Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 16 - Mimpi Yang Indah


__ADS_3

Arthan menunjukan semua poto-poto dirinya bersama Ziko dan pekerja proyek lainnya. Bahkan ada juga yang sedang bersama kliennya yang juga berada di area pembangunan.


''Saya seharian berada di proyek, tidak ada wanita yang saya temui disana,'' jelas Arthan.


Poto-poto itu seharusnya cukup membuktikan kesalahpahaman Yoona terhadapnya, tapi Yoona seakan menutup mata akan kebenaran itu. Dia terlalu malu mengakui kesalahpahaman dia terhadap Arthan.


Tapi satu hal yang membuat Arthan merasa ada kupu-kupu didadanya. Yaitu, sebab Yoona bersikap seperti itu karena marah mengira Arthan pergi bersama wanita lain.


'Apa dia cemburu?' gumam Arthan didalam benaknya.


Arthan mengulumkan senyuman. Mengingat sikap Yoona tadi yang dia anggap menyebalkan ternyata se-menggemAaskan itu kalau Yoona sedang cemburu.


''Enggak mungkin,'' gumam Yoona yang terdengar ketelinga Arthan.


''Mungkin kamu salah orang,'' sahut Arthan.


''Tapi, tapi….''


''Ini semua bukti sudah saya tunjukkan. Setelah dari kampus, saya memang langsung ke proyek, apa perlu saya panggil Ziko untuk menjelaskan padamu?''


''Enggak usah, aku udah ngantuk!'' ketus Yoona yang akan bangun dari duduknya tapi kembali Arthan menahannya dengan menarik tangan Yoona agar kembali duduk.


''Mau kemana kamu? duduk dulu!''


''Coba jelaskan kenapa kamu bisa pergi berduaan sama si Asdos itu?''


Yoona menghela nafasnya terlebih dahulu baru menjelaskannya dengan sangat detail.


''Pak, saya emang pergi sama Noval, tapi bukan berduaan, ada Amel dan Wulan yang duduk dibelakang. Kita pergi nonton bioskop sama-sama. Dan itu juga mulanya aku menolak, karena kupikir buat apa nonton diluar sedangkan disini saja ada bioskop, tapi kedua temanku itu terus memaksa.''


Arthan mengangguk-anggukkan kepalanya, sekarang dia mengerti. Kalau terjadi kesalahpahaman, dan beruntung segera terselesaikan dengan cepat. Karena baginya apapun kesalahpahaman harus di tuntaskan agar tidak berlarut-larut.


''Maafkan saya, saya udah salah paham sama kamu, dan udah membentak kamu,'' tutur Arthan dengan nada yang begitu lembut.

__ADS_1


''Saya juga minta maaf, Pak,'' balas Yoona.


''Kamu benar sudah makan?'' tanya Arthan lagi dan Yoona mengangguk.


Arthan mengusap asal kepala Yoona membuat Yoona berdecak kesal karena rambutnya yang rapih menjadi berantakan karenanya Arthan.


''Ya udah ayo, kita tidur.'' Arthan menarik tangan Yoona menuju kamar. Yoona hanya menurut dengan mata yang terus menatap tangannya yang kini sedang digandeng Arthan.


Pipinya menyembul rona merah lagi, dengan cepat ia menundukkan kepalanya sehingga rambutnya menutupi sebagian wajahnya ketika Arthan menoleh kebelakang.


Dia tidak mau Arthan melihat wajah malunya begitu, akan terlihat memalukan baginya.


Arthan melepaskan genggamannya, lalu meminta Yoona agar merebahkan tubuhnya segera, setelah itu iapun memutar ke sisi ranjang lainnya untuk ikut naik ke kasur.


''Pak, tv nya rusak,'' ucap Yoona dengan menolehkan kepalanya ke kiri dan langsung bertemu tatap dengan Arthan yang kebetulan tidurnya dengan posisi miring kekanan.


Arthan menaikan alisnya, dengan raut yang begitu santai ia pun menjawabnya.


''Biarkan saja, lebih baik kita tidur. Besok ada kelas pagi.''


Hanya menunggu beberapa saat, keduanya pun sudah pulas dengan telapak tangan Arthan yang berada di pipi kanan Yoona.


Pagi pun datang, pemilik bulu mata lentik itu mengerjap perlahan. Ia merasa sesuatu yang menekan perut, sesuatu yang berat. Tanpa menggerakkan anggota tubuhnya yang lain iapun menurunkan pandangannya, berusaha melihat benda apa yang menindihnya.


