Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 17 - Flashback


__ADS_3

Arthan melongok kedalam kamar, ia 8ngin melihat Yoona yang tadi masih duduk di kasur. Alisnya mengernyit heran, kenapa pagi ini tidak ada penolakan dari bibir tipis gadis itu.


Arthan tersenyum bahagia, ia menganggap kalau sedikit demi sedikit Yoona mulai membuka hati untuknya.


Arthan berdiri didepan kaca yang besar. Ia tengah memakai dasinya yang sudah lama ia tidak pakai. Ya sejak dia memutuskan menjadi dosen di Gunadarma, ia sudah tidak memakai dasi lagi, ia hanya memakai kemeja dan celana bahan.


Ia mengingat ketika pertama kali bertemu dengan Yoona disana. Itu pertama kalinya hatinya terpatri nama Yoona.


''Terima kasih Papa, dan maaf. Maaf aku pernah menolak permintaan Papa, dan terima kasih karena gadis pilihan mu memang tepat.''


Arthan mulai termenung mengingat ketika Ia berada di rumah sakit.


''Arthan, Papa punya permintaan buat kamu,'' ucap Asraf Miller, ayah dari Arthan Miller.


''Apa itu, Pah?''


''Papa mau kamu menikah dengan putri teman Papa.''


''Menikah?! enggak Pah, Arthan belum siap menikah!'' tolak Arthan begitu tegas.


''Begitu juga dia, dia pasti belum siap. Tapi sebaiknya kamu mencari tahu dulu tentangnya. Jangan langsung menolak, karena Papa yakin dia gadis yang baik, seperti almarhum ibunya.''


''Enggak, Arthan tetap tidak berniat menikah untuk sekarang-sekarang ini.''


Arthan pun berlalu pergi meninggalkan sang Papa yang ternyata sedang mengatur napasnya. Tanpa Arthan tahu juga ternyata itulah permintaan terakhir sang Papa.

__ADS_1


Maka saat ia kembali kekamar inap setengah jam kemudian setelah ia pergi meninggalkan sang Papa, yang sedang sekarat. Ternyata sang Papa sudah tidak bernyawa, tentu Arthan menyesali perbuatannya.


Dia bahkan tidak menyaksikan detik-detik sang Papa berpulang kepangkuan sang khalik.


Arthan yang humble dan hangat menjadi pribadi yang sangat tertutup, dingin dan bahkan tidak bisa berbaur dengan banyak orang.


Tapi beruntung, Ziko sahabatnya terus mendampinginya bahkan dia yang mengingatkan permintaan terakhir sang Ayah.


Dengan sangat terpaksa Arthan pun mengambil keputusan untuk mengajar di universitas Gunadarma dan meninggalkan sementara perusahaan yang ia percayakan pada sang sahabat hanya untuk mengetahui gadis seperti apa yang membuat sang ayah melontarkan permintaan terakhirnya itu.


Dan disanalah ia bertemu dengan sosok manis yang memiliki kepribadian ceria, senyumannya yang mampu membuat ia menekan dadanya karena jantungnya kerap berdegup begitu kencang.


Ia begitu berusaha menjaga gadis pilihan sang Papa itu yang tak lain adalah Yoona Navia.


Arthan tersadar dari lamunannya ketika mendengar pintu kamar diketuk dan dengan segera ia membukakannya.


''Pak, mau sarapan apa? biar bibi siapin,'' ucap wanita paru baya itu.


''Tidak perlu, Bi. Kami akan makan diluar.''


Setelah mendengar jawaban sang Tuan, wanita yang dipanggilnya Bi sumi itu, berlalu pergi dari sana. Arthan melirik kearah ruang tv, yang semalam keadaannya sangat berantakan bahkan TV nya rusak kini sudah berganti baru dan ruangan itu terlihat seperti sedia kala.


Klik!


Arthan menoleh kebelakang yang ternyata Yoona lah yang baru saja keluar dari kamar mandi den memakai baju handuk dengan rambut yang basah.

__ADS_1


Dengan segera, ia memalingkan wajahnya. Gugup, ya itulah yang Arthan rasakan saat ini. Melihat Yoona seperti itu membuat jantungnya kembali berdegup begitu kencang. Seksi, ya hanya itu yang bisa menggambarkan Yoona saat ini, ya walaupun baju handuk yang Yoona kenakan sangatlah tertutup, tapi rambut basah membuat kesan seksi itu terpatri disana.


''Saya tunggu dibawah ya,'' ucap Arthan yang sedang mengambil kunci mobilnya diatas nakas tanpa menoleh ke arah Yoona.


Yoona yang sedang mengeringkan rambutnya hanya memperhatikan Arthan yang terlihat sekali menghindari bertatap muka dengannya.


Yoona tersenyum jahil, ia tahu kalau saat ini Arthan tengah menjaga pandangannya dan juga gugup. Maka dari itu dengan sifat bawaan lahirnya, yang jahil.


Yoona malah melangkah kearah Arthan dan berdiri didepan Arthan.


''Pak, bantu saya mau?''


Arthan tersentak, beberapa kali ia mengerjapkan matanya, bahkan pipi dan hidungnya sudah memerah menandakan kalau memang dia tengah gugup.


Arthan berdehem sebentar setelah itu bertanya dengan berusaha agar terlihat biasa saja.


''Bantu apa?''


''Keringkan rambut saya. Mau ya?'' Yoona memberikan senyuman termanisnya, sungguh! Yoona sangat jahil sekali. Bahkan dia sangat tahu kalau Arthan sebenernya sedang menahan rasa gugupnya.


''Kamu bisa keringkan itu sendiri 'kan?''


Arthan menjawab dengan netra yang melihat kearah lain. Entah keberanian apa yang Yoona punya, bahkan Yoona semakin bertingkah berani ia melah menyentuh wajah Arthan agar menatap kearahnya.


''Pak saya disini!''

__ADS_1


Arthan membelalak, matanya melihat wajah manis Yoona yang polos tanpa riasan itu, sungguh kakinya sudah terasa lemas karena menahan deru jantungnya.


Happy Reading...


__ADS_2