
"Hay! boleh ikut gabung?"
Disela-sela obrolan tiga gadis itu. Seorang laki-laki datang dan menyela pembicaraan mereka.
Ketiganya menoleh. ''Boleh Kak! boleh!'' sahut Wulan dengan semangat.
''Iya, sini kak duduk disini!'' timpal Amel yang menggeser duduknya lalu menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Ya laki-laki itu adalah Noval. Noval melihat kearah kursi yang dimaksud Amel, ia merasa tidaklah mungkin dia duduk disana. Karena posisinya akan terhimpit oleh Amel Dan Wulan jika dia duduk disana.
Matanya beralih ke kursi samping Yoona, yang kebetulan memang kosong sejak tadi.
''Emmm, Una. Disini kosong enggak?''
Yoona yang sedang mengaduk jus, menoleh lalu tersenyum. ''Kosong kok kak.''
Noval pun duduk di samping Yoona yang bersikap cuek padanya. Berbeda dengan kedua teman Yoona yang menghentikan makannya lalu menatap Noval dengan aneh, bagi Noval. Tatapan yang seperti mengangumi pada Noval, tapi untuk Noval itu adalah tatap yang sangat aneh baginya.
''Kakak enggak makan?'' tanya Wulan.
''Iya, kalau Kakak mau makan. Amel traktir, mau?''
''Elleh! kau saja makan Yoona yang bayar!'' cetus Wulan membuat Amel hanya bisa tersenyum malu.
''Kamu terlalu ember!'' bisik Amel kesal.
''Oh enggak-enggak! aku cuma mau pesan minuman aja. Terima kasih untuk tawarannya. Biar aku yang bayar semuanya, kamu kalau mau sesuatu pesan aja, Una.''
Yoona yang namanya disebut, mengalihkan perhatian dari ponselnya yang sejak tadi ia mainkan. ''Em? oh enggak kak, terima kasih. Udah ini aja.''
Yoona menjawabnya dengan sangat cuek walaupun ada senyuman dari bibirnya. Namun, tetap saja Noval merasa kalau Yoona bersikap sangat dingin padanya.
''Setelah ini kalian ada jam kuliah?''
''Enggak kak!'' jawab Amel dan Wulan secara bersamaan.
''Bagus! ada flm bagus, apa kalian mau ikut nonton?'' tanya Noval lagi.
__ADS_1
dan dengan bersama juga, Amel dan Wulan berseru ''Mau!'' dengan begitu kompak.
''Kamu Una?''
''Aku, ada urusan kak setelah ini,'' kilah Yoona lagi. Ia menghitung sudah dua kebohongan yang hari ini ia lakukan.
''Tapi bukankah tadi kamu bilang mau langsung pulang?'' Wulan menyela, karena memang itu yang dikatakan Yoona tadi saat berbincang.
Yoona tertawa kikuk pada Noval yang menatapnya penuh harap. ''Baiklah aku ikut.''
'Ya udah lama juga aku enggak ke mall, sekalian membeli keperluan ku. Skincare ku juga sudah mau habis.' batin Yoona.
Diparkiran mobil, Yoona, Amel dan Wulan sudah didepan mobil Noval. Amel dan Wulan sudah masuk kedalam kursi penumpang yang ada dibelakang. Dan saat Yoona yang ingin ikut masuk kedalam bersama kedua temannya, suara Noval mengurungkan niatnya.
''Semua dibelakang, lalu aku sendirian didepan? Seperti supir taksi enggak sih? hehe.'' Kelakar Noval yang menyimpan makna kalau dia sedikit kesal karena tidak ada yang duduk di kursi depan bersamanya.
''Ya sudah biar aku saja!'' Amel sudah akan beranjak dari kursi dan keluar dari mobil, 5api lengannya di tahan oleh Wulan seraya berbisik, 'Kamu disini aja! biarkan Yoona didepan!'
''Enggak Kak, Amel biar disini aja. Yoona 'kan belum masuk juga. Kamu didepan ya.'' Wulan menurun naikkan alisnya pada Yoona yang memicingkan matanya malas.
Yoona pun masuk kedalam mobil di bagian kursi penumpang sebelah kemudi.
Disana, Arthan hanya bisa memperhatikan Yoona yang masuk kedalam mobil lelaki lain, tanpa tahu ada dua orang lainnya yang sudah ada didalam.
