
Setelah memantau pergerakan Yoona diruang pengawas. Arthan pun segera naik ke kamarnya, selain dia sudah sangat lelah, dia juga ingin memastikan kalau Yoona benar-benar tertidur.
Begitu masuk kekamar, ia melihat Yoona yang ternyata sedang memainkan ponselnya sembari tertawa kecil dengan kedua ibu jarinya sibuk mengetikkan sesuatu.
''Saya pikir tadi kamu sudah tertidur,'' ucap Arthan yang melangkah memutar kearah sisi ranjang lainnya lalu ikut naik keatas ranjang.
Tidak, Yoona tidak menyahutinya. Seolah-olah ia mengabaikan Arthan, yang pastinya membuat pria 33 tahun itu jengkel.
Arthan yang merasa diabaikan, mencoba memejamkan matanya. Seharian memeriksa pekerja diproyek pembangunan membuat dia sangat lelah, belum lagi tadi mengajar juga. Tapi ia harus berdecak kesal karena ternyata ia tidak dapat terpejam, Yoona yang terus tertawa membuat dia tidak bisa beristirahat.
''Yoona saya lelah tolong biarkan saya tidur,'' ucap Arthan dengan sedikit memohon. Namun, rupanya Yoona tidak mempedulikan apa yang dikatakan Arthan.
Yoona yang terlentang tidak menjawab Arthan, dia malah membelakangi Arthan lalu melanjutkan tawanya lagi.
Mungkin Arthan orang yang sabar terhadap Yoona walaupun memang saat dia menjadi dosen akan terkesan sangat killernya. tapi kali ini Diana agak keterlaluan, iya terus mengabaikan Arkan bahkan tidur pun membelakanginya seakan meledek Arkan yang statusnya sudah menjadi suaminya.
Arthan marah, ia bangun dari tidurnya lalu mengambil ponsel Yoona yang berada di tangan Yoona begitu saja. ''Pak! ponsel saya!'' pekik Yoona yang juga terduduk disisi ranjang .
''Iya saya tahu! saya tahu ini ponselmu.''
''Kembalikan!'' Yoona mencoba merebutnya kembali dari tangan Arthan, tapi Arthan malah menyimpannya ke laci nakas membuat Yoona menekuk wajahnya kesal.
''Saya sudah bilang, saya lelah ingin tidur tapi kamu malah mengabaikan saya. Kamu meledek saya?!'' desak Arthan dengan nada marah.
''Enggak, saya enggak ada meledek Bapak!''
''Bapak, bapak! saya bukan bapak kamu! saya suami kamu!'' pekik Arthan yang mulai muak dengan panggilan Yoona padanya.
''Terus? bukankah memang itu panggilan saya sejak dulu, kenapa sekarang protes.''
Terlihat Arthan menghela nafasnya, dia benar-benar sedang lelah. Dan dia tidak ada ingin pertengkaran diantara mereka.
Maka Arthan pun bicara lagi dengan nada yang lembut. ''Sudah malam, besok ada jam kuliah pagi, tidurlah!'' Arthan sudah akan kembali merebahkan tubuh tapi kalimat yang Yoona lontarkan membuatnya kembali terduduk.
''Siapa wanita tadi?''
Alis Arthan menyatu, merasa heran dengan apa yang dipertanyakan oleh Yoona.
''Wanita?''
Yoona yang semakin kesal karena menurutnya Arthan sedang belaga tidak tahu apa-apa.
Yoona turun dari ranjang lalu pergi dari sana. Brakkk!
Yoona membanting pintu kamar dengan begitu kencang, lalu ia duduk di luar kamar menyetel televisi dengan suara yang kencang.
__ADS_1
Arthan yang masih tersentak hanya diam dengan rasa heran, ''Wanita? wanita mana yang dia maksud?'' gumam Arthan.
Suara televisi yang sengaja di kencangkan itu membuat Arthan menutup telinganya. Dan dengan segera ia pun menyusul Yoona yang ada di ruang tv.
Saat ia membuka pintu, suara televisi itu semakin keras terdengar bahkan telinga yang ditutup pun masih menyisakan suara yang membuat kepala sakit.
''Yoona!! kecilkan volumenya!!'' teriak Arthan tapi Yoona tetap bersikap acuh.
''Yoona Navia!!'' Teriaknya lagi tapi Yoona masih saja acuh.
Emosi yang sejak tadi Arthan tahan akhirnya sudah mencapai puncaknya. Ia mencabut listrik penghubung televisi lalu menepak tv besar itu sampai televisi yang sudah mati terjatuh dan pastinya rusak.
Brakk!! Bruukk!!
Yoona terjingkat ditempatnya, matanya melihat tv yang sudah tergelatak dilantai lalu menatap kesal pada Arthan yang juga matanya sedang tertuju padanya.
