
Pintu lift berbunyi, menandakan kalau lantai dimana tempat tujuan Arthan telah sampai. Ketika pintu itu terbuka dikedua sisinya. Nampak sebuah pintu lagi.
Keduanya keluar dari lift, dan Arthan melangkah kearah pintu tersebut, lalu menekan tiga angka untuk akses masuk kedalam ruangan itu.
'101' Yoona dapat melihat jelas Arthan menekan tiga angka itu, yang setelah menekan tiga angka itu, terdengar lah suara dan pintu pun terbuka.
''Wah!''
Mata Yoona di ust terbelalak, mulutnya pun ternganga menatap takjub pada pemandangan ruangan itu. Dia baru menyadari kalau ruangan itu adalah ruangan pribadi Arthan setelah ujung matanya melihat satu pintu lagi yang terbuka dan disana ada ranjang jumbo.
Sungguh ruangan itu lebih seperti hotel kelas Deluxe room. Langkah Yoona terus mengikuti kemana Arthan melangkah. Dia tidak ada henti-hentinya berdecak kagum dengan dekorasi dan interior kamar tidur Arthan.
''Pak! ini sangat luar biasa!'' seru Yoona.
''Kamu suka?'' tanya Arthan sembari melangkah menuju satu pintu yang ternyata disana adalah walk in closed.
''Suka! tapi sayang, terlalu monoton,'' ucap pelan Yoona yang masih terdengar oleh Arthan yang sedang mengambil pakaiannya.
''Kalau kamu mau, kamu ubah saja. Saya mau mandi, kamu istirahat saja dulu.'' Arthan pun menghilang dibalik pintu yang terdapat kamar kecil.
''Hah? boleh ku ubah? serius?''
''Ya!'' teriak Arthan dari dalam kamar mandi.
Yoona tersenyum senang, ia mulai memikirkan bagaimana dia mendesain kamar itu sesuai keinginannya, karena memang dia sendiri memimpikan sebuah kamar yang didesain sedemikian estetikanya.
Dikamar mandi sana, Arthan tersenyum dengan makna. Entah apa yang saat ini ia pikirkan, dan apa dengan cara ia membebaskan Yoona mendesain ruangan favoritnya itu salasatu rencananya untuk meluluhkan hati gadis keras kepala itu? entahlah hanya Arthan yang tahu arti dari senyumannya.
Beberapa saat kemudian, setelah Arthan selesai membersihkan tubuh dan sudah terlihat segar dari sebelumnya. Ia pun keluar dari sana.
Ujung matanya melihat Yoona yang duduk di tepi ranjang dengan tangannya menyangga dagu dan matanya melihat-lihat ke sekeliling kamar. Dan dapat ditebak, kalau saat ini Yoona pasti tengah mengkhayal desain yang sesuai keinginannya.
Bruk!
__ADS_1
Arthan melemparkan handuk bersih tepat ke wajah Yoona yang langsung tersadar dari khayalan-nya.
''Iiisshh!'' decak kesal Yoona.
''Sudah mengkhayal nya. Mandi sana! kau sangat bau!'' cela Arthan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Tidak terima dikatakan bau, Yoona segera menoleh dan bersiap untuk mengomel, tapi tiba-tiba lidahnya terasa keluh. Ia terpaku melihat wajah tampan nan rupawan Arthan dengan rambutnya yang basah.
''Tampan,'' celetuk Yoona tanpa sengaja. Yang tentunya terdengar juga ke telinga Arthan, seketika Arthan pun merasa gugup, tapi ia bisa mengontrolnya.
Arthan melangkah mendekat dan mengukung Yoona di tengah-tengah tangannya yang bertumpu di sisi ranjang. Wajahnya ia dekatkan pada wajah Yoona yang masih terpaku menatapnya.
''Apa kamu baru menyadarinya?'' tanya Arthan yang memposisikan wajahnya tepat dihadapan wajah Yoona.
Karena sangking dekatnya dan hanya menyisakan beberapa senti saja. Aroma sabun dan sampo dari tubuh Arthan menyeruak ke indra penciumannya. Membuat Yoona sejenak menikmati aroma segar itu.
Namun, beberapa saat kemudian, pipinya kian memerah. Jantungnya berdegup kencang. Pupil matanya bergerak dengan tidak nyaman.
''Hehehe..., Aku–aku mandi dulu!'' Yoona mendorong wajah Arthan dengan tangannya tanpa sadar, kemudian pergi dengan langkah seribu menuju kamar mandi.
