Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 23 - Cemburu


__ADS_3

Arthan masih menggenggam tangan Yoona dengan melewati banyaknya karyawan yang terus menatap mereka. Antara terkejut dan rasa percaya karena yang mereka tahu bahwa Arthan adalah pria lajang diusia yang sudah matang.


Arthan tidak mempedulikan tatapan mereka, ia tetap menggenggam tangan Yoona sampai masuk ke dalam lift pun ia masih menggenggamnya begitu erat.


Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Arthan, bahkan raut wajahnya sangat dingin dan datar. Yoona pun tidak berani memulai pembicaraan ataupun mengeluarkan satu katapun.


Hingga lift pun berhenti tepat di lantai enam puluh, lantai itu hanya ada satu pintu tepat didepan pintu lift. Persis seperti dirumah, letak kamar mereka.


Arthan membuka pintu itu dengan menempelkan ibu jarinya lalu terbuka lah pintu tersebut.


Yoona sedikit melongok kedalam. Interior yang sangat elegan, dan sudah dipastikan itu adalah ruangan kerja, tapi ruangan kerja siapa? Arthan kah? gumam Yoona dalam hatinya.


Arthan melepaskan genggamannya setelah mereka berada didalam.


''Kamh tunggu disini, saya mau ganti baju.'' Arthan berlalu begitu saja sebelum Yoona menjawabnya.


Merasa ada yang berbeda dari Arthan, tentu Yoona merasa bingung, dan bahkan sampai berspekulasi sendiri kalau Arthan marah karena dia datang kesana.


Hatinya tidak nyaman, merasa tidak enak karena datang kesana tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Hanya 10 menit, Arthan pun keluar dari kamar kecil di sudut ruangan. Memakai pakaian yang dia pilih sendiri, membuat Yoona tersipu karena ternyata pilihannya tidaklah salah. Arthan terlihat sangat gagah dengan warna nude seperti itu.


Ditambah dengan kaca matanya, membuat Arthan benar-benar berwibawa. Pandangan mata Yoona terputus karena suara deheman Arthan.


''Saya ada pertemuan penting, kamu mau tunggu disini atau mau saya antar pulang?''


Yoona tertunduk, benar! dia sangat yakin ada yang berbeda dari sikap Arthan padanya.


''Aku pulang aja, Mas.''


''Ya sudah ayo!'' Arthan ingin segera melangkah tapi apa yang Yoona katakan membuat dia terhenti.


''Aku pulang sendiri aja. Aku juga mau beli beberapa keperluan ku. Aku pulang ya, Mas.'' Yoona berlalu melewati Arthan tapi apa yang dikatakan Arthan membuat Yoona menghentikan langkahnya juga.


''Kenapa? apa kekasih mu yang akan mengantarkan mu?''


Suara itu terkesan sangat ketus bahkan bernada sindiran. Tapi kenapa? apa yang membuat Arthan berkata demikian.


Yoona berbalik, menatap bingung dengan apa yang dikatakan Arthan.

__ADS_1


''Maksud Mas apa?''


Arthan melangkah ke kursinya lalu duduk dengan melipat satu kakinya diatas kaki yang lain. Menatap lekat Yoona seakan gadis itu baru saja ketahuan selingkuh.


Yoona menatap dirinya sendiri karena merasa aneh dengan tatapan mata Arthan padanya.


''Aku ada salah berpenampilan?''


Arthan masih bungkam, ia melipat kedua tangannya diatas dada, dan tertawa kecil disana.


''Saya tahu pernikahan kita belum sah secara hukum, tapi kita sah secara agama. Bahkan saya berniat akan mempertanyakan kesiapan diri kamu karena saya akan menikahi mu dengan resmi. Tapi kamu membuat saya ragu,'' tutur Arthan dengan suara yang memelan diakhir kalimatnya.


Yoona masih menelaah kalimat demi kalimat yang Arthan katakan.


''Kenapa Yoona?'' tanya Arthan tiba-tiba membuat Yoona menatapnya.


''Kenapa kamu bisa melakukan itu, kalau kamu memang tidak mau menghargai saya sebagai suami kamu, setidaknya kamu bisa menghargai hubungan suci kita.''


Yoona menggeleng, menggeleng bukan menyangkal, tapi ia menggeleng karena ingin lebih fokus dengan kalimat Arthan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa bodoh dalam sekejap, bodoh dalam artian tidak dapat menelaah cepat apa yang dikatakan Arthan.


