Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 24 - Siapa kamu Sebenarnya


__ADS_3

Malu! Arthan benar-benar malu. Karena sudah salah sangka bahkan ia sempat meragukan kredibilitas dari Yoona. Sungguh! ia merasa sangat bersalah. Berulang kali ia mengatakan maaf pada Yoona yang tidak sama sekali mempermasalahkan soal kesalahpahaman itu, tapi tetap saja Arthan merasa bersalah.


Dekapan tangan Arthan terlepas karena sebuah ketukan pintu. Arthan sedikit berdecak oleh si pengganggu itu yang membuat ia terpaksa harus melewatkan momen-momen langka itu, dimana Yoona yang dipeluknya tidak sama sekali melawan ataupun menolak.


Arthan meminta Yoona untuk duduk disofa lantas dia kembali kekursinya dan menekan sebuah tombol yang ada dimeja untuk membuka pintu. Masuklah seorang wanita yang berpakaian cukup mini yang kini menebar senyuman termanisnya yang dia punya, berjalan berlenggak-lenggok layaknya seorang model berjalan di panggung yang menunggu penilaian juri.


Entah keberadaan Yoona disana tidak terlihat oleh matanya atau memang sengaja tidak ingin ia lihat, wanita itu melewati Yoona begitu saja tanpa menyapa ataupun meliriknya sedikit. Membawa sebuah bekas yang kemudian langsung dia berikan pada Arthan disana.


Ditempatnya Yoona dapat melihat kalau gerakan wanita itu sangat disengaja untu menarik perhatian Arthan. Yoona sudah memicing kesal disana, ia terus memperhatikan mereka yang sedang berbincang mengenai bisnis yang belum dimengerti-nya.


"Ini Pak, berkas yang Anda minta, sudah saya siapkan semuanya," ucap wanita itu.


"Saya cek sebentar." Arthan mengambil berkas itu tanpa melihat kearah wanita itu.


Membacanya sebentar, juga memeriksa isi dari berkas bahan meeting nya itu. Setelah selesai dan memastikan kalau semua sudah benar Arthan pun mengangkat kepalanya. Tapi sungguh usaha wanita itu hanyalah sia-sia karena raut wajah Athan tetap datar dan terkesan tidak mempedulikan si wanita itu.


Justru matanya terus melirik kearah Yoona yang duduk disofa sana. Arthan sedikit mengulumkan senyuman karena merasa gemas dengan raut Yoona yang ditekuk menatap tajam kearahnya dengan tangan yang bersedekap dada, seakan sedang mengawasinya.


Tapi justru perubahan garis wajah Arthan yang sedikit tersenyum membuat wanita yang ada didepannya salah paham sehingga membuat dia semakin bertingkah lebih berani dari sebelumnya.


Yang semula duduk tegak, setelah ia menganggap Arthan meresponnya, duduknya agak menunduk sehingga dua belahan gunung kembarnya terpampang nyata disana. Dan itu juga tidak terlepas dari pengawasan Yoona dari sana yang semakin dibuat naik darah.


"Bandit ini betina!" gerutu Yoona dengan tangan yang sudah mengepal kuat. Tiba-tiba mata Yoona terbelalak karena melihat Wanita itu yang beranjak dari duduknya bukanlah pergi tapi malah berjalan kearah kursi belakang Arthan.


Arthan yang sedang membuka lembaran berkas itu tidak terlalu memperhatikan gerak Karisa yang kini sudah berada dibelakangnya. Ya nama wanita tersebut adalah Karisa.


Mata Yoona bagaikan mata seekor elang yang siap mencakar mangsanya. Dan ketika Karisa bertindak lebih jauh lagi dengan tangannya yang sudah menyentuh sandaran kursi Arthan, Yoona pun beranjak. Bersamaan Arthan yang baru menyadari kalau ada seseorang dibelakangnya dari bayangan layar komputernya.


Baru saja Arthan akan beranjak dari duduknya untuk memberikan pelajaran pada si Karisa itu, Yoona sudah lebih dulu berjalan menghampirinya dan dengan tiba-tiba Yoona memelintir tangan mulus Karisa sehingga membuat dia menjerit kesakitan.


"Aaaaakkkkhhh!! sakit! perempuan gila! lepaskan aku!!" jerit Karisa yang tidak sama sekali dipedulikan oleh Yoona, karena perempuan gila yang Karisa sebut itu tetap memelintir tangannya.


