
Yoona yang sudah berdiri didepan ruangan Arthan, terdiam sejenak. Menghela nafasnya barulah ia mengetuk pintu ruangan tersebut dengan malas.
''Masuk!''
Arthan menyahutinya dari dalam. Matanya hanya melirik sedikit lalu fokus lagi pada lembaran-lembaran kertas. Yoona berjalan kearahnya lalu duduk di kursi depan meja Arthan.
''Maaf Pak, kenapa memangil saya?'' tanya Yoona dengan raut wajah yang datar.
Tidak! Arthan tidak sama sekali menyahuti pertanyaannya. Ia seakan bersikap seolah-olah Yoona tidak ada disana dan tentunya membuat Yoona merasa jengkel karena tidak dianggap.
''Ya sudah saya pergi. Terima kasih.''
Yoona sudah beranjak dari tempat duduknya. Tapi Arthan malah memintanya duduk lagi.
''Duduk!'' tegas Arthan dengan suaranya yang di buat sangat dingin.
Yoona berdecak kesal tapi ia tetap menurut, duduk dan menatap Arthan sinis.
''Jangan tatap saya dengan tatapan mu seperti itu. Saya bukan musuh mu!'' tutur Arthan tanpa melihat kearahnya.
''Ya makanya, katakan kenapa panggil saya. Saya lapar, Paak!'' Yoona merengek layaknya seorang anak kecil yang meminta sesuatu pada ayahnya.
''Ya kalau lapar makan, Yoona Navia….''
Yoona menekuk wajahnya, tidak mengerti dengan apa yang diinginkan Dosen killernya sekaligus suaminya itu.
Arthan menghela nafasnya lalu mengangkat pandangannya, menggedikkan kepalanya kearah sisi ujung meja yang terdapat paper bag disana.
Yoona mengikuti arah pandang Arthan lalu mengernyitkan keningnya. ''Apa?''
''Kamu bilang lapar 'kan?''
Yoona memicing tapi tetap meraih paper bag itu, yang ternyata setelah isinya ia lihat terdapat dua wadah makanan disana.
''Wah!''
Hanya itu yang terucap dari bibir tipis Yoona. Karena didepan matanya sudah terpampang jelas makanan yang menggugah selera, matanya berbinar siap untuk menyantap makanan tersebut.
__ADS_1
''Ini buat saya, Pak?''
''Iya, berikan itu pada saya,'' tunjuk Arthan pada wadah makanan lainnya.
Yoona menggeser wadah itu kedepan Arthan. Merekapun makan bersama di ruangan Arthan yang entah kenapa sejak dulu tidak ada yang berani masuk kedalam kalau tidak Arthan sendiri yang mengundangnya.
Ya, tanpa Yoona sadari. Arthan memanggilnya hanya karena ingin makan bersama dengannya. Bukan untuk menghukum ataupun lainnya, tapi jika saja Arthan bicara dengan baik, tidak ketus mungkin Yoona akan sedikit melunak padanya.
Setelah menyelesaikan makannya. Yoona menutup kembali wadah yang sudah kosong itu. Menyenderkan tubuhnya disandaran kursi mengusap perutnya yang sangat terasa penuh itu.
''Kalau begitu aku pamit ya, Pak. Terima kasih makanan-nya,'' ucap Yoona dengan tersenyum semanis mungkin yang membuat Arthan salah tingkah karenanya.
''Ekhem! iya udah sana!'' usir Arthan setelah berdehem.
Yoona beranjak tapi lagi-lagi Arkan memanggilnya. Yoona kembali menoleh dengan wajah yang seakan menunggu apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu.
''Saya tidak bisa pulang bersama kamu. Kamu naik taksi saja.''
Kalimat dari Arthan bagaikan angin segar yang membuat Yoona tersenyum senang. Hari ini ia lega karena tidak harus mengeluarkan uang untuk makan siang, dan dia juga tidak harus satu mobil dengan Suaminya karena ditakutkan akan ketahuan teman-temannya.