''Tunggu, sebenarnya apa yang kamu maksud, Mas? tolong bicara pelan-pelan.''


''Bunga apa?''


''Asisten dosen itu!'' Arthan sudah mulai muak.


Yoona mengambil jeda sesaat, ia mengingat-ingat siapa yang dimaksud Arthan. Dan ketika ia mengingatnya. Yoona malah tersenyum bahkan terdengar suara tawa kecil disana. Membuat Arthan semakin kesal.


''Tidak ada yang lucu, Yoona!''


Yoona menggelengkan kepalanya. Memberikan lambaian tangan nya yang membuat Arthan tidak mengerti.


''Bagi ku itu lucu, lucu sekali. Pak Dosen ku ternyata sedang cemburu ya?'' ledek Yoona yang masih menahan tawanya.


''Berhenti tertawa! saya sedang bicara serius. Baik buruknya istri, saya sebagai suami yang ikut menanggung dosa mu!''


''Ya aku tahu Pak Dosen. Tapi yang jadi permasalahan disini adalah Anda yang telah salah paham.''


Yoona melangkah mendekat kepada Arthan, lalu duduk dikursi sebrang meja kerja Arthan.

__ADS_1


''Salah paham bagaimana, jelas-jelas saya melihat sendiri drama pernyataan cinta kalian!''


''Ya, tapi enggak sampai selesai?'' tebak Yoona.


Arthan melonggarkan dasi yang tadi sudah rapi terpasang dilehernya. Entah gugup atau malu. Yang jelas Arthan masih keukeuh kalau dia melihat itu semua.


''Jadi ini alasan Anda tidak pulang kerumah tadi malam? karena cemburu, iya?''


''Tidak, saya tidak pernah cemburu!''


''Oh enggak pernah ya? kalau gitu aku pulang dulu ya, Noval sudah menunggu dibawah,'' ucap Yoona yang sudah beranjak tapi Arthan malah menarik tangannya hingga Yoona tertarik lalu menabrak tubuh kekar Arthan.


''Jangan pancing emosi saya, Yoona!''


Arthan mendekap erat tubuh Yoona hingga kepala Yoona pun tenggelam di dada bidangnya. Yoona berusaha mengangkat kepalanya tapi tangan besar Arthan menahannya terus dan hampir saja Yoona pingsan karena tidak bisa bernafas dengan baik.


''Kamu mau membunuh aku, Mas?!'' kesal Yoona yang sudah berhasil menjauhkan kepalanya dari dada Arthan namun tubuhnya masih didekapnya.


''Ayo kita temui Noval dibawah, saya mau mengatakan semuanya. Kalau kamu ini istri saya!''


Yoona kembali tertawa dengan wajah yang memerah, ia tidak menyangka kalau suaminya ini selalu menganggap serius apa yang dikatakannya. Dan tidak dapat membedakan mana yang bercanda dan mana yang serius, karena Arthan memang sekaku itu.


''Enggak ada Noval Mas. Aku kesini sendiri, naik taksi. Dan soal bunga itu, aku udah kembaliin ke Noval yang berarti aku nolak dia. Jelas?''


Tutur Yoona yang tangannya berada didepan dada Arthan, dengan Arthan yang masih memeluknya.


Yoona tertawa kecil, ia merasa terhibur dengan sikap menggemaskan Arthan. Ternyata dibalik killernya sang Dosen menyimpan sebuah sifat yang sangat menggemaskan.


''Jadi kalian–'' Yoona memberikan anggukan kecil.


Arthan tersenyum dengan disusul helaan nafasnya yang terasa lega. Ia menenggelamkan wajahnya diceruk Yoona, memeluk gemas pada istrinya.


Yoona yang dipeluk seperti itu tentu merasa gugup, karena hubungan mereka memang belum sejauh itu, tapi perlakuan hangat Arthan kembali membuat Yoona meras. nyaman.


''Maaf ya, saya sudah salah sangka,'' lirih Arthan yang masih berada diceruk leher Yoona.


Posisi mulut Arthan yang sangat dekat dengan titik sensitif Yoona, tentu membuat gadis tingting itu meremang. Bulu kuduknya berdiri, ada yang aneh pada tubuhnya.


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2