Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 28 - Malam yang Berkesan


__ADS_3

Dua insan bergelut dibawah selimut yang sama, guncangan demi guncangan, dessahan demi dessahan saling bersahutan di sepertiga malam itu.


Pinggul dari seorang pria berusia 33 tahun itu bergerak seirama dengan suara jeritan kesakitan dan kenikmatan yang terdengar secara bersamaan.


Dibawah Kungkungan pria itu terdapat seorang perempuan yang sudah tidak berdaya. Keringat terus bercucuran, bahkan mereka saling berlomba meraup oksigen yang ada.


''Eeuumm… Eeuugghhh!!"


Rintihan membangkitkan gairah itu terus tersenyum dari mulut seorang perempuan yang tak lain adalah Yoona Navia.


Yoona menatap wajah Arthan yang penuh dengan gairah, sudah 45 lima menit terhitung dari pertama mereka menyatukan diri. Namun, tidak ada sedikitpun raut wajah lelah dari pria gagah itu. Bahkan semakin terlihat bersemangat.


Yoona tidak menyangka kalau malam ini, malam yang akan ia ingat seumur hidupnya. Malam yang terasa sangat memalukan karena dia lah yang memancingnya terlebih dahulu. Tapi sungguh! dia tidak sama sekali menyesali nya, dia memutuskan untuk mengakhiri masa gadisnya dengan keadaan yang sangat sadar, ia tahu melaksanakan kewajiban seorang istri sangatlah mulia.


Arthan semakin dibuat beringas kala Yoona mengeluarkan suara lenguhan dah erangan yang semakin memicu gairah.


Arthan menggerakkan pinggulnya semakin berpacu dengan waktu. Dia mengerang tak habis-habis, selagi senjatanya terasa dicengkeram kuat oleh milik Yoona.


Tangan Arthan tidak mau kalah, ia semakin memijat liar pada dua gunung indah milik Yoona. Tubuh Yoona semakin dibuat menggila karena mendapatkan dua kenikmatan sekaligus.


Bibir Arthan tersenyum puas melihat reaksi tubuh Yoona yang entah sudah beberapa kali menggelinjang karena sampai puncaknya. Dia mendekatkan wajahnya pada kening Yoona dengan masih menggoyangkan pinggulnya disana.


Satu kecupan mendarat lembut dikening Yoona lalu turun kehidung dan mendarat nyaman dibibir tipis Yoona yang sudah ia patenkan sebagai bagian favoritnya selain liang surgawi itu.


Beberapa saat kemudian, Arthan pun semakin mengencangkan ritme gerakan pinggulnya, dan…


Aaagghhhh!


Arthan menyerang begitu kuat. Ya! Arthan sudah sampai kepuncaknya menyusul Yoona yang sudah lebih dulu. Iapun ambruk diatas tubuh Yoona namun tidak menyakiti perempuannya dengan menindihnya. Arthan menggunakan lengannya untuk menahan bobot tubuhnya.


Mereka saling meraup udara sebanyak-banyaknya, Yoona tersenyum dengan mata yang terpejam walaupun tidak dapat ia alihkan rasa nyeri dibawah sana yang masih tertancap benda asing nan tumpul yang masih mengeras dan terasa berkedut.

__ADS_1


''Terima kasih,'' lirih Arthan berisik ditelinga Yoona yang bahkan lelaki itu mendaratkan lagi kecupan di daun telinga Yoona.


Arthan memeluk Yoona dan membalikan posisinya yang semula Yoona dibawah sekarang Yoona lah yang berada diatasnya.


''Tudurlah sayang,'' suara yang sangat membuat Yoona tenang itu mampu membuat kepalanya mengangguk patuh, lalu memejamkan matanya begitu saja.


Malam itu terlewat begitu saja dengan manisnya. Walaupun tanpa ada persiapan seperti bayangan Arthan yang akan membuat sebuah momen indah ketika Yoona siap memberikan haknya. Tetapi Arthan tetap bahagia, ia senang karena ternyata Yoona mau melakukan dengannya.


Arthan mengecup lagi dahi, pipi dan bibir Yoona sebelum ia benar-benar terlelap dengan tangannya memeluk tubuh polos Yoona diatas sana.


*


Pagi sudah hampir datang, rasa dingin semakin menusuk tulang. Arthan mengerjap perlahan karena Yoona yang menggigil di pelukannya. Tangan nya bergerak meraih remote control AC, ia mematikannya dan menggantikannya dengan sistem penghangat ruangan.


