
Tangannya bergerak mengambil satu dress yang warnanya sangat cantik baginya. Ia sandingkan didepan tubuhnya lalu bercermin.
Merasa ada yang aneh, Yoona semakin merapatkan dress itu di tubuh, yang ternyata ukuran dress itu sangat cocok dengan ukuran tubuhnya. Jika memang Arthan mempunyai kelainan seperti yang telah ia pikirkan.
Pastilah ukuran itu jauh lebih besar, tapi ini tidak! seakan-akan dress itu memang tercipta untuknya.
Semakin merasa penasaran, ia membuka lemari kaca yang terdapat jejeran sepatu dari berbagai macam merk terkenal. Dia ambil satu buah sepatu ber-hils lalu ia pakai. Yang hasilnya memang benar-benar pas di kakinya, tidak lebih besar dan tidak kekecilan.
''Apa jangan-jangan Pak Arthan sudah punya kekasih?''
Yoona kembali beropini sesuka hatinya, seolah-olah diri Arthan tidak memiliki posisi yang bagus di pikirannya. Bukan tanpa alasan memang, Yoona selalu berpikiran negatif pada Dosennya itu. Karena memang selama ini sikap Arthan sangat menyebalkan menurutnya, tentunya selama Arthan menjadi dosennya.
''Lalu kenapa dia setuju dengan Kepala Desa itu!'' marah Yoona.
Dan karena perasaan kesalnya pun ia lupa keadaannya saat ini yang hanya memakai handuk tanpa menggunakan pakaian lainnya. Yoona melemparkan dress tersebut juga melepaskan hils yang terpasang cantik dikakinya, lalu keluar dari sana seraya terus memanggil-manggil Arthan.
Yoona semakin kesal karena Arthan tidak menyahuti panggilannya, padahal Arthan hanya sedang duduk membelakanginya.
''Arthan Miller! kamu keterlaluan! kamu brengsek! sudah memiliki pacar tapi malah setuju menikah dengan ku!! aku mau pulang!!'' pekik Yoona dengan terus menghentak-hentakan kakinya bak seorang anak kecil merajuk.
Arthan melepaskan sesuatu dari telinganya karena Yoona, dengan cepat ia memutar kepala dan tubuhnya kebelakang. Mengernyit heran karena disana Yoona tengah marah-marah padanya.
''Ssssttt!'' Arthan meletakkan jarinya ke bibirnya sendiri, meminta Yoona untuk diam. Tapi karena amarah menguasai diri gadis 22 tahun itu, dia tidak mau mendengar Arthan yang meminta diam.
''Pokoknya aku mau pulang!!''
Amarah Yoona semakin menjadi-jadi. Membuat Arthan semakin panik, kepalanya terus melihat ke arah depan dan kearah Yoona secara bergantian. Terlebih lagi ia baru menyadari kalau saat ini Yoona hanya menggunakan handuk yang bahkan lilitannya itu hampir saja terlepas karena ia terus bergerak.
Daaann... Cetaassss!!
Mata Arthan terbelalak. Lilitan handuk itu akhirnya terlepas, dengan cepat Arthan menutup laptopnya dan berlari menghampiri Yoona. Tangannya bergerak begitu cepat meraih lembaran gorden untuk menutup tubuh polos Yoona. Sehingga kekacauan pun terjadi, gorden itu sobek karena Arthan menariknya begitu kencang, Vas bunga jatuh yang ia letakan didekat jendela dan akuarium ikan pun pecah berantakan.
__ADS_1
''Yoona! kau ini ceroboh sekali!!'' bentak Arthan setelah memastikan tubuh Yoona tertutup semua dan hanya menyisakan bagian kepalanya saja.
Yoona yang baru sadar kesalahannya hanya bisa menunduk malu, matanya melirik ruangan yang semula rapih kini menjadi kacau, karena dirinya.
''Kamu tau! saya sedang meeting virtual! kalau saja saya tidak buru-buru menutupnya, mereka yang ada disana pasti menyaksikan tubuh polos mu!!'' Amarah Arthan tersulut, jarinya menunjuk pada laptop yang sudah tertutup itu, dan Yoona mengikuti arah telunjuk Arthan.
