Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 26 - Ngidam?


__ADS_3

Ketakutannya kalau teman-temannya akan kecewa dan marah karena sudah menyembunyikan sebuah rahasianya selama ini, ternyata tidaklah terjadi.


Kedua temannya justru ikut senang karena ternyata Yoona menikah dengan musuhnya sendiri. Bahkan mereka terus meledek Yoona yang sudah terlihat kesal itu.


Hari sudah mulai senja, Yoona berpamitan pada kedua temannya untuk pulang. Mengingat statusnya bukan lagi lajang membuat nya memiliki sebuah perasaan tanggung jawab sebagai wanita yang sudah bersuami.


Kedua temannya pun tidak mau memaksa Yoona untuk tetap tinggal untuk bermalam disana, karena mereka juga mengerti kewajiban seorang istri.


Amel dan Wulan turut mengantarkan Yoona sampai depan rumah. Yoona yang berniat untuk pulang menggunakan taksi agak terkejut karena melihat mobil Arthan yang terparkir agak jauh dari gerbang.


Pandangan Yoona lurus ke depan pada mobil tersebut, Amel dan Wulan pun ikut melihat ke arah yang sama.


''Itu 'kan mobil yang sama yang tadi mengantar mu?''


Mulut Amel terbuka lebar karena baru menyadari sesuatu.


''Jadi! tadi yang mengantarmu itu Pak Arthan dan itu juga Pak Arthan?'' ucapnya lagi.


Yoona hanya memberi anggukan dan tiba-tiba kedua temannya malah berlari ke arah mobil Arthan. Yoona yang masih berada di tempat-nya hanya bisa menepuk jidat melihat kelakuan kedua temannya yang begitu random.


Arthan yang memang sejak tadi sudah menunggu Yoona di sana, cukup terkejut karena dua mahasiswinya saat ini sedang mengetuk kaca mobilnya.


Rasa dilema pun menyerang. Kalau dia menurunkan kaca, dia takut mereka akan melontarkan banyak pertanyaan kenapa dia ada di sana. Dan jika tidak ia buka rasa curiga pasti ada, karena salah satu mahasiswinya bahkan sampai melongok ke dalam mobil dengan kedua tangannya yang membentuk sebuah teropong lalu ditempelkan ke kaca mobil yang tentunya pasti melihat jelas wajahnya.


Ketika dia sedang kebingungan, satu orang bergabung dengan kedua mahasiswinya itu yang tak lain adalah Yoona, istrinya sendiri.


''Mas, buka!'' pinta Yona dengan sedikit berteriak.


''Wiihh, Mas…, Lan?" ledek Amel memberikan kerlingan matanya pada Wulan yang tersenyum jenaka.


Tentu Arthan merasa heran tapi dia tetap membuka pintu dan keluar dari sana.


''Yoona?'' tanya Arthan dengan bahasa kalbu.


"Mereka sudah tau,'' jawab Yoona yang langsung mengerti.


Arthan hanya ber 'oh' saja dan memberikan senyuman kecil pada kedua teman istrinya itu.


''Pak! Anda tersenyum?'' tanya heran Wulan.


''Andai aja Pak, Bapak bisa seramah ini sejak dulu, Yoona enggak bakal benci sama Bapak,'' celetuk Amel membuat Arthan melirik kearah Yoona yang tersenyum dengan memamerkan deretan giginya.


''Yaa udah, aku pulang ya. Bye!'' Yoona mendorong pelan Arthan untuk masuk ke dalam mobil dan dia pun juga ikut masuk ke bagian kursi penumpang.


Yoona melambaikan tangannya pada kedua temannya yang masih berdiri di sana dan Arthan pun melajukan kendaraannya.


Banyak yang ingin Arthan lontarkan tapi dia tahan untuk di rumah nanti. Matanya terus melirik ke arah Yoona, melihat sikap Yoona yang biasa saja membuat dia sedikit aneh.


''Apa dia benar-benar udah menerima hubungan ini?'' gumam Arthan dalam hatinya.


Empat puluh lima menit kemudian mereka pun sampai di rumah. Seperti biasa pasti ada dua orang yang menyambut mereka dengan membukakan pintu mobil untuk mereka.


