
Keringat sudah membasahi pelipis Arthan, ia tengah menahan hasrat setannya. Karena Yoona yang sejak tadi menggodanya.
Entahlah apa Yoona tidak tahu atau memang tidak mengerti akibat dia bertingkah jahil begitu akan bagaimana.
''Pak, kenapa Anda berkeringat begini?''
Jari-jari lentik Yoona menyentuh pelipis dan tulang rahang Arthan, sehingga membuat lelaki 33 tahun itu memejamkan matanya merasakan sensasi luar biasa dari desiran darahnya.
Bahkan terong arabnya pun sudah mendesak didalam celananya.
''Yoona?'' Suara Arthan mulai berat.
''Hemm?''
''Apa kamu sedang menggoda saya?'' mata Arthan menatap lekat manik mata coklat Yoona.
Yoona menggeleng dengan raut wajah seakan tidak merasa bersalah. ''Enggak!'' jawab Yoona dengan bibir yang mengerucut.
Sungguh itu sangat menggemaskan, terlebih lagi bibir kecil itu sudah pernah membuatnya mabuk kepayang.
''Jangan salahkan saya jika saya berbuat sesuatu padamu!'' Yoona mengambil satu langkah mundur dari tempatnya, tapi Arthan malah mengambil langkah itu untuk semakin mendekat pada Yoona.
Sial! ternyata Yoona memang membangkitkan gairah sang Singa jantan. Apakah buntut dari niat jahil Yoona akan berakhir di atas ranjang? entahlah itu tergantung Arthan yang bisa atau tidaknya mengontrol diri.
Yoona sudah tersudut didinding kamar dengan terhimpit kedua tangan kekar Arthan tertempel didinding yang sejajar dengan pundaknya.
''Apa kamu benar-benar sudah siap?'' Arthan bertanya lagi dengan seringainya.
Dan kini Yoona lah yang gugup, bahkan keringat ketakutan keluar dari kening Yoona. Gadis 22 tahun itu menyesali perbuatan jahilnya sendiri. Jika saja dia tidak berniat jahil mungkin saja tidak akan terjadi saling bertatap tajam seperti itu.
Kalau Arthan benar-benar menerkamnya hari ini, itu juga karena dirinya. Terlebih-lebih saat ini ia tidak memakai apa-apa selain baju handuknya.
Wajah Arthan semakin mendekat, dekat dan dekat. Yoona dapat menebak kalau bibir mereka akan kembali saling mel-*****.
Dan benar! Arthan sudah mel-***** lembut bibir Yoona, terasa sangat hangat dan menggairahkan.
__ADS_1
Yoona yang semula menegang perlahan mulai terbiasa, ia bahkan memberikan jalan untuk lidah Arthan masuk kedalam mulutnya.
Sekitaran dua menit, ya hanya dua menit mereka saling berpagut, Arthan pun menyudahi permainan hangat mereka di pagi hari ini karena merasa Yoona yang sudah mulai kewalahan mengatur napasnya.
Arthan menempelkan keningnya di kening Yoona, bahkan tangannya masih menyelusup di tengkuk Yoona.
''Berpakaianlah, kalau tidak mau saya ambil hak saya sekarang juga!'' ucap Arthan dengan nada begitu lembut namun ada sedikit ancaman didalamnya.
Dengan cepat Yoona berlari menjauh dari Arthan yang masih menyenderkan tangannya kanannya di dinding. Yoona menutup pintu ruang baju itu dengan terburu-buru, ia takut, ia belum siap.
Yoona menekan dadanya yang bergemuruh, sungguh perasaan apa ini?
Arthan tersenyum puas melihat ekspresi gugup Yoona sebelum kabur dari Kungkungan nya.
''Jangan coba-coba memancing singa lapar, Yoona. Akan berbahaya nantinya,'' gumam Arthan yang menyeringai.
Dibawah sana, Arthan yang sedang menikmati teh hangat sembari menunggu Yoona turun, kembali mendapatkan telpon dari Ziko, asisten pribadinya.
''Ya Ziko?''
Arthan terdiam sejenak, ia melirik arlojinya yang melingkar indah dipergelangan tangannya.
''Baik, nanti saya akan hadir. Kamu atur pertemuannya saja.'' Arthan memutus sambungan telponnya, karena ujung matanya melihat kedatangan Yoona yang baru saja keluar dari lift.
Pagi ini Yoona sangat terlihat cantik, wajahnya berseri-seri, rambutnya diikat tinggi sehingga memamerkan leher jenjangnya, yang pastinya membuat Arthan menelan susah salivanya.
Dress berwarna Salem dengan boot shoes berwarna hitam sangat cocok menunjang penampilannya. Yoona tertunduk ketika sampai didepan Arthan yang sejak tadi tidak berkedip menatapnya.
''Ayo pak!'' ucap Yoona tanpa menatap Arthan.
Arthan beranjak dari duduknya, tangannya terulur kearah belakang Yoona dan Wuusshhh..
Arthan melepaskan ikatan rambut Yoona tanpa permisi. Membuat sang empunya menekuk wajahnya kesal karena niat ia mengikat rambut seperti itu memang serasi dengan penampilannya saat ini.
''Jangan buat mata buaya menikmati pemandangan ini!''
__ADS_1
Arthan berlalu begitu saja meninggalkan Yoona yang masih mencebikkan bibirnya kesal.
''Dasar dosen menyebalkan!'' pekik Yoona.
''Cepat kalau enggak mau saya tinggal!'' teriak Arthan yang terkekeh ditempatnya.
Anehnya Yoona malah berlari menghampiri Arthan yang seharusnya ia senang jika Arthan meninggalkannya, dia bisa memesan taksi online atau setidaknya pakai ojek agar tidak repot-repot was-was takut akan ketahuan.
Entah apa memang kewarasan Yoona sudah berkurang karena pagutan panas mereka tadi. Atau memang ia mulai luluh dengan kelembutan yang diberikan Arthan.
Arthan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan lihai ia membelok-belokan kemudinya membelah keramaian ibukota pagi ini.
Dan tiba-tiba, Arthan menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran sederhana yang bernama Rusdin, resto yang sangat nyaman dan sejuk karena mereka akan duduk makan diatas kolam ikan.
''Pak, apa enggak bakal telat?'' tanya Yoona sebelum keluar dari mobil.
Arthan yang baru saja akan keluar dari mobil ter'urungkan, ia malah duduk kembali dengan menatap lekat Yoona.
''Yoona, apa tidak bisa panggil saya dengan panggilan lain?''
Yoona menelan salivanya dengan begitu sulit. Ia merasa kali ini Arthan bicara begitu serius.
''M-mas?'' Yoona menutup mulutnya sendiri, ia terkejut dengan panggilan yang keluar dari bibirnya itu, entah kenapa kata 'Mas' lah yang tiba-tiba terlintas dibenaknya.
Berbeda dengan reaksi Arthan, ia malah tersenyum puas. Menandakan kalau dia sangat menyukai panggilan itu.
''Ayo kita turun, saya lapar.'' Arthan mengusap kepala Yoona begitu lembut lalu keluar dari mobil dan disusul oleh Yoona.
Arthan terus saja tersenyum diam-diam, ia terlalu senang karena mendengar panggilan baru Yoona untuknya itu.
''Mas? mas, menggemaskan,'' gumam Arthan dengan sangat pelan.
''Mas? apa tidak berlebihan?'' gumam Yoona di sebrang meja yang sama tanpa suara.
Pesanan makan mereka telah dihidangkan diatas meja, mereka pun makan tanpa adanya obrolan karena sudah terbawa kebiasaan dari rumah Arthan.
__ADS_1