"Anda wanita yang berpendidikan bukan? kenapa sikap Anda tidak jauh seperti ja-lang!" tutu Yoona dengan kalimat yang sangat pedas.


"Kamu siapa, hah! Pak Arthan tolong aku, perempuan gila ini menyakiti ku..." rengek Karisa dengan suara dibuat-buat.

__ADS_1


Lalu apa tanggapan Arthan? Arthan malah duduk dimeja dengan tangan yang dilipat, seakan sedang menonton pertunjukan yang sangat asik. Sungguh! Arthan tidak menyangka kalau Yoona juga bisa bersikap seberani itu.


"Menjijikan!" Yoona melepaskan tangannya dari tangan Karisa dan sengaja sedikit mendorongnya agar menjauh darinya dan dari Arthan.


"Lain kali hargailah dirimu sendiri sebelum melakukan hal-hal yang akan membuat kamu tidak lagi memiliki harga diri!" tegas Yoona dengan sangat tajam.


Karisa mencebikkan bibirnya kesal, matanya melirik pada Arthan berharap akan dibela tapi nyatanya Arthan malah tertawa kecil seakan mentertawakan kebodohannya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Itulah pribahasa yang cocok untuk Karisa.


Berharap akan berhasil mendapatkan perhatian Arthan, ia malah mendapatkan pembelajaran dari seoang gadis yang tentunya sangat terlihat jelas bahwa usia mereka pasti terpaut jauh.


Karisa pun berlalu pergi dengan rasa malu dan marah, ia mendelik tajam pada Yoona yang masih menatapnya sinis.


Begitu pintu sudah tertutup kembali, Yoona pun menarik kursi kerja Arthan dan duduk disana.


Matanya melirik kesal pada Arthan. Tapi yang dilirik malah tersenyum tanpa merasa bersalah, karena memang tidak bersalah.


''Saya baru tau kalau kamu bisa bar-bar,'' ledek Arthan.


Yoona hanya memicing tanpa menjawabnya.


Raut wajah Yoona yang seperti itu membuat Arthan semakin gemas, yang tadi hanya tersenyum saja kini Arthan tertawa kecil.


''Ada yang lucu?!'' ketus Yoona.


''Tidak, hanya saja, kamu terlihat sangat cantik kalau lagi marah seperti itu,'' ucap Arthan bersungguh-sungguh karena memang itu nyatanya yang dia lihat.


Yoona yang mendapatkan pujian seperti itu tentu tidak bisa hanya diam dengan wajah datarnya. Warna merah menyembul seketika dikedua pipinya, ia tersipu.


''Mass…."


''Hmm?''


''Dia menyebalkan!''


''Lalu, kamu mau apa?''

__ADS_1


''Ck! andai aja kamu yang punya perusahaan ini, aku bakalan minta dia dikeluarkan!''


Alis Arthan terangkat semua, bibirnya masih tersenyum samar. Kepalanya mengangguk-angguk seraya berkata dengan pelan. ''Dikabulkan!''


''Apa Mas?''


''Hah? tidaakk…."


"Emmm, Mas 'kan mau pergi meeting, kalau begitu aku pergi ya, mau ke rumah Amel.''


''Dimana rumah Amel?''


''Di Pondok Ungu.''


''Kalau gitu saya antar, kebetulan tempat meeting searah,'' ucap Arthan yang sedang bersiap-siap dan Yoona tidak sama sekali menolak seperti biasanya.


Kedua insan itu berjalan bersama-sama, dan saat lift terbuka dengan sangat kebetulan didepan lift lain sudah penuh karyawan yang siap masuk kedalamnya. Begitu mereka keluar semua memberikan salam hormat dengan sedikit membungkukkan badan.


Yoona merasa heran karena mereka seakan sangat menghormati Arthan, siapa sebenarnya Arthan, itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar dikepala Yoona.


Yoona sejak tadi hanya diam sampai kemobil yang bahkan pintunya sudah dibukakan oleh seorang penjaga pintu utama.


Setelah mereka sudah didalam mobil, Arthan pun segera melajukannya setelah memastikan Yoona memakai seat belt-nya.


Suasana didalam mobil cukup hening sampai ketika, Arthan lah yang memulai pembicaraan.


''Kamu kenapa diam saja?''


''Mas?''


''Hmm?''


''Sebenarnya kamu siapa sih!''


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2