Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 22 - Yoona Diusir


__ADS_3

Suara deringan ponsel membuat pemiliknya terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba berusaha mencari letak tempat ia menyimpan gawainya.


Matanya mengecil memperjelas penglihatannya yang masih berbayang.


Nomor yang tidak tersimpan di kontaknya lah yang saat ini masih setia menunggu untuk ia jawab.


''Hemm... Siapa?'' tanya Yoona.


''Selamat pagi Nona, maaf mengganggu waktunya. Saya Ziko asisten pribadi dari Pak Arthan. Hari ini Pak Arthan butuh baju ganti, tapi saya tidak bisa mengambilnya karena ada pekerjaan yang harus saya urus. Apa bisa Anda melakukannya untuk saya?''


''Asisten pribadi? asisten dosen mana lagi ini?'' gumam Yoona ditempatnya yang ternyata terdengar sampai ketelinga Ziko disebrang sana.


''Bukan! saya bukan asisten dosen, saya asisten pribadi Pak Arthan, Nona Yoona.''


Yoona membuka matanya seketika, ia baru sadar ternyata memang Arthan tidak pulang malam tadi. Dia bangun dari tidurnya, kepalanya menoleh kesisi ranjang tempat biasa Arthan tertidur.


''Lalu kemana saya bisa mengantarkan pakaiannya?'' tanya Yoona dengan jelas, tidak seperti tadi.


Ziko pun menyebutkan alamat yang harus Yoona tuju, dan dengan teliti dia pun mencatatnya.


''Jadi saya harus siapkan pakaian apa untuk Mas Arthan?''


Disebrang sana Ziko sedikit tersentak, hingga menjauhkan gawai dari daun telinganya. ''Mas?'' gumam Ziko dalam hatinya.


Bibinya tersungging sebuah senyuman lega, ia menduga kalau hubungan Arthan dengan Yoona sudah ditahap aman karena dilihat dari panggilan Yoona pada Arthan.


"Kak Ziko?" panggil Yoona dari sana karena tidak lagi mendengar suara apapun dari Ziko.


"Ah iya! maaf Nona saya tadi sedang berpikir," sahut Ziko berkilah.

__ADS_1


"Iya enggak apa Kak, jadi gimana? saya harus siapkan pakaian apa saja?"


"Cukup pakaian formal saja, Nona."


Setelah berbincang beberapa saat, Ziko pun mengakhiri obrolan mereka karena memang dia ada pekerjaan lain.


Maka disinilah Yoona berada, didepan lemari besar yang menyimpan banyaknya pakaian milik Arthan, dari kemeja sampai jas. Disana tertata dengan sangat rapih.


Yoona sedikit berpikir, warna kemeja mana yang cocok dengan jas yang saat ini ia pegang. Dan akhirnya dia mengambil kemeja dengan warna krem dan tidak lupa juga ia mengambil dasi dengan warna coklat yang sangat serasi jika dipadukan dengan kemeja krem tersebut.


Yoona sudah berada disebuah taksi. Tangannya memegang satu paper bag berukuran sedang yang isinya adalah pakaian Arthan tadi. Bibirnya terus bersenandung lirih, dia sama sekali tidak menyadari sebab Arthan tidak pulang kerumah tadi malam, itu karena dirinya. Yang dia tahu kalau Arthan memang memiliki kesibukan lain yang membuat dia tidak pulang.


Hanya berbekal lembaran kertas yang tertuliskan sebuah alamat, akhirnya Yoona sampai didepan gedung yang menjulang tinggi kelangit. Matanya melihat sebuah tulisan besar dari nama kepimilikan gedung tersebut.


Miller Corp, ya dua kata itu yang terpampang jelas diatas sana. Yoona memiringkan kepalanya seraya berpikir tidak asing dengan nama depan yang tertulis itu. Berulang kali ia melihat alamat tulisan tangannya itu dengan alamat yang ada tertera didepan gedung tersebut.


Yoona juga berharap kalau dia tidak salah alamat. Melihat Yoona yang seperti kebinguan seorang security pun mendatanginya. "Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya ramah security tersebut.


Yoona pun merasa lega karena memang dia tidak salah alamat, lalu menjawab dan menyebutkan nama Arthan pada Security itu dengan embel-embel sebuah panggilan 'mas' didepannya, sehingga membuat pria parubaya itu turut memperhatikannya dari atas kepala sampai ujung sepatunya.


