Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 27 - Kenekatan Yoona


__ADS_3

Yoona dan Arthan sudah berada di dalam kamar. Yoona tertunduk di meja riasnya sembari tangannya menyapu wajahnya dengan sebuah kapas yang sudah dituangkan cairan cleanser wash to fash.


Arthan yang baru saja keluar dari kamar mandi, melirik kearah Yoona. Tangannya terlihat sibuk tapi tatapan mata Yoona terlihat kosong, dan dapat disimpulkan bahwa Yoona memang sedang melamun.


Rupanya gadis 22 tahun itu masih memikirkan keseriusan Arthan yang ingin meresmikan hubungan mereka dengan cara menggelar acara resepsi. Tapi…, apa tidak akan membuat penghuni kampus geger? lantas kenapa dia harus memikirkan itu, terserah mau geger ataupun membuat lingkungan kampus syok terapi. Ini tentang keseriusan Arthan yang benar-benar ingin meresmikan hubungan mereka.


Sesekali Yoona tersenyum kecil dan Arthan yang duduk ditepi ranjang melihat itu.


"Mandi sana! melamunkan siapa sih!" ledek Arthan.


Mata Yoona melirik kearah Arthan melalui bayangan kaca. Dan mata mereka bertemu cukup lama. Memang, Yoona dapat melihat jelas ketulusan Arthan hanya dari tatapan mata mereka tapi kenapa dia sendiri merasa belum yakin dengan apa yang terjadi ini.


Yoona masih merasa seperti bermimpi, bermimpi memiliki suami yang menyamar sebagai orang biasa dan nyatanya milyader.


Dia ingat betul, saat dia membaca info tentang Arthan di pencarian Internet. Disanalah tertulis jelas seberapa kekayaan seorang Arthan.


"Mas?"


"Hmm?"


"Ini enggak mimpi 'kan?"


"Mimpi? maksudnya?"


Yoona menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari tempatnya untuk gantian mandi. Arthan menggedikkan kedua bahunya, dan pergi keluar kamar untuk mengerjakan sesuatu dimeja kerjanya.


Jari-jarinya bergerak dengan lihai mengetikkan sesuatu di keyboardnya. Beberapa saat kemudian ia tersenyum dengan puas lalu menutup kembali laptopnya.


Deringan ponsel menyita perhatiannya, dan nama Ziko lah yang menghubunginya.


''Emm?''


''Pak, pihak WO sudah saya hubungi dan mereka bersedia untuk menyiapkan semuanya. Dan Maafkan saya pak, karena ternyata pihak WO malah menyebarkan rencana ini sehingga saya dihubungi beberapa sponsor untuk menunjang acara, bagaimana?''


''Saya tidak menerima sponsor bentuk apapun. Kalau mereka memaksa silahkan, tapi saya akan membayar mereka yang semestinya.''


''Baik Pak!''


Arthan pun memutuskan sambungan telepon, dan kembali ke kamar. Dua hari ini terasa sangat melelahkan, ditambah kemarin dia tidak pulang kerumah dan bekerja sampai larut karena kesalahpahaman itu.


Baru saja Arthan akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ia tertegun dengan wajah yang memerah. Matanya menatap lekat pada Yoona yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Rambut yang basah, senyuman yang terlihat sangat manis, dan satu yang membuat Arthan tertegun, yaitu kali ini Yoona tidak memakai bathrobe yang biasa dia pakai, tetapi kali ini Yoona memakai handuk. Ya! handuk, yang sangat jelas memperlihatkan paha putihnya dan dada yang begitu mulus.


Arthan merasa tenggorokannya tercekik, bahkan sangat sulit menelan ludahnya yang sejak tadi menyangkut.


Yoona tersenyum begitu manis, berjalan kearah meja rias untuk mengambil hairdryer nya. Tapi kenapa seolah-olah Yoona memang sedang memancingnya, seakan dia sengaja membuat birahi seorang Arthan Miller naik.


''Mas?'' panggil Yoona dari sana.


Arthan yang masih terpukau dengan penampilan Yoona saat ini, kelabakan karena Yoona memanggilnya dan menatapnya meskipun hanya lewat bayangan cermin.


''Emm, iy–ya?''


''Bisa bantu aku?''


''A–apa?''


''Bantu aku keringkan rambut, bisa?''


Bak seperti anak kecil yang ditawarkan sebuah permen. Jelas Arthan mengangguk dengan cepat, tapi dia tidak langsung turun dari ranjang sehingga Yoona kembali memanggilnya.


Degub jantungnya semakin tidak bisa terkendali kala ia sudah berdiri dibelakang Yoona, yang tentunya pasti tercium aroma sampo dan sabun yang membangkitkan gairah sang Singa jantan.


Bukan tidak menyadari sikap gugup Arthan, bahkan Yoona dapat melihat jelas wajah Arthan yang memerah karena malu, dan bisa saja merah karena menahan sesuatu.


Apakah Yoona tidak gugup? No! bahkan kegugupan Yoona melebihi dari Arthan, jika saja dadanya terpasang sebuah penyadap suara, mungkin suara jantung Yoona bisa membuat sakit telinga.


Lantas kenapa Yoona bisa melakukan itu?