Yoona yang akan berbalik, lagi-lagi Artha saatn memanggilnya, membuat Yoona semakin jengkel.
'Jangan berubah pikiran, please!' batin Yoona dalam hatinya.
''Ini! pakai itu untuk keperluan mu. Beli apapun yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan. Paham?!''
Mata Yoona terbelalak lebar bahkan seperti ingin lepas dari tempatnya. Karena saat ini iris matanya tertuju pada kartu berwarna hitam yang ada di tangan Arthan yang akan diberikan untuknya.
Tanpa berkedip Yoona melangkah mendekat dan tangannya sudah terulur bersiap mengambil kartu itu dari tangan Arthan. Tapi karena matanya hanya terfokus dengan kartu sehingga membuat ia tersandung oleh meja.
Tapi cukup beruntung karena tidak jatuh ke lantai yang sudah siap menangkapnya. mata mereka sejenak bertemu, debaran aneh itu kembali terasa di masing-masing dada mereka.
''Maaf!'' Yoona segera menjauh dari Arthan yang juga gugup seperti dirinya.
''Ya sudah ambil ini. Dan keluarlah, a–aku masih banyak kerjaan.'' Sungguh baru kali ini Arthan bisa gugup seperti itu. Bahkan saat berhadapan dengan presiden pun ia berbicara dengan lugas dan jelas. Tapi kenapa pada Yoona, dia bisa gugup seperti itu.
Yoona pun mengambil black card itu. Lalu pergi setelah mengatakan kata 'terima kasih' pada Arthan.
__ADS_1
Saat Yoona membuka pintu untuk keluar dari ruangan Arthan, dua temannya sudah berdiri didepan pintu. Dan dengan cepat Yoona menyembunyikan black card itu, karena jika mereka lihat, pastilah akan ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan bisa ia jawab.
''Bagaimana? kenapa lama sekali?''
''Ya, Pak Arthan memberikan hukuman apa padamu?''
''Dia tidak memberikan skorsing 'kan?''
Kepala Yoona terus menoleh ke Amel dan Wulan secara bergantian, mereka melontarkan pertanyaan tanpa henti.
''Stop! kalian bisa berhenti enggak?'' Yoona menutup mulut kedua temannya setelah menyimpan kartu hitam itu di saku belakangnya.
''Aku cuma dihukum nulis 'Aku tidak akan terlambat lagi' sebanyak 20 lembar.''
Mata Amel dan Wulan melebar lalu saling melirik.
''Haahh!!?''
Yoona mengangguk, agar mereka berdua yakin dengan kebohongan yang sedang ia lakukan itu. Dibenak Yoona ia hanya bisa tertawa, karena hukuman semacam itu mungkin hanya ada di sekolah menengah pertama seperti apa yang ia pernah alami.
Di saat dua temannya yang masih kebingungan, seperti merasa tidak yakin apa yang dikatakan oleh Yoona. Dengan segera Yoona pun mengalihkan perhatian mereka.
''Ya sudah, kalian udah makan?''
''Justru kami menunggumu. Kita makan ke kantin, yuk!''
''Emmm, tapi aku lagi diet. Kalau begitu biar aku yang bayar makanan kalian berdua.''
Mendengar itu, Amel dan Wulan bersorak kegirangan dan melupakan kebohongan Yoona.
Di kantin, sesuai apa yang Yoona janjikan pada kedua temannya. Kalau semua makanan yang mereka makan dialah yang membayarnya dan Yoona hanya memesan minuman untuknya.
Wajah Yoona berseri-seri bahkan bibirnya terus saja tersenyum sembari tangan nya sibuk memainkan ponsel.
Amel dan Wulan yang merasa aneh hanya bisa saling melirik. Yang semestinya Yoona kesal karena hukuman dari dosen killernya, melainkan saat ini Yoona malah seperti habis memenangkan undian. Meski memang itu yang terjadi, menang undian.
Happy reading...
__ADS_1