''Puas? jadi begini kalau Anda marah karena ketahuan melakukan kesalahan?'' ujar Yoona membuat Arthan mendelik kesal.
''Sejak tadi saya bicara baik-baik. Kenapa kamu terus memberikan pertanyaan yang membingungkan seperti ini. Lalu sikap apa ini, Yoona?'' Arthan menatap lekat netra coklat Yoona.
''Saya mau pulang!'' pekik Yoona tanpa menjelaskan sebab Yoona bersikap kekanakan seperti ini.
''Apa maksud mu?!''
''Saya menyesal menikah dengan orang bajingan seperti, Anda!!''
Hati Arthan benar-benar terluka, kenapa Yoona bicara seperti itu padanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
''Kau menyesal menikah dengan ku?''
''Iya! pokoknya aku mau pulang, jangan pernah mencegahku!''
Yoona beranjak lalu berjalan kearah pintu kamar. Tapi dengan cepat Arthan menahan lengannya. Dia ingin mengetahui duduk permasalahannya ini sebenarnya apa? kenapa Yoona tiba-tiba marah padanya?
''Bersikaplah dewasa, Yoona.'' Suara Arthan kembali pelan namun kali ini sangatlah dingin.
''Lepas!!'' Yoona memberontak tapi lengan Arthan terlalu erat menyesal lengan Yoona.
''Kita duduk, bicara baik-baik. Katakan semua kesalahan saya, biar saya tahu apa yang membuat kamu seperti ini!''
Arthan menarik Yoona kearah sofa tempat tadi Yoona duduk menyaksikan Arthan mengamuk.
''Sekarang katakan!''
''Apa? apa yang ingin Anda tahu?!''
__ADS_1
''Semua!''
''Aku hanya lelah, aku ingin pulang.''
Arthan menatap tajam iris mata Yoona. Arthan yakin pasti ada penyebabnya, dan entah kenapa tiba-tiba pikiran Arthan pun mengira kalau sikap Yoona seperti ini, Noval lah penyebabnya.
''Jadi kamu lebih memilih dia?''
Yoona menoleh, sekarang gantian kini dia yang tidak mengerti dengan apa yang di maksud Arthan.
''Apa dia lebih baik dari saya? apa kamu lebih nyaman dengannya?''
Yoona semakin dibuat bingung. Apa ini yang dirasakan Arthan sejak tadi, kebingungan karena tidak tahu apa-apa.
''Jangan memutar balikan kesalahan!'' tegas Yoona.
''Memutar balikan kesalahan katamu?''
Keduanya saling bertatap tajam. Sungguh, jika ruangan mereka ini tidak kedap suara, mungkin semua pembantu disana sudah saling menduga kalau ada pertengkaran antara mereka. Dan jika mereka tinggal di pemukiman padat penduduk, suara pertengkaran mereka juga akan terdengar jelas ketelinga para tetangga.
''Saya membebaskan kamu bukan karena saya tidak peduli. Tapi apa kamu tidak bisa menghargai status kamu sendiri? sampai mau pergi dengan lelaki lain?'' tutur Arthan dengan begitu menusuk.
''Apa Anda sedang membicarakan kesalahan Anda sendiri, Pak?''
''Kesalahan saya? apa maksudmu? bukankah kamu baru saja pergi dengan lelaki si asisten dosen itu?'' tatapan Yoona melemah, ketajaman mata yang sejak tadi ia lakukan sudah berganti.
''Anda juga pergi dengan wanita lain?!'' ketus Yoona.
''Kapan saya pergi dengan wanita lain?''
''Tadi saya melihat kamu bersama wanita lain di Solaria, kalian nampak mesra. Jika memang kamu sudah memiliki kekasih, kamu bisa katakan pada saya, saya akan mempersilahkan itu dengan senang hati. Tapi biarkan saya pulang kerumah orang tua saya.''
Arthan terdiam, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menghubungi seseorang disana.
''Ziko, apa kau bisa kirimkan foto-foto tadi.''
''Ada apa, Ar? kau ingin menyimpannya?''
''Jangan banyak tanya, cepat!''
Arthan menutup sambungan dan tidak lama beberapa email masuk ke laptopnya yang segera ia buka.
''Tunggu disini!'' Arthan beranjak ingin mengambil laptopnya, lalu duduk kembali disamping Yoona seraya menunjukkan beberapa Poto yang terdapat letak tempat, tanggal dan jam pengambilan gambar itu.
''Lihat ini semua!''
__ADS_1
Semula Yoona tidak ingin melihat tapi rasa penasarannya membuat ia melirik dan pada akhirnya melihat itu semua.
Happy reading...