Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 9 - Sebuah Movie


__ADS_3

Pihak 1


Arthan Miller


Sebagai pihak satu atau bisa di sebut juga sebagai suami dari saudari Yoona Navia (pihak 2). Wajib memberikan hak nya dalam batasan, harus memastikan kenyamanan dan keamanan, juga wajib memberikan kebutuhan saudari Yoona dalam bentuk apapun itu. Pihak satu dilarang memaksa pihak dua untuk berhubungan intim. Jika Pihak satu melanggarnya sebagai mana mestinya Pihak satu akan membebaskan pihak 2, dan harus menyetujui apapun permintaan dan keinginannya.


^^^Tertanda^^^


^^^Arthan Miler^^^


Pihak 2


Yoona Navia


Sebagai pihak ke-2, wajib melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Seperti yang sudah tertera di lembar 1, istri wajib memberikan hak seorang suami dengan tidak ada keterpaksaan. Pihak dua dipersilahkan melayangkan tuntutan padah pihak satu, jika pihak satu tidak menjalankan perjanjian yang sudah tertulis.


^^^Tertanda^^^


^^^Yoona Navia^^^


*


Yoona membaca dua lembaran surat perjanjian atau bisa dikatakan sebagai Pra-nikah keduanya. Kepalanya mengangguk-angguk, ia merasa perjanjian itu tidak memberatkan sebelah pihak ataupun menguntungkan sebelah pihak.


Ia terdiam, memikirkan sesuatu. Bibirnya tersungging sebuah senyuman licik.


'Kalau begitu, aku bisa buat dia melanggarnya untuk menerima kebebasan ku?' batin Yoona bermonolog.


Arthan yang melihat senyuman aneh Yoona hanya bisa menggelengkan kapalnya, ia meraih lembaran lainnya lalu menggulung membentuk sebuah sebuah teropong.


Daann... Tuk!


Arthan memukul kepala Yoona dengan lembaran kertas itu, membuat Yoona tersadar dari lamunannya yang sedang berpikir licik itu.


''Berhenti berpikir aneh-aneh. Saya lapar, kalau kamu lapar juga, kamu bisa ikut saya kebawah!'' Arthan beranjak pergi dari sana, meninggalkan Yoona yang masih tersenyum-senyum sendiri.


''Heiii!! pihak satu!! aku ikutt!!'' teriak Yoona yang meledek sebutan Arthan.


Arthan sudah menekan tanda tutup pada tombol yang ada sisi pintu lift, menatap datar Yoona yang sedang berlari kearahnya.


''Suami ku ini tega sekali ya! meninggalkan istrinya begitu saja dengan keadaan perut yang lapar!'' seloroh Yoona dengan nakalnya, dan Arthan hanya bisa meliriknya kesal.


Pintu yang tadi hampir tertutup, terbuka lagi karena Yoona. Arthan pun menekan tombolnya lagi barulah pintu itu tertutup kembali.


Arthan memejamkan matanya, ia menggeram kesal. Karena Yoona yang berdiri disampingnya di lift ya g Sanga tertutup itu malah bersiul dengan irama.

__ADS_1


Arthan berdecak kesal seraya berkata, ''Kamu ini perempuan, itu tidak baik!'' Seketika Yoona merapatkan bibirnya, sungguh ia seperti sedang dimarahi sang Ayah, tapi ini lebih menakutkan baginya.


Sesampainya di lantai yang sama disaat Yoona baru saja datang, yaitu lantai satu. Arthan keluar lebih dulu dengan Yoona yang membuntut dari belakang.


Tibalah mereka di ruang makan, di mana terdapat sebuah meja yang sudah terisi beberapa sajian yang memang diperuntukkan untuk mereka. Dan di sana juga sudah ada dua orang asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.


''Silakan Tuan, Nona. Semoga makan malam nya memuaskan,'' seru keduanya mempersilahkan Arthan dan Yoona untuk duduk di kursinya masing-masing.


Dari mulai makanan sampai .


makanan utama sudah tersedia disana. Yoona menatap lapar pada makanan-makanan itu. Tangannya sudah bergerak dengan tidak sabarnya. Namun, karena matanya melirik Arthan, dengan sangat terpaksa ia pun menahan air liurnya itu karena makanan-makanan yang terlihat sangat menggugah selera.


Ya, ia melihat Arthan yang memakan dengan sangat elegan, sesuai urutan. Ia mengambil sedikit salah satu makanan pembuka terlebih dahulu untuk memakan makanan utamanya.


Dengan malas Yoona mengikuti cara Arthan makan, bahkan Yoona juga menghitung pergerakan rahang Arthan yang mengunyah makanan untuk memakan suapan selanjutnya.


''Hidupnya terlalu banyak aturan,'' gumam Yoona dengan sangat pelan bahkan hampir tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Setelah selesai memakan dua jenis makanan, Arthan menyeka area mulutnya dengan sehelai kain khusus. Dan itu semua Yoona lakukan juga agar terlihat lebih berkelas tapi yang sebenarnya dia tidak mau kalah elegan dari Arthan.