Yoona mengikuti arah pandang Security itu, ia merasa tatapan pria itu seperti sedang mengintimidasinya.


"Ada apa ya, Pak?"


"Maaf Mbak, mungkin Anda salah alamat," ujarnya yang mulai tidak ramah.


Yoona mengernyitkan dahinya, karena sebelumnya dia sangat yakin kalau si pria itu mengatakan kalau dia datang dialamat yang benar dengan alamat yang ia tulis, lalu kenapa tiba-tiba ucapannya berubah dalam sekejap.


"Tapi Pak-"

__ADS_1


"Maaf Mbak, saya masih banyak pekerjaan, silahkan Anda pergi!" sang pekerja yang bekerja dibagian pengamanan itu dengan frontal mengusir Yoona, bahkan kertas milik Yoona dibuangnyan keudara. Yang tentunya membuat Yoona merasa sedih juga malu, pasalnya ia diusir disaat banyaknya karyawan disana yang sedang berlalu lalang masuk dan keluar dari gedung tersebut.


Dengan tangan yang gemetar karena baru saja mendaptkan perlakuan tidak baik itu, Yoona memungut kertas itu kemudian berniat pergi dari sana. Matanya melirik kebeberapa orang disana yang sedang menatap kearahnya seakan turut mengusirnya.


Tapi... suara yang sangat ia kenal, suara bariton, suara yang begitu berat dan berwibawa memanggil namanya. Yoona sontak menoleh dan mengulumkan sanyuman yang sangat terlihat dipaksakan karena sangat jelas terlihat kalau dia sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Mas?" lirih Yoona masih ditempatnya.


Ya dia adalah Arthan, pria yang membuat dia pergi kesana, yang membuat dia ada disana. Arthan berjalan dengan cepat menghampiri Yoona, dan tanpa Arthan duga Yoona malah meraih tangan Arthan lalu menyalaminya.


Arthan sedikit terkejut, Yoona memberikan paper bag yang dia bawa pada Arthan lalu menjelaskan kalau Ziko yang menghubunginya untuk membawakan itu untuknya. Masih dengan senyuman yang terkesan dipaksa, Yoona pun segera berpamitan. "Mas, Yoona pamit ya." Yoona kembali menyalami punggunug tangan Arthan lalu berbalik.


Tapi dengan cepat Arthan menahan lengannya. Kepala Arthan menoleh pada Security yang masih berdiri  ditempatnya tadi, mendapatkan tatapan yang begitu tajam membuatnya tertunduk takut.


Arthan merogoh saku celananya lalu mengambil handphone-nya. Entah siapa yang sedang ia hubungi tapi beberapa saat kemudian datanglah seorang pria yang berseagam hitam, menghadap Arthan dengan tegap.


"Ya Pak?!"


"Apa kamu tidak memberi tahunya cara bagaimana menyambut seseorang yang datang kesini?"


Pria itu melirik ke arah Security yang tadi mengusir Yoona, yang kemudian dia seperti sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi. "Maafkan saya pak!" ucap pria berseragam itu dengan nametag Boni sebagai identitasnya.


"Kamu tahu apa yang dia lakukan pada istri saya?"


Mendengar penuturan Arthan, Security tadi yang semula menundukkan kepala seketika mengangkat kepalanya dengan raut yang syok, begitu juga beberapa orang yang turut menyaksikannya ikut terkejut mendengar sebuah pengakuan dari Arthan yang secara tidak langsung pada gadis yang tadi diusir oleh Security disana.


Bahkan saat ini semua orang yang berada disana menatap iba pada Security itu, karena mereka dapat menebak apa yang akan terjadi padanya nanti. Ya konsekuensinya pemecatan lah yang akan dia terima.


"Baik pak, saya yang akan mengurusnya. Sekali lagi maafkan keteledoran saya mengurus mereka." Pria berseragam itu membungkuk lalu menggedikan kepalanya pada Security tersebut agar ikut dengannya. Arthan menoleh kembali pada Yoona yang masih terdiam karena masih bingung, siapa sebenarnya Arthan disana.

__ADS_1


Ia menatap Yoona dengan dalam,  Arthan yang sebenarnnya masih kecewa karena Yoona menerima pengakuan cinta Noval, mencoba bersikap biasa saja. Arthan menggedikkan kepalanya pada Yoona yang tidak mengerti lalu kemudian iapun menarik pelan tangan Yoona dan digenggamnya. Arthan pun membawa Yoona memasuki gedung tersebut.


__ADS_2