Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 19 - Suasana Hati Yang Buruk


__ADS_3

Seperti biasa, Yoona akan minta diturunkan dipinggir kalan, jauh dari kampusnya. Tapi kali ini Arthan lah yang menghentikan mobilnya tanpa Yoona pinta.


Yoona menatap bingung pada jalan itu, ia heran kenapa Arthan mengehentikan mobilnya.


''Kenapa?'' tanya Yoona.


Alis Arthan terangkat, apa maksud dari pertanyaan Yoona ini.


''Bukannya kamu biasa turun disini?''


Yoona memperhatikan sekeliling. Ya! benar jalan itu jalan yang sama setiap hari ya ia meminta di turunkan.


Tapi entah kenapa kali ini, rasanya sangat berbeda. Yoona mengangguk samar lalu turun dari mobil Arthan tanpa berpamitan dan begitu juga Arthan yang melajukan mobilnya meninggalkan Yoona ditepi jalan tanpa berkata apapun.


Seperti ada yang membuat tidak nyaman didalam hatinya. Tapi apa? Yoona juga tidak mengerti.


Yoona berjalan dengan kaki yang diseret. Biasanya jalan itu terasa sangat dekat bagi Yoona, tapi hari ini gerbang kampus terasa berkilo-kilo meter jauhnya.


Saat Yoona hampir saja sampai gerbang utama. Sebuah mobil berhenti disampingnya setelah membunyikan klakson. Yoona menepi dan orang yang berada di mobil itu keluar dari sana.


''Kak Noval?''


''Yoona ayo naik!'' ajak Noval berniat baik.


''Enggak usah kak, udah tinggal berapa langkah lagi,'' tolak Yoona dengan baik juga.


''Twpi masih lumayan jauh ini, udah ayo!'' Noval mendorong pelan bahu Yoona, memaksanya untuk masuk kedalam mobilnya.


Dan karena tidak bisa lagi menolak, akhirnya Yoona pun masuk dengan terpaksa.


''Enggak diantar Om Rahmat?'' tanya Noval yang sudah melajukan mobilnya.


''Enggak kak, Ayah ada kerjaan diluar kota.''


''Berarti kamu sendirian di rumah?''


''Sama Tante Rere,'' bohong Yoona.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian merekapun sampai di pelataran kampus, Yoona keluar lebih dulu lalu Noval membawa mobilnya ke parkiran kampus.


''Una?!'' panggil dia orang dari arah timur kampus, yang tak lain adalah Amel dan Wulan.


Yoona menoleh dan tersenyum melihat kedua temannya berlarian kearahnya.


''Una, kamu bareng sama kak Noval?'' tanya Wulan dengan suara pelan.


''Enggak! tadi ketemu didepan gerbang, dia maksa biar aku masuk kemobilnya.''


''Oh ya kemarin kamu kemana? kenapa tiba-tiba pergi gitu aja?''


''Enggak enak badan, sorry ya….''


''Eeh eeh! liat deh Pak Arthan di lihat-lihat makin ganteng aja ih!'' seru Amel yang matanya menatap kagum pada Arthan yang sedang bicara dengan beberapa mahasiswa yang mengerubunginya.


Yoona menoleh kearah mata Amel tujuh, matanya memicing tidak suka melihat Arthan yang sedang dikerumuni beberapa mahasiswa baru.


''Iya ya, Pak Arthan pake dasi lho hari ini. Gila! makin berwibawa enggak sih!'' timpal Wulan yang semakin membuat Yoona jengkel.


Langkah seseorang yang berlarian menyusul Yoona membuat Yoona menoleh, ya lagi-lagi Noval yang menyusul langkahnya.


''Kok enggak ikutan mereka?'' tanya Noval sedikit mengejek.


''Ngapain?''


''Ya enggak ngapa-ngapain sih, tapi bener 'kan kalau Pak Arthan emang semakin ganteng?'' Yoona menoleh Noval yang tersenyum kearahnya. Tanpa menyahuti ucapan Noval, Yoona tetap berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kelasnya.


