Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 29 - Rasa Bangga


__ADS_3

Yoona sudah terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sekeliling kamar lalu melihat keadaan tubuhnya. Bibirnya tersungging akan sebuah senyuman yang begitu cantik, wajahnya juga merona merah jika mengingat momen dimana ia ikut berperan di permainan malam tadi, betapa malunya dia kalau nanti bertatap wajah dengan pemeran sang pria.


Tapi sungguh! Dia merasa sangat bangga dan bahagia karena ia mampu memberikan sebuah hak yang memang sudah sepantasnya Arthan, sang suami dapatkan.


Jari-jarinya menghitung jejak kepemilikan yang di buat Arthan yang ada di sekitar dadanya, dan ternyata berjumlah delapan jejak percintaan. “Kurang banyak, Mas!” gerutu Yoona dengan senyuman gelinya.


Saat ia memutuskan untuk turun dari ranjang, ia merasakan sedikit ketidak nyamanan diarea sensitifnya sehingga membuat ia terpekik kesakitan, “Aaakkhh! Sssshhhh, kenapa sakit sekali?”


Dengan cara perlahan Yoona pun berusaha bangun dari ranjang, matanya melirik kearah bercak-becak darah yang mulai mengering di seprai, matanya juga ikut melirik kebawah bagian tubuhnya, dan disana tepatnya dibagian dalam pahanya terdapat becak yang sama yang ada di seprai, rasa bahagianya semakin memuncak karena ternyata ia juga dapat memberikan apa yang semestinya sang suami dapatkan dari istrinya, yaitu kesucian.


Ia menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai sehelai benang pun. Berjalan seperti merayap karena rasa nyeri yang sangat terasa sampai membuat giginya bergeletuk menahannya. Dikamar mandi Yoona kembali dibuat tersenyum bahagia karena di bathtub sudah terisi air hangat yang bahkan sudah diberikan sabun beraroma yang sangat harum didalamnya. Ia menanggalkan selimut dibawah kakinya lalu masuk kedalam bathtub tersebut.


“Aaahh! Nyaman sekali...” lirih Yoona.


Ia tidak bertanya-tanya kemana perginya Arthan saat dia terbangun tadi karena dia sangat tahu kalau suaminya itu pasti sudah berangkat bekerja kaena mengingat giatnya Arthan bekerja walaupun jika ia tidak pergi


bekerja lamanya satu tahun pun kekayaannya tidak akan berkurang, tapi begitulah jika orang memiliki dedikasi yang tinggi, ia tidak akan cepat merasa puas karena sebuah pencapaian.


Matanya melirik kekaca disana ada sebuah coretan pesan yang dapat ia baca dengan jelas.


‘Bernyamanlah kamu disana, tapi saya harap malam nanti akan ada permainan kedua kita’


Bibir Yoona kembali melengkung keatas, dia benar-benar dibuat gemas dengan tingkah kaku suaminya yang mampu membuat dia nyaman.


Setelah ia merasa tubuhnya sudah lebih segar, Yoona pun beranjak dari dalam bathtub untuk membilas tubuhnya ari busah-busah serta kelopak mawar putih favoritnya. Rasa nyeri yang dia rasa tadi sudah sedikit berkurang, maka dari itu ia pun mulai bisa berjalan seperti biasanya walaupun memang sesekali ia kembali meringis ketika kedua pahanya bergesekan.


Rasa lapar pun datang ketika matanya melihat makanan diatas meja, dan dengan lahap, Yoona menyantap itu barulah setelah itu berpakaian.

__ADS_1


Dan saat Yoona turun kelantai satu ia bertemu dengan Bi Sumi yang kebetulan memang akan pergi menemuinya. “Selamat pagi, Bu. Maaf Bu, Pak Arthan menitipkan salam kalau Anda diminta menyusulnya kekantor,” ucap Bi Sumi begitu segan.


“Kekantor Bi? Emmm, kalau begitu aku ambil ponsel ku dulu untuk pesan taksi,” sahut Yoona yang sudah berbalik namun panggilan Bi Sumi membuat ia kembali menghadap kearah ketua asisten umah tangga itu.


“Maaf Bu, mobil sudah disiapkan.”


Bibir Yoona membentuk huruf ‘O’ lalu mengangguk dengan senyuman. “Makasih ya Bi... kalau gitu Yoona ambil tas dulu.” Yoona pun kembali masuk kedalam lift untuk kembali kekamar.


