keluar, dirinya langsung mengambil alih permainan. Dengan berganti posisi, Tiara memunggungi suaminya.
Dengan terus memaju mundur bagai memompa, disertai suara - suara indah keduanya menghiasi seisi rumah.
***
Tiara keluar dari kamar mandi, melihat suaminya sedang tertidur lelap, setelah membersihkan badan. Tiara berjalan pelan, mengambil ponsel milik suaminya.
Tiara mencari kontak nama Satria Esa, namanya tersebut tidak ada, Tiara mencari nama Firza, dan menemukan kontak tersebut. Tiara pun menyalin nomer kontak Firza, dan memasukkan dengan nama yang berbeda.
***
Satria Esa melihat sebuah nomer asing, nomer yang tidak di kenalnya. Satria tidak mengangkatnya, namun nomer asing tersebut menghubungi kembali.
"Hallo." ucap Satria datar, saat mengangkatnya.
"Kak."
Satria Esa diam, saat mendengar suara yang sangat di kenal. Satria tersenyum mendengar, suara wanita yang sangat dicintainya.
"Kak, hiks.. hiks.." panggil Tiara dengan terisak.
"Dek, kamu sudah tahu kalau ini kakak?"
"Iya kak, saya sudah tahu."
"Ini momen yang kakak tunggu dek, momen kamu tahu kakak masih hidup."
"Kenapa baru sekarang kita ketemu kak, kenapa disaat saya sudah berkeluarga, dulu sebelum menikah, berharap kakak masih hidup, ternyata doa saya terkabul tapi kita bertemu di waktu yang tidak tepat."
"Apa kita bisa bertemu?" tanya Satria.
"Kapan kakak mau?" tanya kembali Tiara.
****
Satria mendengarkan dari balik pintu teras belakang, saat istrinya menelpon saudara kembarnya. Satria lantas segera pergi, saat Tiara membalikkan tubuhnya.
"Kak, sudah bangun?" tanya Tiara mendapati suaminya sedang duduk di ruang tamu.
"Iya, kakak lapar. " jawab Satria.
"Mau makan apa?" tanya Tiara.
"Makan apa saja, yang penting perut terisi." jawab Satria.
"Makan sama kornet mau?"
"Boleh, kalau bisa buat nasi goreng kornet ."
"Ok sayang."
Satria menatap punggung Tiara yang sedang bejalan ke arah dapur, kedua mata Satria memerah menahan rasa amarah, yang sudah menumpuk di dalam dada.
"Apa kamu akan mengkhianati saya Tiara?"
***
"Gimana kak, enak?" tanya Tiara.
"Enak sayang, ehm.. besok kan sabtu gimana kita main ke rumah Ayah Bunda,sore kita berangkat , sudah lama kita tidak silahturahmi kesana." jawab Satria dengan mengajak.
"Kalau besok, saya tidak bisa kak. Paling hari minggu saja gimana? besok saya ada janji."
"Janji sama siapa?" tanya Satria dengan curiga.
__ADS_1
"Sama ibu - ibu RT sini, ada acara arisan gitu."jawab Tiara bohong.
" Kamu ikut arisan? kok suami kamu dek tidak di kasih tahu?"
"Baru mulai kak, lumayan dapat nya."
"Oh baru mulai, kirain dari tadi."
"Kak, rumah gimana sudah selesai renovasi?"
"Sudah, tinggal cat pagar saja."
"Sudah nggak sabar, ingin cepat pindah kak."
"Sama kakak juga, kalau bisa pindah yang jauh."
"Pindah yang jauh kemana kak? apa kakak akan, pindah dinasnya?" ucap Tiara.
"Ya inginnya begitu."
"Memangnya kenapa?"
"Sudah tidak betah tinggal disini, banyak masalah yang akan terus ada setiap harinya."
"Masalah apa kak? coba cerita sama saya."
"Kamu tidak usah tahu, karena kamu juga akan tahu sendiri."
Tiara hanya diam, melihat wajah suaminya tiba - tiba berubah menjadi datar, sedangkan Satria yang sedang mengajak hatinya untuk tetap menahan emosi.
****
"Dek." panggil Satria Esa.
Tiara berdiri dari duduknya, saat itu taman kota tampak sepi. Hanya ada suara klakson mobil, dan hanya ada mereka berdua. Yang berdiri jauh dari keramaian.
"Kak." ucap Tiara.
Satria Esa langsung memeluk tubuh Tiara, keduanya berpelukan sangat erat, Tiara terisak saat memeluk kembali, pria yang sangat dirindukannya.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kakak sudah pulang dek, maafkan kakak." ucap Satria.
"Hiks.. hiks.. hiks, saya menunggu kakak selama 5 tahun tapi hanya pusara yang saya temui. Sekarang kakak kembali, tapi kita tidak bisa saling bersatu."ucap Tiara sambil terisak.
Satria Esa mengecup pucuk kepala Tiara, dan mereka pun duduk di kursi taman, dengan tangan masih saling menggenggam.
" Dek, kakak itu senang kamu akhirnya tahu kalau kakak ini adalah cinta pertama kamu, kakak harus buktikan apalagi kalau, sebenarnya kakak masih hidup."
"Saya mencari tahu tentang kakak, saya ingin membuktikan sendiri, apa ini benar atau bohong. Dan ternyata kakak tidak bohong, kakak kembali walau dengan wajah yang berbeda."
"Apa kamu sampai saat ini, masih sayang sama kakak?" tanya Satria Esa.
"Kalau ditanya sayang, saya masih sayang. Cinta pertama itu tidak bisa di lupakan, tapi situasi sudah berbeda." jawab Tiara.
Satria menghela nafas panjang, dengan tangan yang masih saling menggenggam erat.
"Kak, sekarang kita tidak bisa seperti dulu lagi. Kita ini adalah saudara, jadi kita harus jaga jarak, dan seperti tidak pernah terjadi hubungan yang spesial."
Dari balik pohon Satria melihat istrinya bersama dengan saudara kembarnya, kedua tangannya mengepal saat melihat keduanya masih genggaman tangan.
Satria lantas segera pergi meninggalkan keduanya, dengan perasaan marah. Hatinya sakit, melihat istrinya kembali ke cinta masa lalunya.
.
.
.
__ADS_1
.