''Kenapa enggak jawab, segitunya kamu benci Pak Arthan?'' Noval terus memancing pertanyaan-pertanyaan yang membuat Yoona tidak suka.


''Yang bilang aku benci Pak Arthan siapa, kak? buat apa aku benci dosen ku sendiri.'' Nada suara Yoona semakin dingin dan itu dapat disadari Noval.


''Oh maaf ya, aku cuma iseng aja nanya-nanya gitu.''


''Aku duluan ya.''


Yoona membelok-belokan langkahnya masuk kedalam kelas dan Noval hanya mengangguk memperhatikan Yoona dari ambang pintu lalu berlalu pergi untuk keruangan para dosen karena ada urusan yang harus ia urus.

__ADS_1


Yoona duduk di kursinya dan mulai mengeluarkan agendanya. Tidak berselang lama, terdengar suara kekehan tawa yang tidak asing dari arah pintu. Matanya melirik sekilas dan ternyata memang dia temannya lah yang kini sedang tertawa.


Tapi dua temannya berjalan bukan hanya mereka berdua, ada Arthan yang berjalan ditengah-tengah mereka.


Yoona memutar matanya malas. Hatinya kesal melihat Arthan dikelilingi wanita lain, entah hanya karena dia adalah suaminya atau ada perasaan lain?


''Una! kamu kok tinggalin kita?'' tanya Wulan yang sedang berjalan ke kursinya.


Dari tempatnya, Arthan melirik kearah tiga gadis itu. Dan kebetulan Yoona juga sedang menatap kearahnya, tapi tatapan itu terasa sangat sinis.


''Una? kok melamun, mikirin apaan sih?'' Amel menyenggol bahu Yoona.


''Lagi mikirin kapan bisa ganti Dosen!'' Yoona menjawabnya dengan sedikit kencang karena sengaja agar Arthan mendengarnya.


Yang bicara Yoona, tapi yang panik Amel dan Wulan. Mereka berdua tersenyum tidak enak pada Arthan yang memicing ditempatnya. Tapi aneh, Amel dan Wulan merasa kalau Arthan tidak marah pada Yoona.


''Yoona Navia, jangan ngomong begitu dong, enggak enak 'kan sama Pak Arthan,'' bisik Amel.


''iyah benar, liat deh dia sampe melihat kearah sini,'' timpal Wulan.


''Tapi kok Pak Arthan enggak marah ya?'' Yoona menggedikkan kedua bahunya acuh. Dia tidak peduli apa yang dikatakan Amel dan Wulan.


Bahkan sepanjang kelas itu berjalan, Yoona tidak sama sekali membuka mulutnya, ia hanya fokus dengan bukunya, kedua temannya bicara pun tidak sama sekali ditanggapi.


Arthan sesekali melirik kearah Yoona yang tidak sama sekali menatapnya sejak tadi. Ia tahu kalau saat ini Yoona sedang merajuk, tapi pada siapa? padanya atau pada kedua temannya.


Tapi sungguh, Arthan merasa gemas dengan raut wajah merajuk Yoona seperti itu. Ia tersenyum kecil ditempatnya mengingat kejadian pagi tadi, ingin rasanya ia mengulanginya lagi.


Momen Arthan tersenyum ditempatnya ternyata ditangkap oleh beberapa mahasiswa yang berhasil memotretnya. Karena bagi mahasiswa disana itu adalah kejadian langka yang pernah ada.


Karena memang semenjak Arthan menjadi dosen disana, wajah tampan itu hanya ia nikmati tanpa adanya garis senyum.


Kelas pun selesai, dan Arthan yang menutupnya dengan memberikan tugas mata kuliah untuk tiga hari kedepan saat ia kembali mengajar, dan memberikan kalau tiga hari ini ia akan cuti karena ada urusan yang harus ia urus.


Yoona mengernyit heran, kenapa Arthan tidak memberi tahunya kalau tiga hari kedepan ia akan cuti mengajar. Dan Amel juga Wulan merasa kalau cuti ya Arthan karena tersinggung dengan ucapan Yoona tadi.


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2