Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 11 - Neraka


__ADS_3

Hari ini hari pertama Yoona masuk kuliah setelah ia menyandang status sebagai istri dari dosennya sendiri. Namun, ia tetap keukeuh dengan apa yang menjadi syaratnya, yaitu merahasiakan hubungan mereka entah mau sejak kapan.


Yoona dan Arthan tengah berdebat didepan rumah, Yoona yang ingin menggunakan angkutan umum atau taksi untuk ke kampus tapi Arthan keukeuh untuk mereka pergi ke kampus bersama-sama.


"Tapi Pak? aku enggak mau kalau mereka melihat kita pergi ke kampus bersama!" protes Yoona.


"Sudah jangan banyak berdebat. Sebaiknya cepat naik, kita akan terlambat!" tegas Arthan dengan suara yang begitu dingin, yang tentunya membuat Yoona terpaksa naik ke mobil Arthan.


Seperti biasa Arthan mengendarai kendaraannya dengan sangat patuh terhadap rambu, ia duduk dengan tenang dengan wibawa yang dia punya. Andai saja Arthan bukanlah dosen killernya, mungkin dengan senang hati ia akan memamerkan hubungan mereka pada semua orang. Tapi ini Arthan, yang mereka tahu kalau Yoona sangat membencinya, dan apa yang akan dipikirkan mereka jika Yoona malah datang bersama Dosen killernya.


Yoona menggeleng dengan cepat, ia membayangkan teman-temannya mengejek dirinya saja membuat bulu kuduknya berdiri. Dan dengan tiba-tiba Yoona menjerit, "Stop!" Ciiitttt!! Arthan menginjak pedal rem dengan cepat membuat jejak ban diaspal tergambar jelas.


Tubuh merekapun sedikit terpental jika saja tidak memakai seatbelt, pasti mereka juga akan cidera karena terpentuk dasboard mobil.


Arthan menoleh dengan cepat dengan raut wajah yang kesal. "Kenapa kau menjerit?!"


"Aku turun disini aja, Pak,'' ucap Yoona tanpa mau tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah.


"Kalau emang mau turun disini ya cukup bicara saja tidak perlu berteriak!" lugas Arthan.


"Ya maaf."


"Untung saja tidak ada kendaraan dibelakang kita, kalau ada, mungkin kita sudah mengalami kecelakaan," lanjut Arthan dengan ketus.


Tapi Yoona tetaplah Yoona yang tidak akan peduli hal itu, apalagi harus berdebat dengan Arthan karena saat belum menjadi suami saja. Arthan sudah banyak mengatur hidupnya saat di kampus, bayangkan saat ini sudah menjadi suaminya bagaimana menderitanya Yoona. Batin Yoona men-drama.


Baru saja Yoona keluar dari mobil. Arthan sudah melajukan mobilnya begitu saja membuat Yoona melontarkan sumpah serapahnya disana. "Suami durhaka! semoga kau tersedak air liur mu sendiri!"


Jarak tempat dia berdiri dengan gerbang utama kampus sudah tidak terlalu jauh, tapi karena hari ini cuaca cukup terik membuat Yoona menyesali keputusannya untuk turun dari mobil Arthan yang sejuk dan nyaman itu. Terlebih lagi saat dia sampai di kampus yang ternyata hari itu terbilang sepi tidak seperti biasanya


Ya sebagian penghuni kampus tengah mendinginkan kepalanya yang panas karena teriknya matahari, di beberapa ruangan

__ADS_1


Ada yang sengaja masuk ke perpustakaan, ada yang merebahkan tubuhnya di tempat ibadah ada juga yang ikut masuk kedalam kelas walaupun bukan gilirannya berada dikelas itu.


Yoona menghentakkan kakinya berulang kali, ia kesal karena halaman kampus tidak terlihat ada mahasiswa.


"Kalalu tau begini, aku enggak bakal minta turun disana," gerutu Yoona.


"Panas ya?" tanya seseorang yang saat ini sedang meletakkan tasnya diatas keapala Yoona dan berjalan disampingnya


Yoona mengangkat pandangannya, melihat ada sesuatu yang menghalangi panas dari rambut hitamnya.


Pria tampan dengan gigi gingsulnya lah yang saat ini tengah tersenyum lembut padanya, ya mungkin sebagian wanita yag ada dikampus akan berteriak histeris karena Asdos favorit disana bisa terseyum begitu tulus dan itu juga dirasakan sedikit pada Yoona, yang merasakan jantungya berdegub sedikit lebih capat dari biasanya.