Walaupun perutnya masih terasa sangat lapar. Ya! Yoona gadis yang sebenarnya tidak bisa jaim, dia akan bertingkah masa bodoh didepan siapapun. Bahkan ia akan menambahkan makanannya jika masih terasa lapar, tapi tidak untuk kali ini. Ia justru menahan karakter sebenarnya yang ada pada dirinya sendiri.


Dua asisten rumah tangga itu kembali datang dan membawakan dua mangkuk dessert diatas nampan lalu memberikannya pada Yoona dan Arthan.


Sundae, nama jenis dessert itu. Es krim yang disiram dengan saus karamel dan ada satu buah ceri diatasnya. Membuat Yoona menelan ludahnya.


Sunyi dan hening, itu suasana dimeja makan. Sangat berbeda dari kebiasaannya dirumah bersama Ayahnya. Yoona akan banyak bercerita sembari menikmati makanan, tapi tidak untuk kali ini. Ia bahkan tidak bisa berdecak kagum dengan rasa nikmat yang menari-nari di lidahnya.


Belum juga ia menghabiskan es krim terenak yang pernah ia makan itu, justru Arthan sudah kembali menyeka mulutnya dan meminum airnya. Lalu beranjak dari kursi.


Sudah dipastikan, kalau lagi-lagi makanan yang membuat Yoona merasa terbang itu, harus ia relakan begitu saja karena sang empunya rumah sudah beranjak pergi dan mengharuskan Ia juga harus ikut pergi dari kursi kenikmatan itu. Dengan sangat berat hati.


Yoona melangkah dengan lemas menyusul Arkan yang menuju ke satu sisi ruangan yang ternyata di sana adalah bioskop mini. Yang hanya ada 6 kursi di dalamnya. Mata Yoona lagi-lagi terbelalak, ia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata dosennya sekaya itu.


''Kalau menjadi dosen bisa sekaya ini, aku akan belajar dengan rajin agar bisa menjadi dosen!''


Yoona bergumam di ambang pintu bioskop, ia masih mengagumi desain ruangan itu yang jauh berbeda dari bioskop pada umumnya. Bahkan dengan bioskop yang berkelas sekalipun.


''Kau suka menonton?'' tanya Arthan yang sudah duduk di kursi sembari tangannya memilah bermacam-macam film yang ada di layar iPad.


''Suka!'' jawab Yoona dengan begitu excited.


''Film apa yang kau biasa tonton?'' tanyanya lagi.


''Romantic atau horor!''

__ADS_1


''Action?''


''No! I don't like action movie. i like romantic!'' menurun naikkan alisnya menjawab pertanyaan Arthan.


Arthan memutar matanya malas, tapi dia malah memberikan iPad itu pada Yoona agar Yoona bisa memilih sendiri film apa yang ingin ia lihat.


Dengan sangat senang hati Yoona pun memilih-milih film yang tertera di sana. Dan tanpa melihat deskripsi atau penjelasan di bawah cover film itu, melainkan hanya melihat potret sepasang aktor yang berpose sangat romantis, ia pun menekan begitu saja dan mulailah flm itu.


Dia menaruh iPad dengan sembarang yang tanpa dia sadari iPad itu terselip di antara kursi yang mungkin saja tidak akan ditemukan jika tidak menggeser kursi-kursi lainnya.


Yoona duduk dan bersiap untuk menonton film itu, Arthan yang sedang melihat ponselnya segera ia simpan kembali karena mendengar film yang sudah mulai diputar.


''Film apa?''


''Entahlah, tapi aku lihat covernya sangat romantis.''


Arthan pun mengangguk-anggukan kepalanya.


Raut wajah yang tadinya senang tiba-tiba keduanya berekspresi sangat aneh, karena di layar sana, blm menampilkan sebuah adegan yang membuat keduanya membeku.


Adegan-adegan yang sangat panas berputar dengan sangat apik, jantung Yoona sampai terasa ingin melompat dari tempatnya bahkan Arthan sudah gelisah di kursinya.


''Ke–kenapa kau memilih film ini?''


''Aku juga tidak tahu.'' Lirih Yoona menjawabnya dengan gugup.


''Apa kamu sengaja memancingku!'' tuduh Arthan.


''Tolonb jangan terlalu percaya diri!''


''Sudah tunggu apa lagi, ganti cepat!''


Dengan segera Yoona mencari ipad yang menjadi remote control, tapi tangannya tidak menemukan di tempat yang tadi ia letakkan.


''Tidak ada.''


''Apanya yang tidak ada?''


''Remote control-nya.''


Arthan dibuat semakin frustasi, karena di sana sudah terlihat adegan-adegan yang semakin panas bahkan suaranya pun membuat dia semakin merasa gerah.


Sebagai laki-laki yang normal, tentunya Arthan dibuat kelabakan karena terong arabnya, yang ia simpan baik-baik itu memaksa keluar untuk mencari kenyamanan yang sebenarnya.


''Jangan salahkan aku jika malam pengantin itu terjadi malam ini!''

__ADS_1


''Ini karena Anda, Pak! kenapa flm itu ada didaftar?!''


Begitulah kodrat seorang wanita, ia tidak akan mau menerima salah biarpun memang dia melakukan kesalahan.


__ADS_2