
''Eh!''
Yoona menoleh kebelakang, matanya terpaku pada seorang pria yang biasa berpenampilan rapi dan formal, tapi tidak untuk kali ini.
Pria itu memakai pakaian santai, kaus yang pas di tubuhnya sehingga membentuk otot-otot kekarnya. Dan celana jeans yang sangat cocok menunjang penampilannya.
''Pak Ar?''
Ya dia adalah Arthan Miller. Dosen di kampusnya sekaligus pria yang sudah menjadi suaminya. Suami dadakan.
'Arthan menatap Yoona dengan intens begitu juga Yoona. Keduanya tidak ada yang berkedip, berperang dalam tatapan dalam.
Namun, Arthan memutus momen tersebut, dengan ia membuka mulutnya, mengatakan sesuatu yang membuat Yoona tersadar.
''Sudah puas bermain-main nya?''
''Apa? gimana?'' tanya Yoona bingung.
''Apa kamu lupa?''
''Lupa? lupa apa?''
''Apa perlu saya ingatkan lagi, Yoona Navia. tentang siapa kita sekarang?'' Arthan bercuap dengan suara yang flat, bahkan membuat bulu kuduk Yoona meremang.
Tapi dengan cermat, Yoona mampu mengendalikan dirinya agar tidak menunjukkan rasa takutnya pada Arthan.
''Oh soal itu.Tterus aku harus apa, Pak Arthan Miller?''
''Harus apa?''
''Ya aku harus apa? sudah ah! aku mau pulang!'' Yoona kembali berbalik, tapi sebelum dia benar-benar pergi, Arthan kembali menariknya lagi dan kali ini membawanya masuk kedalam mobilnya.
''Pak, Anda menculik saya?!'' pekik Yoona yang masih menahan tubuhnya agar tidak masuk ke mobil.
__ADS_1
Tapi tentunya kekuatan Arthan. jauh lebih kuat darinya, dan dengan sedikit kasar Arthan pun mendorong tubuh Yoona masuk ke mobil.
''Saya Suami kamu! tidak ada suami yang menculik istrinya!'' saut Arthan dengan lantang bahkan terdengar sampai ke para penjaga portal.
Karena merasa malu, Yoona akhirnya diam, menurut duduk manis dikursi penumpang sebelah kursi kemudi yang kini sudah ada Arthan yang bersiap menghidupkan mesin mobil.
Arthan menarik persneling lalu menancapkan gasnya meninggalkan area perkomplekan itu.
Tiada ada obrolan disana, suasana didalam mobil bahkan terasa hening dan mencekam. Raut wajah Arthan yang dingin sudah biasa Yoona lihat, tapi kali ini raut itu semakin terasa dingin baginya.
''Dia seram banget, sih!'' gumam Yoona dengan membuang wajahnya ke jendela mobil.
''Kamu belum tahu saya semuanya. Sikap kamu yang akan menentukan karakter saya nantinya.''
Yoona tersentak, ia mencoba menelaah ucapan yang terlontar itu, apa yang di maksud dan apa artinya. Tapi tetap saja Yoona tidak mengerti.
Karena lamunannya, Yoona tidak sadar kalau ternyata mobil sudah berhenti. Ia melihat kesamping dan terjingkat karena Arthan sudah tidak ada di kursinya. ''Dia kemana?'' Yoona mengedarkan pandangannya lalu memicing kearah depan. ''Ini dimana, apa ini rumahnya?'' gumamnya lagi yang merasa takjub pada penampakan rumah yang lebih mirip dengan sebuah Istana.
Tok Tok!
''Ini rumah Anda, Pak?''
''Wah! keren!''
Arthan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah berlebihan Yoona. Karena seharusnya Yoona bisa bersikap biasa saja karena dia sendiri pun anak keluarga kayak raya. Dan rumahnya tidak terlalu beda dari bangunan mewah milik Arthan ini.
Terlintas pemikiran jahat didalam otak gadis 22 tahun itu, ia melirik tajam pada Arthan yang bingung mendapatkan lirikan aneh dari Yoona.
''Kenapa kamu menatap saya begitu?!''
'Dia hanya seorang Dosen, penghasilan Dosen yang tidak terlalu besar, apa bisa memiliki rumah sebesar istana ini?'
Tidak ada tanggapan dari Yoona, Arthan meraup wajah Yoona lalu kemudian pergi meninggalkan Yoona untuk masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Dan Yoona? ia masih berdiri ditempatnya, masih memikirkan penghasilan Arthan yang bisa sampai memiliki istana megah itu.
''Hei! kamu tidak mau masuk! ya sudah, tapi disini kalau malam sering ada anjing liar, kamu hati-hati disana!'' teriak Arthan sebelum benar-benar menutup pintu rumah.
''Eehh!! tunggu!!''
Yona berlarian lalu membuka pintu rumah yang tingginya hampir 4 meter itu dengan susah payah.
Begitu ia berhasil masuk kedalam. Arthan malah berdiri dengan santai menyenderkan tubuhnya didaun pintu dengan tangannya yang bersedekap dada.
''Pak Arthan! Anda menyebalkan!''
Arthan hanya menghela nafasnya dan memutar matanya malas. Kembali melangkah pergi meninggalkan Yoona yang masih memasang wajah geramnya.
''Selamat datang Pak, mau saya langsung siapkan makan?'' sapa seorang pembantu rumah.
''Tanyakan padanya. Terserah dia mau makan dulu atau mandi dulu,'' sahut Arthan yang menggedikkan kepalanya pada Yoona. Lalu berlalu begitu saja.
Bi Sumi, pembantu rumah tentu kebingungan. Dia bertanya pada sang pemilik rumah yang tak lain adalah majikannya, tapi kenapa majikannya menyerahkan kewenangan itu pada seorang gadis yang baru saja ia lihat itu.
''Tapi Pak!'' panggil Bu Sumi, dan Arthan mengangkat tangannya tanpa menoleh, menandakan dia tidak suka ada pertanyaan lagi.
Bi Sumi menatap Yoona, dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Gadis yang cantik dan kelihatan berpendidikan. Namun, siapa dia? batin Bi Sumi.
''Maaf Non, mau makan dulu atau mandi dulu?'' tanya Bi Sumi yang seakan tidak percaya dia bertanya seperti itu pada orang asing.
''Hah? eh! saya enggak tau, kenapa tanya saya!'' panik Yoona yang tersenyum canggung dan berlari menyusul langkah Arthan yang sudah masuk ke lift dan hampir saja pintu itu tertutup kalau Yoona tidak cepat-cepat masuk.
''Pak! kasian dia, dia pasti bingung. Huuftt!'' ucap Yoona dengan napas yang tersengal.
''Namanya Bi Sumi. Panggil beliau Bibi, bagaimanapun beliau orang tua,'' cetus Arthan yang sedang mengotak-atik ponsel nya entah tengah sibuk apa.
Satu lagi sifat yang baru saja Yoona tahu pada diri Arthan. Ya! dibalik sikap cuek dan dinginnya, ia justru lebih bisa menghormati orang ketimbang dirinya.
__ADS_1
Happy reading...