Beberapa menit sebelumnya. Yoona yang sudah menyelesaikan mandinya tidak langsung keluar dari kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin wastafel, disana ia berpikir banyak.


Tiba-tiba ia mengingat isi perjanjian itu, yang mana tertulis kalau Arthan tidak akan mengambil haknya terkecuali Yoona lah yang memberikannya.


Meski memang dia belum sepenuhnya tahu tentang perasaannya, tapi sebagai mana mestinya seorang istri memang berkewajiban memberikan hak seorang suami.


Maka Yoona yang sudah memakai bathrobe-nya langsung ia lepaskan dan menggantinya dengan handuk yang pastinya akan lebih menampilkan lekuk tubuhnya juga bagian tubuhnya yang lain.


Yoona menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi, meyakinkan diri untuk melakukan hal gila seperti itu, dengan memberikan sebuah umpan agar Arthan dapat mengerti kalau dia sudah siap untuk memberikan apa yang semestinya ia dapatkan sejak hari pertama menjadi istrinya.


Arthan yang sedang mengeringkan rambut Yoona yang sudah mulai mengering itu, masih setia berdiri dibelakang Yoona. Tidak ada yang dilakukan Arthan untuk memulainya, dan itu membuat Yoona sedikit jengkel.


''Kenapa enggak peka banget sih!''

__ADS_1


Yoona mencari cara lain agar Arthan mengerti maksud dia melakukan itu. Dan dengan terpaksa Yoona pun mengambil cara lain yang mungkin saja lebih jitu. Yoona memejamkan matanya, seraya berpikir. Jika saja bukan karena tuntutan kewajiban Yoona tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu. Dan mungkin saja nantinya Arthan akan berpikir kalau Yoona terlalu agresif.


Ada dua kemungkinan, Arthan yang langsung mengerti, atau Arthan yang akan menganggapnya sebagai wanita agresif.


Tangan Yoona bergerak ragu kearah lilitan handuknya. Dan Cetassss!! Yoona melepaskan lilitan handuk yang seketika membuat handuk itu terlepas dan dan terjatuh kebawah.


Wajah Yoona sudah benar-benar memerah, ia malu! malu dengan sikapnya sendiri. Tapi kenapa harus malu, toh Arthan adalah suaminya, entah sekarang ataupun nanti memang Yoona akan memberikan hak Arthan 'kan?


Arthan yang berdiri dibelakang tiba-tiba terbelalak lebar, karena merasakan sesuatu yang terjatuh dikakinya, dan saat matanya melihat kebawah. Dia benar-benar sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri.


Tenggorokannya sudah terasa kering, bahkan terong arabnya sudah sangat terasa sesak dibawah sana. Terlebih lagi matanya melihat dua gundukan yang berukuran sedang yang ada di belakang tubuh Yoona.


Matanya bergerak pelan, terangkat dan Bum! mata Arthan terpatri pada sebuah pemandangan yang sangat indah. Matanya menatap bayangan cermin yang menampilkan sebuah lekuk tubuh Yoona yang bahkan tidak terhalang oleh sehelai benang pun.


Arthan tertunduk, nafasnya juga semakin berat.


Dan …


Kepala Arthan terjatuh dipundak Yoona, yang dapat ia rasakan Yoona sedikit terjingkat.


''Yoona, maafkan saya.'' Suara Arthan benar-benar serak.


Yoona yang mendengar apa yang dikatakan Arthan tentu merasa kecewa, mengira kalau saat ini Arthan menolaknya.


Tapi nyatanya tidak! Tiba-tiba Arthan menciumi ceruknya yang masih tertutup rambut panjangnya.


Puas menghirup kesegaran dari sabun mandi beraroma bunga itu. Perlahan Arthan membalikkan tubuh Yoona, ia tersenyum melihat Yoona yang terpejam rapat. Dengan dua jarinya ia meraih dagu lancip Yoona lalu memagutnya dengan begitu lembut.


Perlahan tapi pasti, itulah ibarat perlakuan Arthan pada Yoona saat ini. Karena terbukti, Yoona yang tadi hanya diam tidak membalas pagutan Arthan, sekarang justru ikut membalas apa yang dilakukannya walaupun memang masih sangat amatir.


Ya ini bukan pertama kali mereka melakukan ciuman, tapi memang sudah kesekian kalinya. Tapi ini berbeda, sangat berbeda! nafsu birahi yang sudah menggebu membuat ciuman itu bukan lagi hanya sekedar ciuman tapi berubah menjadi ciuman penuh kasih dan nafsu.


Tangan halus Arthan mengusap punggung mulus Yoona yang pasti membuat perempuan berdarah Cindo itu meremang dan terbawa akan nafsu halalnya.


''Bolehkah?'' tanya Arthan yang berbisik langsung ketelinga Yoona setelah melepaskan pagutanya itu. Dan entah kenapa tanpa berpikir lagi karena memang itulah tujuan Yoona, ia mengangguk begitu saja sebagai jawabannya.


Arthan tersenyum senang. Ia tersenyum pada wajah Yoona yang masih memerah, sekejap ia mengecup kening Yoona kemudian membawa Yoona kedalam gendongan dan meletakkannya diatas kasur.


Mata mereka masih saling menatap, tapi tangan Arthan bergerak kesamping ranjang untuk mematikan lampu.


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2