Arthan melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. Entah perasaannya sangat tidak nyaman. Matanya seperti terus melihat Yoona yang masuk kedalam mobil lelaki itu. Lalu membayangkan Yoona yang akan berduaan disebuah tempat, membuat Arthan memukul kemudinya dengan keras.
''Sial!''
Andai saja tidak ada urusan yang harus ia urus. Arthan akan mengikuti perginya mereka, lalu memastikan kalau mereka berdua tidak melakukan apa-apa.
Arthan membelokan stir mobil kearah area konstruksi yang sedang berjalan. Begitu ia keluar dari mobil, dua orang yang memakai pelindung kepala memberikan hormat padanya lalu memberikan pelindung kepala juga untuk dikenakan oleh Arthan.
''Selamat datang, Pak!''
''Bagaimana, berapa persen lagi kira-kira gedung ini akan rampung?'' tanya Arthan pada salah satu dari mereka yang sepertinya seorang penanggung jawab atas konstruksi itu.
''Kira-kira kita hanya membutuhkan 20% lagi untuk merampungkan gedung ini, pak.''
__ADS_1
''Bagus, terima kasih. Kamu boleh melanjutkan pekerjaan mu.''
Orang itu pun berlalu pergi meninggalkan Arthan yang sedang bersama satu orang pria, yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
''Bagaimana apa tujuanmu telah tercapai?'' tanya pria itu pada Arthan.
''Semua berjalan dengan seharusnya, walaupun memang ada sedikit kendala. Tapi akhirnya dia bisa kumiliki,'' ujar Arthan.
''Lalu, sampai kapan kau akan menjadi Dosen disana. Ingat Ar, perusahaan juga membutuhkan mu.''
''Hahah! kau bisa saja. Lagipula sudah ada kau, yang memang aku percaya.''
''Aku serius, Ar. Para kolega terus menanyakan keberadaan mu, kebanyakan dari mereka hanya ingin berurusan dengan pemilik aslinya, bukan asisten seperti ku!''
Arthan menghela nafasnya kasar. Dia sendiri pun bingung. Kalau dia berhenti mengajar di Kampus, akan sulit mengawasi Yoona lagi, lain halnya jika dia sudah bisa merebut hati Yoona.
Ya! Dosen bukanlah pekerjaan asli dari Arthan Mileer, karena yang sebenarnya dia adalah seorang pengusaha yang sukses, bahkan perusahaan nya sudah memiliki cabang sampai merambah ke beberapa negara.
Lalu kenapa dia tiba-tiba beralih profesi, itu masih dirahasiakan oleh Arthan. Karena belum saatnya baginya untuk mengatakan itu.
''Sebentar lagi.'' Arthan menepuk pundak asisten nya. Walaupun dia sendiri pun tidak tahu kata 'sebentar lagi' itu akan terlaksana atau tidak.
''Baiklah, kita duduk disana. Ada berkas-berkas yang harus kau tandatangani.'' Ziko mengajak Arthan untuk duduk ditempat yang lebih sejuk dan nyaman. Karena tempat mereka berdiri saat ini sangatlah terik dan berisik.
Sedangkan ditempat lain, tepatnya di sala satu mall yang ada di Jakarta.
Keempat mahasiswa Gunadarma itu, sudah sampai di bioskop. Yoona, Amel dan Wulan tengah duduk dikursi tunggu, sedangkan Noval, dia tengah mengantri dibarisan loket yang lumayan panjang.
Ketiga gadis itu sudah memegang masing-masing makanan dan minuman khas teman menonton, yaitu popcorn juga minuman yang bersoda.
''Eh! aku mimpi apa ya semalam, bisa pergi nonton sama Asdos incaran semua gadis kampus itu?'' tanya Amel yang terus menatap Noval.
''Iya, ku pikir dia orangnya sombong. Ternyata humble banget, sampe dibelikan tiket dan makanan nya sekalian,'' timpal Wulan.
''Tiket dan makanan ini memang harus dia yang belikan. 'Kan dia yang ajak kita.''
Dibarisan antrean Noval menoleh kearah mereka dan tersenyum. Yoona yang sedang bicara harus membalas senyumannya itu dengan kaku.
__ADS_1
Happy reading...