Ia memejamkan matanya sejenak, menyadari kebodohannya itu. Hatinya terasa sakit, karena selama hidupnya, baru pertama kali ini ia mendapatkan bentakan dari seorang pria. Bahkan sang Ayah pun tidak pernah meninggikan suara padanya.
Tapi Sungguh, Yoona menerima bentakan itu, karena dia salah.
''Hiks... Hiks..., maaf….''
Raut wajah Arthan yang semula menegang karena marah, tiba-tiba luluh karena mendengar suara isakan lirih dari Yoona.
''Maaf! maafkan saya. Sudah jangan menangis.'' Arthan menarik pundak Yoona lalu mendekapnya kedalam pelukannya.
Yoona semakin terisak ketika Arthan mengusap rambutnya yang lembab. ''Apa mereka melihat ku? hiks….'' tanya Yoona masih terisak.
''Maafkan saya Pak….''
''Sudah, sekarang bicara pelan-pelan. Sebab kamu tiba-tiba marah pada saya, kenapa?'' tanya Arthan dengan melembut, ia melepaskan pelukannya dan menatap hangat pada gadis yang sedang menangis itu.
''Itu..., itu..., pakaian itu.''
''Pakaian apa, bicara pelan-pelan. Duduk dulu.'' Arthan membawa Yoona duduk di sofa dan membantu Yoona meminum air putih agar bisa mengontrol emosinya.
''Sekarang katakan!''
''Pakaian di lemari itu, itu milik pacar Anda, 'kan?''
''Pacar?''
__ADS_1
''Iya! disana banyak pakaian wanita lengkap dengan perhiasan juga sepatu-sepatu. Lalu kalau bukan milik pacar Anda, milik siapa?!''
Arthan terkekeh dengan menunduk kepalanya sejenak, ia baru mengerti kenapa Yoona tiba-tiba mengamuk tidak jelas itu.
''Itu milik istri saya,'' sahut pelan Arthan.
''Huaaaaa!!!! berarti Anda udah punya istri, dan aku menjadi pelakor! huaaaa!!''
''Eeh! bukan, bukan seperti itu!! Saya benar-benar lajang sebelum menikah dengan mu. Istri saya itu, ya kamu, bodoh!''
Yoona mencebikkan bibirnya, menatap ragu pada Arthan dengan apa yang dijelaskan pria 33 tahun itu.
''Jangan pasang wajah jelek mu seperti itu. Sudah sana pakai bajumu!'' Arthan beranjak kembali kemeja kerjanya.
Yoona terdiam sejenak sebelum ia berlalu kembali kekamar untuk memakai bajunya. ''Hati-hati!'' ucap Arthan kemudian dan Yoona hanya memberikan anggukan kecil.
Setelah memilah pakaian yang akan ia kenakan, Yoona keluar dari sana. Pandangannya menyusuri ruangan luar kamar, kekacauan yang ia buat tadi, sudah rapih kembali. Entah Arthan yang membersihkannya atau asisten rumah tangga.
Yoona menggedikan kedua bahunya. Matanya melihat tasnya yang tergeletak, dan segera ia ingin bongkar tasnya untuk mencari ponselnya.
Duduk berselonjor di sofa lalu memainkan gawainya. Membuka aplikasi pesan, dan disana chat grup sudah banyak pesan. Jarinya dengan lihai meng- scroll layar ponselnya. Bibirnya tersenyum senang ketika melihat bukti transfer dari kedua temannya itu, Wulan dan Amel.
''Jangan pernah meremehkan ku,'' gumam Yoona.
''Siapa yang meremehkan mu?!'' suara bariton itu tiba-tiba terdengar membuat Yoona terjingkat kaget.
''Tidak!'' jawab cepat Yoona. Matanya mengikuti gerak Arthan yang ikut duduk disebelahnya dan memberikan lembaran kertas padanya.
''Kau bacalah, dan tanda tangan jika kamu setuju, dan jika memang kamu keberatan, kamu bisa mengatakannya itu padaku!''
Yoona meraih lembaran kertas itu, membacanya dengan teliti, karena dia tidak mau seperti kisah-kisah yang ada dinovel, si pria memberikan kontrak pernikahan yang menguntungkan si pria dan merugikan dia.
__ADS_1