Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 20 - Sangat Kecewa


__ADS_3

Mata kuliah kedua akan dimulai tiga jam lagi, ketiga gadis itu berniat akan pergi ke pameran lukisan yang diadakan fakultas lain.


Tapi ketika mereka akan keluar dari gedung kampus, Arthan dari belakang memanggil Yoona.


''Pak Arthan? ada apa?'' tanya Amel yang malu-malu.


''Emm, saya ada urusan dengan Yoona, bisa?''


Amel dan Wulan saling melirik dan kemudian mengangguk lalu menjauh dari mereka. Tidak ada kecurigaan pada hati kedua gadis itu, justru mereka mengira kalau Arthan akan menegur Yoona karena kejadian tadi dikelas.


Amel dan Wulan merasa khawatir, mereka memperhatikan Yoona dan Arthan dari jarak lumayan jauh. ''Jangan sampe Yoona kena masalah,'' ucap Wulan dan diangguki Amel.


Ditempat Yoona dan Arthan.


Arthan yang memperhatikan sekeliling dulu sebelum bicara, membuat Yoona ikut melakukan hal yang sama seperti Arthan.


''Mas? kenapa?''


Arthan menatapnya.


''Mas ada kerjaan lain, nanti ada supir yang jemput kamu, paham?'' ucap Arthan sedikit berbisik.


Yoona mengangguk mengerti. Arthan tetap menatapnya, dan begitu juga Yoona.


''Kamu marah sama saya?''


''Enggak!''


''Jangan berbohong.''


''Enggak mas.''


Terdengar helaan napas Arthan yang begitu berat, membuat Yoona merasa kalau ada sesuatu yang mengganjal hati Arthan, suaminya.


''Mas kenapa?''


''Saya lelah,'' jawab Arthan.


''Lelah? istirahat lah!''


''Bukan, saya lelah kucing-kucingan begini. Sampai kapan kamu mau sembunyikan hubungan kita, Yoona.''


Yoona mengalihkan pandangannya kearah lain, ia melihat dua temannya yang terus memperhatikan kearah mereka.

__ADS_1


''Mas, bahas itu nanti aja ya, enggak enak, mereka liat kesini mulu,'' ucap pelan Yoona.


Arthan melirik kearah Amel dan Wulan, lalu menghela nafasnya pelan dan mengangguk. Baru saja Arthan akan membuka mulut ingin bicara lagi, seorang wanita menariknya.


''Una! ikut aku sekarang ke gedung teater, ada sesuatu yang pasti buat kamu terkejut!'' ucapnya yang tidak peduli kalau Yoona terus meminta dilepaskan.


Arthan mengernyitkan dahinya, merasa ada yang tidak beres. Ia melihat pada Amel dan Wulan yang ikut berlari mengejar Yoona.


Diam-diam Arthan memutuskan ikut pergi kemana Yoona ditarik, dan tiba-tiba tangannya terkepal kuat, gurat amarah terlukis jelas di rahang tegas pria tiga puluh tahun itu.


Ya dipanggung sana, Yoona berdiri dengan seorang laki-laki yang sedang bersimpuh didepannya.


Pandangan Arthan hanya tertuju pada Yoona yang tidak melihat keberadaannya. Jelas terlihat Yoona kebingungan, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Ya laki-laki itu adalah Noval. Noval bersimpuh dibawah sana dengan setangkai bunga mawar putih. Beberapa dekorasi sudah terpasang disana, tepuk tangan menggema di jejeran bangku penonton.


''Terima! terima! terima!''


Suara itu yang membuat gendang telinga Arthan seakan mau pecah. Buku-buku tangan nya sudah memerah, rahangnya menegang ketika mendengar Noval sendiri menyatakan perasaannya pada istrinya.


''Yoona Navia, aku Noval Defrian mengaku kalau selama ini aku suka sama kamu, aku harap kamu mau terima aku,'' ucap Noval begitu lembut, menatap hangat manik mata Yoona yang bergerak tidak nyaman.


''Kak apa-apaan sih! enggak lucu tau!'' Yoona melihat kearah jejeran bangku, ia benar-benar tidak suka berada dalam keadaan seperti ini.


Teman-temannya ikut bersorak meminta Yoona menerima pengutaraan Noval. Tapi tidak sedikitpun Yoona berniat untuk menerima Noval.


''Yoona, aku tahu kamu bingung. Tapi aku memang benar-benar suka sama kamu, dan hanya ini yang bisa aku lakuin.'' Noval menatap mawarnya sejenak, berharap Yoona segera mengambilnya.