Dan seperti biasa juga, Bi Sumi sudah bersiap menyambutnya di dalam rumah dan mempertanyakan hal yang biasa dipertanyakan saat mereka sampai di rumah, yaitu. ''Selamat malam Pak, Bu. Mau langsung makan atau mandi dulu?''


Bahkan Yoona sudah sangat hafal dengan kalimat yang akan dikatakan Bi Sumi saat menyambut kedatangan mereka.


Dan Yoona juga sangat hafal dengan kalimat yang akan Arthan katakan sebagai jawaban.


''Tanyakan padanya?''


''Bagaimana Bu?''

__ADS_1


''Mas, aku lapar. Makan dulu ya?''


Arthan mengangguk dengan senyuman samarnya, yang membuat wanita paruh baya bernama Sumi, agak terkejut. Karena seumur hidupnya selama dia bekerja di sana, baru kali ini melihat garis senyuman di wajah tuannya itu.


Arthan dan Yoona pun berjalan ke arah ruang makan yang sudah seperti biasa juga, di meja makan pasti sudah tersajikan beberapa macam lauk pauk yang pastinya sehat.


Tapi Yoona yang melihat lauk pauk sebanyak itu apalagi makanannya hampir sama setiap harinya, tentu merasa bosan.


Yoona yang sudah duduk di kursinya tidak langsung menyendokkan makanan, ia diam dengan mata yang terus menatap satu persatu piring yang berisikan lauk pauk.


Dan sikap Yoona pun terpergok oleh Arthan yang merasa heran.


''Ada apa? katanya lapar,'' ucapnya.


''Maaf Mas, bukannya aku kurang bersyukur. Tapi aku sedang ingin makan nasi goreng.''


Arthan terdiam, matanya menatap perut rata Yoona. Dan Yoona yang mendapatkan tatapan itu langsung mengerti kalau Arthan sedang berpikiran macam-macam padanya.


''Seingat ku, kita belum berbuat apa-apa, kenapa ada sesi ngidam begini?''


''Mas! enggak gitu…." Yoona menutupi perutnya dengan kedua lengannya.


Matanya melirik kearah Bi Sumi yang berdiri tidak jauh dari mereka, merasa tidak enak akhirnya Yoona memutuskan untuk berbisik-bisik.


"Aku hanya bosan dengan makanan ini, aku pengen makan nasi goreng aja.''


Arthan pun mengangguk-anggukan kepalanya. Kepalanya menoleh ke arah Bi Sumi lalu memanggilnya.


''Ya Pak?''


''Semua makanan ini bawa saja, dan bagikan kesemua orang, Bibi juga makan ya.'' Arthan berkata dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan pembantu nya itu.


''Baik Pak,'' sahut Bi Sumi yang langsung memanggil teman-temannya yang bekerja disana untuk mengambil semua makanan itu.


''Emmm tidak perlu, biar saya yang buat. Bibi bergabung dengan yang lain saja.''


Bi Sumi pun berlalu pergi dari sana, meninggalkan suami istri itu disana.


Arthan beranjak dari duduknya dan Yoona mengira kalau Arthan marah kepadanya.


''Mas? mas marah?''


''Tidak, katanya mau makan nasi goreng.''


''Beli?''


''Saya yang buat.''


Arthan pun melangkah ke arah sebuah ruangan yang ternyata di sanalah tempat para juru masak mengolah makanan.


Satu lagi yang Yoona baru tahu dari Dosennya itu. Jago dalam menaklukkan wajan diatas api.


Yoona menonton aksi Arthan yang dengan lihainya mengaduk-adukkan spatula pada nasi yang sudah dibumbui di atas wajan.


Yoona merasa malu karena dia sendiri sebagai seorang wanita tidak bisa memasak. Ya di sinilah Yoona berpikir kalau ternyata peranan seorang ibu itu sangatlah penting untuk mengajari beberapa hal pada anak gadisnya. Yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah yang bahkan hanya sibuk mencari uang untuk mencukupi kebutuhan anak gadisnya itu.


''Andai Aku memiliki ibu pasti aku diajarkan memasak''


Yona bermonolog dalam hatinya. Bahkan sampai tidak sadar kalau Arthan sudah menyelesaikan masaknya, dan saat ini sedang menata nasi goreng di atas piring.


''Tolong ambilkan kerupuk disana!'' pinta Arthan pada Yoona yang tersentak kaget.

__ADS_1


''Hah? apa Mas?''