"Ka Noval? Ada kelas juga hari ini?'' tanya Yoona.


"Iya, tapi masih ada waktu dua jam lagi," jawab Noval.


Biarpun sikap Noval sangatlah manis, tapi Yoona tidak merasakan lebih dari sebatas debaran jantung itu saja, tidak lebih! karena dia masih mengingat saat Noval menarik tangannya untuk berpegangan saat sedang berboncengan kemarin. Membuat title mesum pada diri Noval yang sudah tercatat apik pada otak Yoona, membuat gadis itu sedikit ilfeel padanya


"Kak aku duluan ya ternyata kelas ku sudah mulai, Pak Arthan yag mengisi matkul hari ini, aku tidak mau mendapatkan hukuman darinya. Bye!"


Yoona memotong kalimat Noval begitu saja, dan berlalu pergi meninggalkan Noval yang terdiam ditempatnya Noval menghembuskan napasnya. Baru saja ia akan berniat mengajak Yoona untuk sekedar berjalan-jalan karena malam nanti adalah malam minggu. Malamnya para pasangan muda-mudi.


Jika dia bukan Yoona, sudah dipastikan kalimat yang terpotong itu bukanlah penolakan tapi dengan lantang para wanita akan mengatakan 'Ya aku mau!'


Selama Noval berkuliah disana, baru Yoona lah yang bersikap biasa saja, bahkan kerap menolak ajakannya. Tapi perlu dicatat, seorang pria sangat menyukai karakter wanita yang memang bersikap apa adanya, seperti Yoona.


Dibalik jendela, tepatnya lantai dua gedung kampus. Arthan melihat Yoona yang berjalan bersama dengan Noval. Seperti sembilu menggores hati, itu yang Arthan rasakan saat ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Entah nanti.


Yoona mengetuk pintu kelas lalu membukanya. Arthan yang sedang menjelaskan soal mata kuliah pada mahasiswanya hanya meliriknya tanpa berkata-kata.


Tapi saat Yoona akan duduk di kursinya, suara Arthan membuat ia tersentak.

__ADS_1


''Ini bukan kali pertama kamu telat di mata kuliah saya, saya tunggu kamu di ruangan saya, setelah mata kuliah ini!''


Yoona yang mendapat teguran pun tentu merasa tidak enak dengan para mahasiswa yang kini matanya tertuju kepadanya.


Yoona kira Arthan akan berubah setelah menjadi suaminya. Tapi ternyata lebih parah, dia bahkan tidak segan-segan menegur Yoona di depan banyak orang seperti itu.


''Baik Pak! maafkan saya.'' Yoona pun duduk di kursi nya.


Arthan tidak lagi menjawab, ia kembali menekan remote yang menggeser ke bawah pada layar monitor.


Mata kuliah yang diisi oleh Arthan pun usai para mahasiswa berhamburan keluar begitu juga Arthan. Yoona dan dua temannya masih berada di sana, ia masih merasa kesal dengan dosen sekaligus suaminya itu. Dua temannya ini sedang menenangkan Yoona yang sejak mata kuliah berlangsung Ia terus menggerutu bahkan tidak ada satupun tulisan yang ia tertulis di bukunya.


''Sabar! kami berdiri di belakang mu,'' seloroh Wulan.


''Ya, kami berdiri dibelakang mu kok, Una. Tenang saja,'' timpal Amel.


''Kalau aku di hukum, kalian mau juga ikut dihukum?'' tanya Yoona dengan polosnya, berharap kalau dua temannya itu benar-benar berdiri dibelakangnya.


Dengan wajah yang tidak berdosa Wulan dan Amel malah menggelengkan kepalanya seraya berkata secara bersamaan.


''Tentu saja tidak!''


''Bandit kalian berdua!!'' pekik Yoona kesal.


''Una, kita bilang 'kan berdiri dibelakang, bukan berarti kamu dihukum kami juga mau dihukum, hehe...'' jelas Wulan dan di angguki Amel.


Yoona memutar matanya kesal, dengan wajah yang ditekuk ia membereskan buku-bukunya lalu bangun dari duduknya.


''Kamu mau kemana?'' tanya Amel


''Ke Neraka!'' jawab Yoona sebelum ia benar-benar pergi dari sana untuk keruangan Arthan yang dia sebut sebagai 'Neraka'.

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2