
Arthan membuka pintu unit dengan raut wajah datar, yang sudah biasa Ziko lihat. Namun kali ini Ziko merasa kesal karena raut itu tidak sama sekali menggambarkan se yah rasa bersalah karena menunggunya selama 2 jam lamanya.
''Sungguh! jika kau bukan bos ku, sudah ku lempar dari lantai 17 ini!'' Ziko memberikan paper bag itu pada Arthan yang menerima nya tanpa kata terima kasih lalu kembali masuk dan menutup pintunya.
''Arthan sialan!'' pekik Ziko yang kakinya menendang angin.
Klik!
Pintu itu terbuka lagi, Ziko menoleh dengan tatapan tajam. Arthan kembali keluar tapi hanya menyembulkan kepalanya saja. ''Terima kasih!'' ucap Arthan begitu menyebalkan.
Ziko mendengus kesal dan berlalu dari sana. Sepanjang langkahnya ia terus menyumpahi Arthan, memakai perlakuan sahabat nya itu.
''Semoga hari mu terus senin! semoga tidak ada tanggal merah di kehidupan mu!'' gerutu Ziko yang sudah memasuki lift gedung.
Arthan membawa paper bag yang dibawakan oleh Ziko ke Yoona yang menunggunya di kamar. Yoona melemparkan senyuman saat Arthan kembali.
Matanya menatap paper bag itu seraya bertanya, ''Apa itu, Mas?''
''Segera bersiaplah, kita sudah terlambat,'' ucap Arthan sembari berjalan setelah tangannya mengusap lembut rambut Yoona yang basah.
Yoona mendelik mendengarnya, ia memicing kesal pada Arthan yang sedang memakai kemejanya.
''Sudah terlambat katanya, padahal dia yang buat terlambat!'' gerutu Yoona yang segera pergi kekamar mandi untuk memakai pakaiannya.
''Sayang! kenapa harus kesana! pakai disini saja!!'' teriak Arthan.
''Bisa-bisa semakin terlambat!!''balas Yoona dan Arthan pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
''Tapi enak 'kan?!''
__ADS_1
Sungguh, Yoona tidak habis pikir pada suaminya itu. Ia tidak menyangka kalau ternyata Arthan yang awalnya dia kenal sangat killer bisa bertingkah sejail itu.
Benar kata orang, ingin tahu sifat asli pasangan, akan terlihat setelah menjadi bagian hidup. Sifat sebenarnya seorang suami, istri lah yang akan mengetahuinya, bukan ibunya.
Beberapa saat kemudian. Yoona sudah berpakaian, ia memakai apa yang sudah Arthan siapkan. Betapa terkejutnya Arthan ketika melihat penampilan Yoona yang terlihat sangat anggun memakai gaun panjang berwarna biru muda, dengan belahan hanya sebatas betis saja, membuat Yoona semakin terlihat cantik.
Arthan terperangah, ia melihat Yoona yang masih dengan wajah tanpa polesan sudah terlihat sangat cantik, apalagi jika sudah ber- makeup.
Arthan tidak mengatakan apapun, ia hanya memperhatikan gerak gerik Yoona yang sedang mengeringkan rambutnya lalu menatanya, setelah menata rambut Yoona lanjut merias wajahnya dengan sangat natural.
''Sudah, ayo!'' seru Yoona yang sudah sangat siap berangkat.
Mata Arthan tidak lepasnya pada Yoona, matanya terus bergerak naik dan turun, melihat Yoona dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Mengagumi nya dalam diam membuat jantungnya berdebar-debar.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, disebuah gedung hotel, terdapat acara pesta peluncuran produk perusahaan yang Arthan pimpin.
Ziko memang ditugaskan untuk menyambut baik kolega besar, agar lebih tertarik menginvestasikan dana ke perusahaan.
Sedang Ziko berbincang dengan sala seorang klien, semua mata dan lensa kamera para media menyoroti seseorang yang baru saja datang. Ziko ikut menoleh ke arah pintu masuk yang terbuka lebar.
Matanya melengos jengkel pada orang yang baru datang itu, yang saat ini sedang berjalan kearahnya.
''Hay Ziko, apa kabar?'' tanya orang itu yang ternyata adalah Sivia Hazard.
''Baik!'' jawab ketus Ziko.
''Tuan Ziko, bukankah dia—?'' tanya klien tersebut.
''Ah ya Tuan Ziko, bukankah sudah sepantasnya Anda lah yang akan memperkenalkan ku pada semua klien?'' ucap Sivia dengan sangat manisnya tapi bahkan membuat Ziko muak mendengar nya.
__ADS_1
''Tuan Gibran, dia adalah Sivia, mungkin Anda juga sudah mengenalnya. Nona Sivia ini akan menjadi brand ambassador YNC.'' Ziko memperkenalkan Sivia dengan sangat terpaksa dihadapan klien pentingnya itu.
''Wah bagus! pasti YNC akan laku di pasaran, terlebih lagi nona Sivia lah yang menjadi modelnya.''
Penuturan klien itu membuat Sivia berbangga hati, ia sakin menaikan dadanya untuk menunjukkan, inilah dia yang sedang dibicarakan.
Setelah Klein itu berpamitan untuk sekedar melihat-lihat, dan untuk mencicipi beberapa suguhan. Tinggallah hanya Ziko dan Sivia.
Ziko membuang wajahnya karena merasa muak dengan Sivia. Tapi wanita 25 tahun itu seakan tidak memiliki rasa malu, ia masih mendekat pada Ziko.
''Ziko, apa kamu tidak mau memberikan selamat atas pencapaian ku?''
''Pencapaian mana? tidur dengan beberapa klien untuk mengambil hati agar menyetujui kontrak mu!'' celetuk Ziko tanpa tedeng aling-aling yang tentunya membuat Sivia mati kutu.
Sebenarnya tidak heran Ziko bisa tahu rahasia seseorang, karena memang tidak diragukan lagi kemampuannya. Tapi Sivia masih berusaha agar apa yang Ziko ketahui itu terkubur. Dengan cara mengalihkan pembicaraan.
''Ziko, aku tahu kamu tidak suka padaku. Tapi apa pantas bicara seperti itu pada perempuan?'' Ziko berdecak kesal.
''Aku heran padamu dan sahabat mu itu. Aku perempuan pekerja keras yang pastinya impian benyak pria memiliki pasangan pekerja keras seperti ku. Tapi kenapa kalian tidak menyukai ku?''
Ziko masih malas meladeninya.
''Aku sudah tahu siapa wanita itu, bagaimana latar belakangnya dan statusnya yang seorang mahasiswa. Mestinya Arthan memilih ku 'kan, bukan mahasiswa itu. Aku wanita pekerja keras dan dia hanya wanita yang pastinya hanya bisa menghabiskan uang!''
''Aku akan tetap memilih istri ku ini!'' ucap Arthan yang ternyata baru saja datang dengan menggandeng tangan Yoona yang berpenampilan sangat cantik.
''Arthan?''
''Ya! kalau istriku bekerja seperti mu, lalu siapa yang akan menghabiskan uang ku! Maka dari itu biarlah aku yang bekerja untuk nya, benar begitu sayang?'' ucap Arthan menoleh pada Yoona yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1