''Ambilkan kerupuk di lemari itu,'' ulang Arthan menunjuk kearah lemari kecil yang ada didekat lemari pendingin.


Arthan membawa piring itu ke meja dapur bukan meja di ruang makan. ''Kita makan di sini saja ya?'' Yoona mengangguk dengan tangannya memegang satu toples kerupuk yang entah sejak kapan rumah sebesar itu menyimpan kerupuk kulit yang biasa orang-orang makan


''Nasi goreng tanpa kerupuk itu kurang enak,'' seloroh Arthan yang sudah duduk dikursinya.


Yoona tertawa kecil melihat sikap sederhana Arthan. Padahal ada satu pertanyaan yang sangat ingin dia tahu, tapi dia tunda hingga dia menyelesaikan makannya.


Satu suapan mendarat ke mulutnya. Ia terdiam sejenak menikmati nasi goreng masakan Arthan. Sungguh! sangat enak, Yoona sampai terus menyuapkan nasi itu kemulutnya, hingga tandas tak tersisa satu butir pun nasi.


Yoona segera menenggak air minum. Dan rasa kenyang pun ia rasakan, antara kenyang dan puas!


Yoona tersenyum pada Arthan yang menatapnya. Yoona masih diam menunggu Arthan menyelesaikan makannya baru ia berniat akan mempertanyakan sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya.


Setelah melihat Arthan sudah mengelap bibirnya, Yoona pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


''Mas?''


''Eemmm?''


Mas belum menjawab pertanyaanku tadi siang.


''Pertanyaan apa?''


''Siapa kamu sebenarnya?''


''Siapa saya, siapa saya bagaimana maksudmu?''


''Begini lho Mas! yang aku tahu Mas itu hanya bekerja sebagai Dosen, tapi tiba-tiba aku dibawa ke rumah sebesar ini dan setelah itu kamu memberikanku black card, yang hanya dimiliki orang-orang tertentu 'kan? Dan kantor itu, jika Mas hanya pegawai, kenapa karyawan di sana seolah-olah sangat menghormati Mas?''


Yoona membuang nafasnya perlahan karena merasa lega, ternyata dia bisa mempertanyakan itu semua, pertanyaan yang terus mengganjal dalam hatinya.


Arthan tertawa kecil mendengar beberapa pertanyaan yang tujuannya itu sama, ingin tahu siapa dia sebenarnya.


''Saya Arthan Miller. Ini! silakan searching nama saya.''


Arthan memberikan gawainya yang bahkan tidak terkunci seperti orang-orang kebanyakan. Yoona dengan ragu mengambil handphone milik Arthan lalu mencari tahu nama suaminya itu seperti apa yang dipinta Arthan


Dan betapa terkejutnya dia. Hanya dengan dia mengetik nama depannya saja, wajah Arthan sudah terpampang nyata di sana, lengkap dengan biodata akuratnya.


''Mas ini serius?!''


''Kelihatannya gimana?''


''Iya…, iya benar. Tapi kenapa mas malah bekerja sebagai Dosen?''


''Memangnya kenapa apa ada larangan pengusaha dilarang menjadi dosen?''


''Ya nggak ada sih. Jadi kantor tadi juga milik, Mas Ar?''


Arthan memasang raut wajah seperti sedang berpikir karena berniat menjahili Yoona.


''Mas aku serius?''


''Iya… iya… baiklah, baiklah. Iyah! kantor tadi, perusahaan tadi itu memang milik saya.''


Sungguh jika saja Yoona memiliki penyakit seperti Ayahnya, yaitu lemah jantung mungkin saat itu juga Yoona sudah terbujur kaku, tidak sadarkan diri di lantai karena saking terkejutnya, karena mengetahui sebuah kebenaran yang mengejutkan.


Ternyata pria yang dia nikahi bukanlah hanya sekedar seorang Dosen, tetapi seorang pengusaha yang sangat sukses juga kaya raya.

__ADS_1


''Kenapa diam?'' tanya Arthan yang masih mengulumkan senyumannya. Yoona hanya menggelengkan kepala karena masih terkejut.


''Maka dari itu, saya pernah bilang sama kamu untuk meresmikan hubungan kita. Tapi itu balik lagi ke kamu, setuju atau tidaknya itu terserah kamu.''


__ADS_2