Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 41 - Mimpi Yang Menjadi Nyata


__ADS_3

Pagi pun menjelang, Arthan dan Yoona sudah rapih dengan pakaiannya karena hari ini Arthan akan ada pertemuan dan Yoona memang ada kelas pagi.


Sejak dikamar Arthan terus menggoda Yoona hingga kelantai bawah. Dan pada saat mereka tiba di ruang makan, dan Arthan yang masih saja bergelayut manja di ceruk leher Yoona merasa heran karena Yoona yang berhenti di dan terdiam.


''Sayang, kenapa?'' tanya Arthan tapi Yoona tidak sama sekali menjawabnya.


Yoona menggerakkan bahunya, agar Arthan mengangkat kepalanya. Dan beberapa saat kemudian, mereka mematung karena ternyata di sofa ruangan tamu duduklah seorang yang membuat keduanya seketika salah tingkah.


Ya di sana sudah ada Pak Rahmat yang tak lain adalah Ayah dari Yoona. Beliau duduk dengan secangkir teh ditangannya, menatap anak dan menantunya dengan tatapan datar.


Arthan yang biasanya selalu bersikap tenang ketika berhadapan pada siapapun, tapi tidak untuk kali ini seperti kehilangan jati dirinya tingkahnya pun aneh karena rasa gugup yang melanda dan itu dapat Yoona rasakan.


Yoona mengulumkan senyuman ia menahan tawa karena melihat ke perubahan sikap Arthan yang lebih diam dari sebelumnya.


''Duduklah!''


mereka pun duduk di sofa panjang dengan bersebelahan. Lain dari Arthan justru Yoona malah bersikap lebih tenang.


''Ayah, apa kabar? kenapa baru mengunjungi ku?''


''Kerjaan ayah tidak bisa ditinggal sayang. Maafkan Ayah, ya?''


''Baiklah.''


Mata Rahmat beralih ke menantu tercintanya, yang sejak tadi hanya menundukkan kepala tanpa bicara apapun, atau pun menyapa mertuanya itu.


''Hei bandit! ada apa denganmu, hah! Kenapa tiba-tiba anteng begini?'' sergah Rahmat pada Arthan.


''Aku memang seperti ini,'' sahutnya.


''Menantu durhaka, tdiak ada kata sambutan apapun untuk mertuanya. Cih! menyesal aku menikahkan putriku padamu!'' ketus Rahmat.

__ADS_1


''Menyesal pun tidak ada gunanya pak Tua, karena aku lah pemenangnya.''


Yoona sedikit terkejut dengan interaksi kedua pria berbeda usia itu, karena yang dia tahu Arthan akan selalu bersikap formal pada siapapun termasuk oleh para mahasiswanya tapi kali ini tidak, dia justru bersikap seperti seorang teman pada ayah mertuanya.


Rahmat memperhatikan Yoona dengan rinci, memastikan anaknya terurus dengan baik. Lalu berkata. ''Bagus, kau bertanggung jawab penuh atas janji mu. Kalau begitu segera resmikan pernikahan kalian!''


''Itu pasti!'' sahut Arthan begitu yakin dan percaya diri.


''Kalau begitu, Ayah mau istirahat. Kalian kalau mau pergi tidak apa.'' Rahmat beranjak dari tempat duduknya dan akan berlalu pergi.


''Bi Sumi! tolong siapkan kamar untuk mertua saya!'' suruh Arthan dan diiyakan oleh pembantu rumah itu.


Tapi tiba-tiba langkah Rahmat berhenti tepat disamping putrinya.


''Kau memang merawat anakku, Arthan! tapi tidak bisa menjaganya dari gigitan serangga Alaska!'' celetuk Rahmat dan kemudian berlalu pergi.


Mata Yona terbelalak mendengar itu, dan dia pun segera bercermin pada lemari kaca pajangan. Dan dia mulai mengerti kenapa sang Ayah bisa berkata seperti itu karena ternyata jejak percintaan mereka menyisakan sebuah seni yang begitu abstrak di leher dan bawah telinganya.


''Maaf, mas enggak tahu kalau ayah mertua akan datang.''


Yoona mencebikkan bibirnya. Ia benar-benar malu karena ketahuan oleh sang ayah. Entahlah mau ditaruh dimana wajahnya nanti ketika kembali berhadapan muka dengan sang Ayah.


''Enggak apa-apa, Ayah mu juga pernah muda,'' bisik Arthan membujuk Yoona agar tidak merajuk.


*


Hari berlalu begitu saja. Dan tiba dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua pasangan suami istri itu menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah sepasang dua insan yang saling mencintai walaupun memang bersatu karena sebuah tragedi.


Rumah besar milik Arthan seketika berubah menjadi istana yang seakan sedang merayakan pesta besar-besaran dari sebuah kerajaan. Tamu berbagai negara berdatangan, pengusaha dari berbagai macam kota juga ikut di undang oleh Arthan. Dan pesta pernikahan Arthan dan Yoona adalah sejarah pernikahan termewah yang pernah ada.


Semua media meliput satu persatu rangkaian acara. Disana Yoona tertawa begitu cantik kala melihat tingkah konyol Wulan yang sejak tadi terus mencicipi beberapa hidangan di prasmanan. Dan dengan polosnya Wulan mengekspresikan wajahnya sesuai rasa makanan.

__ADS_1


Dan disana juga, tepatnya disebelah kursi Yoona ada Amel yang duduk anggun dan ikut mentertawakan tingkah sahabatnya.


Dan entah sejak kapan ada Noval yang berdiri disamping mereka. Arthan yang sedang berbincang dengan seorang kolega langsung menyudahi obrolannya karena merasa kehadiran Noval disana sebagai saingannya.


''Jangan mencoba mendekati istri saya!'' Entahlah apa itu adalah sebuah peringatan, tapi Noval hanya tersenyum menanggapi ucapan Arthan.


''Apa arti senyuman mu itu!'' sarkas Arthan.


''Tidak ada Pak, hanya saja Anda terlalu overprotektif. Saya cuma ingin mengajak Amel untuk sekedar berjalan-jalan disini saja.''


Sungguh! jika saja ada pendeteksi rasa malu, Arthan akan mendapatkan nilai tertinggi. Tapi Arthan tetaplah Arthan, yang merasa akan dirinya selalu benar.


Amel dan Noval pun berlalu pergi meninggalkan Yoona yang saat ini tengah melirik Arthan begitu tajam.


''Wajahnya menyebalkan,'' ucap Arthan mengatai Noval, hanya untuk mencari pembelaan.


Hubungan yang sempat menjadi rahasia sekarang dengan percaya diri mereka perlihatkan pada isi dunia. Noval yang semula hanya mencintai Yoona perlahan bisa membuka hatinya untuk Amel.


Percayalah apa yang berawal dari mimpi, akan menjadi sebuah kenyataan jika kita merasa yakin.


END


...****************...


Terima kasih untuk semua yang terus mengikuti perjalanan kasih Arthan dan Yoona sampai saat ini. Maaf jika selesainya cerita ini tidak membuat kalian puas.


Tapi Mimin akan berusaha membuat terus karya yang membuat kalian puas.


Mampir juga ke novel baru Mimin ya yang berjudul Talak! Setelah Akad


__ADS_1


Disana Ceritanya enggak kalah serunya lho 🤗🤗


__ADS_2