Matanya terbelalak ketika melihat benda itu adalah tangan kekar Arthan yang melingkar di atas perutnya. Yoona berusaha menghindar dengan menggeser posisinya agar tangan Arthan terlepas.


Namun, ternyata usahanya sia-sia. Arthan malah merekatkan tangannya, mengencangkan pelukannya membuat Yoona menahan napasnya karena kini wajahnya sudah berhadapan dengan wajah tampan Arthan.


Jantungnya seakan ingin meledak, ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdetak kencang itu, berharap kalau Arthan tidak akan terbangun karena detak jantungnya itu.


Posisi mereka sangat dekat, bahkan nyaris berpelukan. Yoona dapat merasakan deru napas yang teratur dari Arthan menandakan kalau memang Arthan masih terlelap dalam tidurnya. Matanya perlahan terbuka dan yang dia lihat adalah pahatan yang luar biasa indahnya dari sang pencipta.


Hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, bibirnya yang terbelah dan rahangnya yang tegas. Jika saja Arthan bukan salasatu dosen yang dia benci sejak dulu, mungkin dia juga sudah mengincar Arthan. Tapi hatinya sendiri tidak dapat berbohong kalau saat ini ia tengah mengagumi Dosen killernya itu.

__ADS_1


Sadar kalau Arthan mulai mengerjap, ia segera menutup matanya. Dia tidak mau Arthan memergokinya saat memperhatikan wajahnya.


Bibir Arthan tersungging, ia merasa senang karena dapat melihat jelas wajah manis Yoona sedekat itu. Entah kenapa tiba-tiba ia pun mempunyai keberanian lebih dan... Cup! Arthan pun mengecup kening Yoona.


Dan dengan sangat hati-hati, Arthan pun beranjak dari tempat tidur, berusaha tidak membuat guncangan dikasur. Tanpa ia tahu ternyata Yoona sudah bangun lebih dulu darinya dan tahu kalau dia mengecup kening Yoona.


Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Yoona membuka matanya melirik pintu kamar mandi. Ia menekan dadanya dengan kencang, jantungnya semakin tidak dapat terkontrol, bahkan kakinya sudah sangat terasa lemas.


Serangan apa ini! kenapa pagi ini perasaannya sangat aneh. Begitu membuka mata ia mendapati tangan kekar Arthan melingkar diperutnya, dan bahkan Arthan mengecup keningnya juga.


Yoona terduduk, manepuk-nepuk wajahnya yang terasa memanas. Ia penasaran yang baru saja ia alami, mimpi ataukah nyata.


Sedang ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa yang dia alami tadi bukanlah mimpi, gawainya berdering dari meja nakas.


Ia melihat nomor yang tidak bernama sedang meneleponnya. Dengan ragu iapun menjawabnya.


''Halo?''


...''Halo, Una? kamu baik-baik aja 'kan?''...


Yoona terdiam, ia sangat hapal betul suara siapa itu di sebrang sana. Matanya melihat kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat itu. Entah kenapa ia tidak mau Arthan memergokinya sedang bertelepon ria dengan seorang pria dipagi hari ini.


Maka dengan cepat, Yoona pun menekan tanda tutup pada icon yang ada di layar ponselnya, ketika melihat kenop pintu bergerak.


Terlihat Arthan yang keluar dari sana, hanya dengan memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, sehingga otot-otot perutnya terpampang nyata dimata Yoona, membuat gadis 22 tahun itu tersipu malu ditempatnya.


''Siapa yang telpon pagi-pagi begini?'' tanya Arthan seperti mengintimidasi.


''Enggak tahu, enggak ada namanya,'' kilah Yoona yang sebenarnya sangat tahu kalau yang menghubunginya itu adalah Noval.


Arthan mengangguk sembari menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil lalu berjalan kearah walk in closed untuk memakai pakaiannya.


''Yoona! cepat bersiaplah, kita akan mampir ke suatu tempat sebelum ke kampus!!'' teriak Arthan dari ruang baju itu.

__ADS_1


''Iyaa!!'' balas Yoona tanpa bertanya akan kemana ia pergi, dan tanpa menolak seperti kemarin yang dia terus menolak ketika Arthan bersikeras agar mereka pergi bersama kekampus.


Happy reading...


__ADS_2