Tangannya ia taruh dikasur, kepalanya menoleh, dan ternyata saat ini tangannya mendarat di handuk milik Yoona, yang tadi ia berikan.
Arthan bangun dari duduknya, membawa handuk kearah pintu kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
''Kamu lupa membawa handukmu! ini saya letakan di kenop pintu!!'' teriak Arthan dan berlalu pergi dari sana tanpa menunggu sahutan dari Yoona.
Didalam kamar mandi, ternyata Yoona tidak sedang mandi, melainkan masih berdiri dibelakang pintu dengan terus memegangi dadanya yang terus berdegup cepat.
''Huuft Huuftt... Ada apa sebenarnya dengan jantung ku ini! Astaga!!'' pekik Yoona yang sedikit ia tahan.
Yoona membuka pintu, ia mengintip dicalahnya. Memastikan Arthan tidak ada didekat pintu. Setelah melihat suasana kamar yang sunyi, menandakan Arthan memangnya tidak ada disana. Yoona mengambil handuknya yang tersampir di kenop pintu.
__ADS_1
Dan Yoona pun memutuskan untuk segera mandi.
Melepaskan semua pakaiannya lalu masuk ke ruang mirip seperti tabung kaca yang terdapat shower disana. Ia berdiri dibawah shower yang ia setel untuk air hangat.
Sungguh, Yoona merasakan ketenangan jiwa setelah air hangat itu mengguyur seluruh tubuhnya. Setelah dua puluh menit berlalu. Yoona pun menyudahi acara mandinya lalu meraih handuknya.
Dia berdiri didepan kaca, melihat bayangan setengah tubuhnya itu dengan bibir yang tersenyum. Yoona merasa sudah lebih segar dari sebelumnya. Matanya mencari-cari sesuatu disana, semua laci ia buka.
Setelah terus membuka beberapa pintu laci, matanya berbinar, karena benda yang dia cari ketemu. Hairdryer!
''Selesai!'' serunya. Menggulung kembali kabel pengering rambut itu dan menyimpannya lagi ketempat semula. Tapi tiba-tiba ia baru ingat sesuatu.
''Pakaian ganti, astaga! aku lupa mengambil pakaian ku dari tas!''
Sejenak ia berpikir, bagaimana caranya ia mengambil pakaiannya, yang ada di tas ranselnya. Bahkan tasnya itu ada di luar kamar, tepatnya di ruangan pertama dari ruangan pribadi Arthan itu. Ya! dia meletakkan tas-nya disana.
Kembali Yoona membuka pintu, memastikan kalau Arthan benar-benar tidak ada dikamar. Setelah memastikannya, Yoona memberanikan diri untuk keluar masih dengan keadaan hanya memakai handuk.
Sungguh ini gila! bagi Yoona tubuhnya adalah aset baginya, hanya orang pilihannya lah yang bisa melihatnya walaupun memang inti dari tubuhnya terbungkus dengan baik oleh lilitan handuknya.
Kakinya berjinjit, ia berjalan seperti maling takut ketahuan korbannya. Matanya mengawasi seluruh ruangan dengan waspada. Telinganya mendengar samar-samar suara Arthan yang sepertinya sedang bicara dengan seseorang diluar kamar. Ia mengikuti arah suara itu yang ternyata Arthan sedang bertelepon.
Dengan perlahan dan hati-hati Yoona menutup pintu kamar lalu menguncinya. sangat tidak mungkin kalau dia keluar untuk mengambil tasnya dan dengan sangat terpaksa dia pun mengambil sikap lancang untuk menuju sebuah ruangan yang saat ia buka ternyata di sana ruangan khusus tempat penyimpanan pakaian-pakaian juga aksesoris Arthan lainnya.
Tapi ada yang membuat dia bingung. Di sisi kanan terdapat sebuah lemari besar yang tergantung dan tersimpan barang-barang Arthan. Seperti pakaian, jam tangan dan berbagai macam sneakers.
Dan saat kepalanya menoleh ke sisi kiri, disana juga terdapat lemari besar yang tergantungkan pakaian. Namun itu pasti bukanlah pakaian Arthan melainkan pakaian khusus wanita, lengkap dengan perhiasan dan berbagai macam sepatu.
Seketika ia berpikir negatif pada dosennya itu.
''Apa jangan-jangan Pak Arthan memiliki kelainan?'' gumam Yoona menduga-duga.
Bersambung..
__ADS_1
Happy reading...