Yoona tidak menyadari dibalik tepuk tangan dan suara bersorak untuknya, ada dua orang yang menyembunyikan raut marah.


''Begini saja, kalau kamu terima mawar ini itu berarti kamu terima aku, tapi kalau kamu kembalikan lagi padaku, itu berarti kamu nolak aku. Dan aku janji aku enggak akan marah kalau kamu emang nolak aku.''


Hening seketika, gedung itu langsung hening. Tidak ada suara tepuk tangan ataupun suara teriakan apapun, karena arah pembicaraan Noval sudah sangat serius, dan raut wajah Yoona pun sangat dingin.


Mereka tentu penasaran. Penasaran dengan keputusan yang akan diambil Yoona, terima atau memang menolaknya.


Wajah Yoona semakin pucat, ia gugup. Memang bukan pertama kalinya seorang pria menyatakan perasaan padanya, tapi baru kali ini ada pria yang seniat itu untuk memintanya menjadi kekasih.


Yoona melihat kesekeliling, ia menatap satu-satu wajah temannya, tanpa tahu ada dua orang yang tidak menyukai acara itu.


Helaan napas terdengar lagi, tangan Yoona bergerak mengambil bunga itu dan pada akhirnya bunga tersebut sudah berpindah tangan.


Arthan yang melihat itu tentu kecewa, sangat kecewa. Dia pergi begitu saja dengan perasaan marah. Begitu juga dengan satu orang lainnya, ia pergi meninggalkan kursinya.

__ADS_1


Arthan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan pot bunga yang ada di tepi jalan pun ikut menjadi korbannya.


Rahangnya menegang, matanya memerah bahkan sudah ada air mata yang terbendung disana. Bugh! ia memukul kemudi dengan sangat kencang, dia marah sangat marah!


''Jadi begini akhirnya? saya tahu kamu memang tidak menyukai pernikahan ini, tapi kenapa seolah-olah kamu memberikan harapan pada saya,'' ucap Arthan penuh dengan kecewa.


Malam pun tiba, Yoona sudah sampai di rumah sejak sore tadi dengan dijemput supir suruhan Arthan.


Yoona tengah bimbang, ia sudah berpikir panjang tentang satu hal. Ya dia mau bicara pada Arthan.


Matanya melirik jarum jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam, tapi tidak ada tanda-tanda Arthan akan pulang kerumah.


''Kamu dimana, Mas,'' gumam Yoona.


Yoona menggenggam ponselnya, ia sangat ingin menghubungi Arthan tapi itu tidaklah mungkin karena dia sendiri pun tidak memiliki nomor suaminya itu.


Pasangan suami istri macam apa ini? bahkan nomor yang harus dihubungi pun ia tidak punya.


Dan sinilah Arthan berada, diruangan dengan laptop yang menyala.


Matanya terpejam, dengan kepala yang ia sandarkan dikursi. Kerjaannya tidak ada yang dipegang, karena bayang-bayang tangan Yoona yang menerima bunga Noval membuat dia sulit untuk konsentrasi.


Dia benar-benar kecewa, ya tanpa disadari memang ia sudah menyukai Yoona, bahkan bukan hanya suka, ia sudah mencintai gadis labil itu, sejak lama.


Entah apa yang membuat dia menyukai Yoona, padahal masih banyak wanita yang mengantri memintanya untuk dijadikan kekasih, tapi Arthan menolak itu semua karena Yoona.


Tapi apa sekarang, perasaan kecewa itu terasa sangat sakit, sakit sekali.


Pintu terbuka, Ziko menghampirinya dengan membawa makanan karena sejak siang tadi Arthan belum juga makan.


''Arthan, ada apa sebenarnya? kenapa terlihat ada masalah besar?'' tanya Ziko sembari menaruh makanan itu didepan Arthan.


Arthan tetap diam, tidak sama sekali menyahuti ucapan Ziko. Tangannya memijat pangkal hidung nya.


''Apa kau akan bermalam dikantor?'' tanya Ziko lagi karena tahu pertanyaan tadi tidak akan dijawab Arthan.


''Ya.''


''Kalau begitu aku bersihkan dulu.''


''Enggak perlu, kamu pulang aja,'' cegah Arthan.


''Kamu yakin, Ar?''

__ADS_1


Arthan mengangguk, dan Ziko pun berlalu dengan ragu.


Happy Reading...


__ADS_2