“Gadis manis itu sangat cocok dengan nak Arthan,” gumam Bi Sumi.


Didepan pintu masuk kantor, disinilah Yoona berdiri setelah turun dari Mobil yang dikendarai oleh supir pribadi Arthan. Ia melihat bingung dengan semua oang karena saat ia turun dari mobil dan berjalan masuk semua orang membungkuk memberikan hormatnya. Ya! Memang dia sendiri sudah tahu kedudukan suaminya disana, tapi tetap saja ia merasa canggung mendapatkan sapaan hormat itu.


“Selamat pagi Bu, silahkan... Pak Arthan ada diruangan-nya,” ucap seorang pria yang berdiri dibalik meja depan lorong yang akan membawanya kesebuah lift khusus menuju ruangan Arthan.


“Pagi... terima kasih,” sahut Yoona dengan sungkan.


membukakannya. Wajah berseri Arthan menyambut kedatangan istri kecilnya itu tidak


bisa disembunyikan. Yoona tersenyum malu-malu tapi Arthan tidak, ia justru tersenyum begitu menawan dan menarik lembut tangan Yoona untuk masuk kedalam.


Arthan berbalik ketika kakinya berpijak didekat sofa, ia merengkuh tubuh kecil Yoona, memeluknya dengan hangat seakan sudah lama tidak bertemu tapi kenyatannya, baru beberapa jam yang lalu ia masih memeluk tubuh polos Yoona diatas ranjang.


“Kenapa lama sekali?” tanya Arthan begitu menelitik.


“Lama? Oh macet, Mas,” jawab Yoona setelah pelukannya terlepas.


Sesungguhnya, dia masih tidak menyangka kalau hubungannya dengan Dosen yang ia benci itu bisa sejauh ini, sampai bisa memiliki hubungan suami istri bahkan sudah menyatukan keringat mereka.

__ADS_1


Arthan menatap Yoona begitu dalam lalu menariknya lagi kedalam pelukannya. Satu kecupan mendarat di pangkal kepala Yoona, bukan hanya kecupan biasa tapi kecupan itu seperti kecupan yang begitu memiliki arti.


“Maaf ya tidak ada disaat kamu terbangun,” ucap Arthan dengan kosa kata begitu kaku. Bagi Arthan memang sudah biasa ia menggunakan kosakata seperti itu tapi Yoona, ia sudah biasa menggunakan kata santai. Namun, Yoona akan berusaha mengimbanginya.


“Enggak apa-apa, Mas.”


Arthan mengajaknya untuk duduk besama disana. Beberapa saat memang mereka saling terkunci dalam keheningan tapi itu tidak berselang lama ketika mata Arthan menangkap sebuah tanda merah keunguan di bawah telinga Yoona.


“Ini kenapa? Kok memar?”


Yoona menoleh dengan wajah masam, seraya menjawabnya. “Mas! Jangan buat mood ku berantakan!”


Bukannya merasa takut justru Arthan tertawa begitu lepas dan itu baru pertama kalinya Yoona melihatnya. Maka tanpa ingin melewatkan momen langka itu, tangan Yoona yang memegang ponsel seketika spontan menekan icon kamera lalu memotret nya diam-diam.


“Sungguh, wajah mu sangat lucu kalau seperti itu,” cuap Arthan dengan sisa tawanya.


“Mas kamu menyebalkan!” gerutu Yoona yang ingin menggeser posisi duduknya, namun dengan cepat Athan menahan pinggang Yoona dan menariknya kembali hingga posisinya tidak ada celah sedikitpun.


“Maaf ya, sakit kah?” ucap Arthan mengusap tanda merah keunguan itu dengan ibu jarinya. Yoona menggeleng pelan karena memang tidak ada sedikitpun rasa sakit.


“Sungguh?” tanya Arthan meyakinkan dan Yoona kembali mengangguk.


“Kalau begitu coba buatkan saya seperti itu,” ucapan Arthan membuat Yoona terbelalak dan wajahnya seketika berubah warna.


“Ayo! Buatkan, kata kamu tidak sakit, saya ingin mencobanya. Buat disini!” tunjuk Arthan diarea leher bawah telinga, persis seperti miliknya.


Yoona semakin dibuat kelabakan, ia merasa sangat malu. Jangankan membuat tanda seperti itu, untuk membalas pagutan Arthan saja ia masih kaku.

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2