Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 31- Belum Bukan Berarti Tidak


__ADS_3

Yoona dan Arthan keluar dari ruangan, memasuki lift untuk pergi makan siang. Namun, begitu mereka keluar lift semua karyawan seperti sedang membicarakan mereka.


Arthan bersikap biasa saja, karena memang dia tipe orang yang masa bodo, tetapi berbeda dengan Yoona, ia justru merasa aneh dan risih.


''Mas?''


''Hmm?''


''Ada yang aneh enggak sih!?''


Arthan menghentikan langkahnya memperhatikan Yoona dari ujung kaki sampai kepalanya, lalu menggeleng samar seraya berkata, ''Tidak ada, kamu tetap manis,'' jawab Arthan setelah berpikir sejenak.


''Bukan itu, tapi mereka…"


Arthan melirik kebeberapa karyawan setelah mendengar ucapan yang tergantung dari Yoona. Bukan tidak menyadari tapi begitulah Arthan.


Arthan tersenyum, tangannya bergerak mengusap kepala Yoona didepan umum.


''Kamu istri saya, jangan pernah pedulikan apa yang orang lain katakan, hmm?''


Yoona mengangguk dan mereka berniat melanjutkan langkahnya tapi baru saja keduanya mengambil satu langkahnya, suara seorang wanita kembali menghentikan keduanya.


''Arthan!'' panggil seseorang dari sudut tempat, Yoona menoleh ke asal suara tapi tidak dengan Arthan. Ia hanya menghela nafasnya dengan memejamkan mata sejenak.


Rona wajah Arthan kian berubah, Yoona menatap wanita itu yang sudah berdiri didepannya dan bergantian menatap Arthan yang menatap lurus ke depan.


''Than? bagaimana kabar mu?'' tanya wanita itu yang ternyata adalah Sivia.


Tanpa terduga, Sivia memeluk Arthan lalu Yoona? tangan Yoona yang digenggam Arthan seketika terlepas sendiri.

__ADS_1


Yoona menatap pemandangan menyakitkan itu dengan nanar, benaknya mengatakan, mungkin bagi "mereka" orang kalangan atas, berpelukan dengan lawan jenis sudah sangat biasa dilakukan, tapi tidak bagi Yoona.


Yoona ingin memundurkan langkahnya tapi tangannya sudah lebih dulu diraih Arthan untuk tetap disana.


Dengan suara datar dan dingin Arthan pun berkata, "Lepas! apa kau tidak malu!?


Dengan spontan Sivia pun melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, menatap sendu wajah Arthan yang bahkan tidak sama sekali matanya menatap kearahnya.


''Than, aku kembali,'' lirihnya.


Arthan tetap diam, begitu juga Yoona yang masih menyimak apa yang terjadi selanjutnya. Ziko ikut bergabung ia menundukkan kepalanya setelah mata Arthan melirik tajam padanya.


''Aku sudah berusaha menyuruhnya pergi,'' gumam Ziko dengan suara pelan.


''Arthan, aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku 'kan sudah mengatakan alasannya,'' ucap Sivia lagi.


Merasa posisi mereka sangat tidak etis karena Sivia mengatakan hal yang bersifat pribadi, Arthan pun memberikan tangannya seolah mengatakan untuk Sivia berhenti bicara.


Arthan menatap Ziko dan Ziko pun mengangguk. Arthan berlalu melewati Sivia dengan tangan yang menggenggam Yoona untuk kemobilnya.


Setelah dimobil, tidak ada obrolan disana. Keduanya terhanyut dalam kesunyiannya, Yoona diam bukan karena marah pada Arthan yang dipeluk wanita lain. Tapi ia diam karena menunggu Arthan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, Arthan masih saja diam, seakan tidak ada yang perlu dijelaskan. Dan Yoona mengunci mulutmu rapat-rapat.


Disebuah restoran Arthan membawa Yoona makan disana. Keduanya sudah duduk dikursinya masing-masing, Yoona bersikap biasa saja, tidak ada gerak gerik yang berlebih ia hanya diam dengan memainkan ponselnya.


Arthan terus menatap Yoona yang duduk didepannya, ia mengira kalau Yoona marah kepadanya maka dari itu dia mengambil sikap diam untuk membiarkan rasa amarah Yoona tersampaikan tapi ternyata tidak. Yoona malah memilih untuk diam.


''Apa kamu marah?'' tanya Arthan langsung pada intinya.

__ADS_1


Yoona mengangkat pandangannya, meletakkan ponselnya diatas meja lalu menatap lawan bicaranya.


''Marah, kenapa saya marah?''


Arthan tertegun mendengar jawaban Yoona, pasalnya kata 'saya' saat Yoona menyebut dirinya sendiri seperti itu, mengingat saat hubungan mereka masih jauh.


''Dia Sivia, saya dengannya tidak memiliki hubungan apapun lagi, kamu harus percaya saya.''


Alis Yoona mengernyit, matanya mengecil lalu berkata, ''Lagi? apa dia mantan pacar Mas?''


''Bisa dikatakan begitu, tapi itu sudah lama sekali. Saya juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba ada di kantor.''


Pesanan mereka pun sampai. Arthan meminta Yoona untuk makan bersamanya dan Yoona mengiyakan nya.


Di Kantin perusahaan, Sivia dan Ziko sedang makan bersama. Ziko sudah menyuruhnya untuk pergi tapi Sivia tetap keukeuh untuk tetap tinggal disana menunggu Arthan kembali.


Didepannya sudah tersaji makanan, tapi Sivia tidak sama sekali memakannya. Siluet genggaman tangan Arthan pada tangan seorang gadis membuat dia tidak nyaman.


''Apa kamu tidak mau menjawab pertanyaan ku, Ziko?'' ucap Sivia yang sejak tadi memang terus bertanya siapa gadis yang bersama Arthan tadi.


''Aku sudah menjawabnya, tapi kamu tidak percaya 'kan?'' sahut Ziko yang terus menyantap makanannya.


''Lelucon apa itu, Ziko! Arthan adalah seorang pengusaha, kalaupun dia sudah menikah pastinya akan menggemparkan seantero negeri. Tapi aku tidak sama sekali mendengar kabar itu.''


''Belum, bukan berarti tidak.'' Ziko mendorong piring makanan nya. Ia menyudahi makan siangnya walaupun memang makanan itu masih tersisa banyak.


Sejak dulu Ziko tidak menyukai Sivia. Sikap keras kepalanya yang sangat ia benci dikala dia masih menjadi kekasih Arthan.


''Maksud kamu?''

__ADS_1


''Mereka menikah tapi memang belum merayakan resepsi pernikahan, dan Arthan sudah mengurus itu! jadi kamu bisa menjauh sebelum Arthan sendiri yang mengusirmu!'' Ziko bangkit dari duduknya meninggalkan Sivia sendirian di meja kantin.


Happy Reading..


__ADS_2