
Suara ketukan pintu, Yoona anggap sebagai penyelamat-nya. Ya Yoona merasa kalau sang pengetuk itu melepaskan dia dari rasa gugupnya karena Arthan meminta dibuatkan jejak-jejak sejarah percintaan.
Berbeda dengan Yoona yang senang karena orang datang, justru Arthan mengutuknya dalam hati pada orang yang datang diwaktu yang tidak tepat.
''Masuk!'' teriak Arthan kesal. Yoona sedikit terjingkat.
Ziko masuk dengan wajah ramahnya tanpa tahu bosnya sedang jengkel dengannya. ''Nona, apa kabar?'' tanya ramah Ziko pada Yoona yang bahkan belum mengenalnya.
''Baik,'' sahut Yoona canggung, namun tetap memberikan senyuman manisnya.
Arthan meliriknya sekilas, merasa tidak suka dengan tebaran senyuman mereka hingga membuat dia berdehem kencang.
''Ada apa kamu kesini?'' tanya Arthan sinis.
''Oh iya, ini Pak. PT Natawijaya sudah memberikan surat kontrak, tinggal Anda tanda tangani saja.''
Ziko menyerahkan lembaran berkas pada Arthan. Sedang Arthan membaca kembali surat kontrak tersebut, Ziko ditempatnya malah mencuri pandang ke Yoona yang duduk disebelah Arthan.
Ya biarpun dia tahu Yoona, tapi ini pertama kalinya ia melihat langsung wajah manis Yoona, dan entah kenapa dia terus ingin melihat wajahnya.
Dan ternyata Arthan malah menangkap lirikan mata Ziko pada istrinya, membuat naluri posesif nya tiba-tiba muncul kepermukaan. Dengan tangan kanannya ia menarik pundak Yoona dari belakang lalu menyembunyikan wajah Yoona ke ceruk lehernya.
Mata Arthan menatap tajam pada Ziko yang berdiri dengan tidak nyaman karena ketahuan mencuri pandang dengan istri bosnya.
''Sorry,'' ucap Ziko dengan pelan.
''Jaga pandangan mu!''
Ziko memutar matanya malas, satu lagi sifat yang baru saja ia ketahui dari sahabat plus bosnya itu, yaitu pencemburu.
''Berlebihan! ya sudah cepat tanda tangani, aku lapar!'' sahut Ziko ketus.
''Ck, keluar sana!'' usir Arthan dan Ziko pun keluar dari sana.
Wajah Yoona yang masih disembunyikan diceruk leher Arthan merasa aneh dengan interaksi keduanya, siapa pria itu dan kenapa seolah-olah mereka berdua sangatlah dekat.
''Mas?''
Arthan baru sadar kalau kepala Yoona masih ia tekan dibelakang kepalanya. ''Astaga, maaf!''
__ADS_1
''Kenapa sih Mas?''
''Tidak ada, saya hanya tidak suka ada yang menatap mu!''
Jawaban Arthan membuat Yoona tertawa kecil. Ternyata Dosen killernya itu memiliki sifat cemburu yang berlebihan seperti itu.
''Kenapa tertawa?''
''Lucu aja, aku kenal kamu karena galaknya, tapi ternyata punya sisi posesif juga,'' ledek Yoona yang terus menertawai Arthan.
Merasa jengkel karena Yoona terus meledeknya, Arthan punya cara agar Yoona diam, dan...
Cup!
Arthan mengecup bibir Yoona dan ternyata berhasil, seketika Yoona diam dengan pipi yang memerah.
Cup!
Sekali lagi, dan semakin membuat Yoona menundukkan kepalanya tapi Arthan tidak membiarkan itu terjadi, tangannya menarik dagu lancip Yoona dan kembali mengecupnya berulang kali.
''Masss…"
Cup!
Hahahaha!!
Arthan tertawa terbahak-bahak, karena puas membuat wajah Yoona seperti kepiting rebus. ''Mau terus meledek saya?''
Euummm!! Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya dibawah sana.
Meninggalkan kisah sepasang suami istri yang sedang kasmaran itu. Dibawah sana, tepatnya dilantai dasar, seorang wanita cantik berpakaian sangat anggun berdiri didepan meja resepsionis.
Dia terus menanyakan keberadaan Arthan tapi dua wanita yang bekerja sebagai penerima tamu perusahaan tidak bisa menjawabnya.
''Kenapa, kalian tidak mengenal ku kah?'' tanyanya dengan lembut.
''Maaf Nona, tidak mungkin kami tidak mengenal Anda.''
''Lalu?''
__ADS_1
''Maaf Nona, tapi Pak Arthan—''
''Sivia?''
Seseorang datang memanggil wanita itu, membuat kedua resepsionis menghela nafasnya lega.
''Ziko? apa kabar?''
Sivia Hazard, seorang model ternama di negara tetangga. Dia memeluk Ziko dengan akrab tapi tidak dengan Ziko yang hanya diam tidak membalasnya.
''Ada perlu apa kamu kesini?'' tanya Ziko datar tanpa menjawab pertanyaan Sivia padanya.
''Ada apa denganmu, Ziko. Kenapa tidak menyambut ku dengan baik seperti dulu?''
Ziko melirik pada orang-orang yang menatap kearahnya. Ia menarik pelan tangan Sivia untuk bicara berdua.
''Ada apa, Ziko?''
''Ada apa? apa kamu tidak sadar, Sivia?''
Wanita bernama Sivia menundukkan kepalanya, wajahnya berubah sendu.
''Ya Ziko, aku tahu kalau aku melakukan kesalahan. Tapi aku punya alasan.''
Ziko menghela nafas, ia tidak menyangka kalau akan berhadapan dengan permasalahan seperti ini.
''Sivia, semua sudah terlambat. Sebaiknya kamu pergi.''
''Kenapa? apa Arthan yang memintanya?''
''Bukan siapa yang memintanya, tapi memang semestinya kamu pergi dari sini.''
Sivia semakin murung, ia tahu kalau dia sudah melakukan kesalahan sampai membuat luka di hati orang yang telah mencintainya. Tapi dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu, karena dia memiliki beberapa alasan.
Lalu siapakah Sivia ini? kenapa mencari Arthan, dan kenapa Ziko malah memintanya untuk pergi?
Happy Reading...
...****************...
__ADS_1
Assalamualaikum... Hai besty -besty Nuna🤗 mengingat besok sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Nuna mau minta maaf kalau Nuna punya salah🙏☺️ Mohon maaf lahir batin, maafkan kekhilafan ku yaa😘😘