Bergerak dengan sangat hati-hati, Arthan memindahkan tubuh Yoona dari lengannya ke bantal. Mengusap sebentar kepala Yoona agar gadisnya tetap terlelap, ia tahu gadisnya pasti lelah karena dirinya.


Maka dari itu, Arthan pun tidak mau mengganggu istirahat gadisnya itu, dan berderak perlahan turun dari ranjang.


Kesekian kalinya ia mengecup bibir Yoona, seakan tidak rela meninggalkannya walau hanya untuk waktu mandinya saja. Tapi dia harus bergegas mandi karena pagi ini ada pertemuan penting dengan kliennya.


Empat puluh menit, Arthan pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Matanya menatap hangat pada Yoona yang masih tertidur dibawah selimut. Kaki Arthan memang melangkah ke arah ruangan penyimpanan pakaian-pakaian tapi mata Arthan tetap menatap Yoona.


Setelah selesai berpakaian, Arthan kembali keruang tidur, seakan tidak bosan menatap wajah cantik yang kelelahan itu. Bibirnya semakin tersenyum lebar ketika melihat kelopak mata Yoona bergerak menandakan kalau gadisnya memang sudah waktunya bangun.


''Selamat pagi,'' seru Arthan yang berjongkok didepan Yoona.


Yoona tidak menjawabnya, ia masih mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Beberapa detik kemudian Yoona baru mengulumkan senyuman. Wajah tampan dan rupawan itu membuat pagi Yoona terasa sangat indah.


''Pagi,'' sahut Yoona dengan suara yang sangat serak, yang mungkin saja kelelahan karena semalaman menjerit tiada henti.


''Mas, mau kemana?''

__ADS_1


''Saya ada pertemuan penting, tapi tidak akan lama. Setelah itu saya segera kembali, tidak masalah 'kan?'' Yoona tersenyum lalu mengangguk.


Arthan mengusap pipi Yoona dan mendaratkan lagi kecupan paginya.


''Saya pamit, sarapan sudah ada disana. Kalau masih lelah, kembalilah istirahat. Hmm?''


Yoona mengangguk lagi dan Arthan pun berlalu pergi.


Benar saja, bukannya bangun dari tidurnya, Yoona malah kembali memejamkan matanya karena memang matanya terasa sangat berat. Lagipula tubuhnya masih lemas untuk bergerak.


Dibawah sana, Arthan memberikan titah pada Bi Sumi untuk datang ke kamar dua jam lagi untuk mengganti sarapan Yoona yang pasti tidak akan dimakan. Ya! Arthan dapat menebak kalau Yoona pasti kembali tidur dan akan melewati waktu sarapannya.


''Baik Pak!'' sahut Bi Sumi.


''Dan, jika saya tidak kembali dalam waktu empat jam dari sekarang, sampaikan padanya untuk datang kekantor!''


''Baik Pak!''


Arthan pergi dengan mobilnya membelah jalanan ibukota yang ramai. Sesekali bibirnya kembali tertarik membentuk sebuah senyuman simpul, ia tidak bisa melupakan momen panas tadi malam.


Dimana tubuh Yoona terguncang hebat dibawah kungkungan nya, dan Yoona juga sempat bergoyang diatasnya. Sungguh, Arthan terus memikirkan ekspresi seksi dari Yoona, sehingga membuat senjatanya mengeras kembali.


''Jika saja tidak ada pertemuan penting ini, akan ku pastikan kau akan terbenam ditempat favorit mu!'' ucap Arthan pada senjatanya itu.


Sesuai perintah, dua jam kemudian perempuan paruh baya berdarah Jawa itu datang kekamar atas titah dan izin dari pemilik kamar, dengan membawa makanan baru untuk menggantikan makanan yang sudah dingin.


Mata Bi Sumi sedikit melirik kearah ranjang dimana, disanalah Yoona masih tertidur begitu lelapnya. Sebenarnya Bi Sumi masih bingung dengan hubungan majikannya dengan gadis itu. Tapi dia yakin kalau, gadis yang biasa ia panggil dengan sebutan Bu Yoona bukanlah wanita sembarangan ataupun hanya sekedar kekasih Arthan.


''Saya turut bahagia jika Anda benar-benar teman hidup Pak Arthan,'' gumam Bi Sumi sebelum meninggalkan kamar tidur majikannya itu.


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2