
Burung-burung yang duduk di jendela kamar terus berkicau menyambut sinaran surya pagi. Kedua mata pasangan suami istri mengerjap perlahan secara bersamaan. Dan secara bersama-sama juga mereka menoleh ke masing-masing wajahnya.
Yoona tersenyum begitu juga Arthan. Mereka saling melemparkan senyuman manisnya, seraya berucap berbarengan. ''Selamat pagi….'' ucap mereka berdua dengan suara sengau.
Dengan gemas Arthan menyentil pelan hidung mancung Yoona yang tertawa dibuatnya. ''Bersiaplah, hari ini akan ada pesta pertemuan para kolega ku.''
Yoona tidak menjawabnya, entah kenapa ia masih ingin merebahkan tubuhnya diranjang empuk itu.
''Kenapa? hmm?''
''Enggak, cuma sedang malas saja,'' sahut Yoona dengan manja.
''Apa mau mandi bersama?'' ucap Arthan menawarkan diri dengan alis mata yang dimainkan naik turun membuat Yoona tersenyum malu.
''Enggak! mas aja duluan.'' Yoona menutup wajahnya dengan selimut.
''Janji hanya mandi.'' Arthan terus membujuknya. Namun Yoona tetap menolaknya.
''Ayolah, aku mohon! Agar menghemat waktu juga 'kan, karena pertemuan ini terbilang penting juga, hmm?'' Arthan menggoncang tubuh Yoona yang tertutup selimut. Ia tidak menyerah untuk membujuk Yoona.
Yoona membuka selimutnya hanya sampai sebatas hidungnya saja. ''Tapi janji hanya mandi ya!''
Arthan terdiam sejenak, matanya melirik kearah boksernya lalu kembali menatap Yoona. ''Aku tidak bisa berjanji, tapi aku usahain!'' Tanpa aba-aba Arthan beranjak lalu membopong tubuh polos Yoona menuju kamar mandi.
Yoona terus menggeliat meminta diturunkan, tapi Arthan tidak sama sekali mendengarnya. Ia tetap melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sesampainya didalam sana, Arthan meletakkan tubuh tanpa sehelai benang itu kedalam bathtub lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah air penuh ia pun menuangkan sabun mandi beraroma sangat wangi, favorit Yoona.
Arthan pun ikut masuk kedalam bathtub tepatnya dibelakang tubuh Yoona.
Beberapa saat memang hanya saling menyabuni hingga suatu ketika tangan Yoona terpeleset dan tidak sengaja menyentuh benda keras berukuran lengan balita yang ada dibelakang tubuhnya.
Mata Yoona terbelalak karena menyadari benda apa yang telah ia sentuh itu. Kepalanya menoleh perlahan kebelakang melihat raut wajah Arthan yang tersirat akan senyuman kemenangan.
''Kau yang memulai, dan aku yang akan mengakhiri nya,'' ucap Arthan dengan jahilnya, dan entah sejak kapan Yoona sudah berada di atas kedua pangkal paha Arthan yang Arthan sendiri merentangkan kakinya didalam bathtub yang berisikan air sabun.
Suara erangan, lenguhan menjadi alunan musik dipagi hari di unit apartemen Kamboja.
Janji hanya janji, karena memang sebelumnya Arthan pun mengatakan dia tidak bisa berjanji dan hanya bisa berusaha menahannya. Namun, karena Yoona yang tidak sengaja menyentuh benda pusakanya, permainan panas itupun kembali terjadi didalam kamar mandi.
Posisinya sudah berubah beberapa kali, dari duduk dilantai, berjongkok, berdiri sampai menyender di daun pintu berharap bosnya itu segera keluar dari apartemen.
''Arthan sialan! kenapa juga meminta ku datang pagi-pagi begini, segala meminta ku mencarikan gaun berikut pakaian dalam wanita, kalau aku saja harus menunggu segini lamanya!'' Arthan terus menggerutu dan memaki Arthan yang sudah hampir dua jam bergoyang didalam kamar kecil yang ada di kamar mandi, bersama Yoona.
''Mas! Mas! lebih cepat!'' kata frontal itu begitu saja keluar dari bibir mungil Yoona yang seketika pipinya menyembulkan roja merah karena baru menyadari kalimat memalukan itu.
Arthan tersenyum senang, dan menuruti perintah istrinya dengan bergerak lebih cepat dengan posisi keduanya yang berdiri dan Yoona lah yang membelakanginya.
Aaakkhhh!!!
Keduanya melenguh panjang karena secara bersamaan telah mencapai puncak kenikmatan nya masing-masing.
__ADS_1
Arthan memeluk Yoona dari belakang, dengan sesekali tangannya merem*s kedua bukit kembar milik Yoona. Entah kenapa Yoona malah merasa bangga karena dapat mengimbangi semangat Arthan dengan permainan panas itu.
Begitu juga Arthan yang sama merasa bangganya karena dapat memuaskan pasangan nya yang bisa sampai mencapai puncak kenikmatan. Yang menandakan kalau pasangannya itu puas dengan apa yang dia lakukan.
Keduanya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya dari keringat-keringat olahraga paginya. Mereka sudah terlihat lebih segar setelah keluar dari sana. Mata Arthan menangkap sebuah sinar dari layar ponselnya yang menandakan adanya notifikasi masuk.
Sebelum ia melangkah menjauh dari Yoona untuk mengambil ponselnya, ia mengecup pipi Yoona terlebih dahulu dan mengusap rambutnya yang basah.
''Astaga!'' kaget Arthan ketika melihat panggilan tak terjawab sebanyak 27 kali dan itu semua berasal dari Ziko.
Drrrttt Drrrrtt
Panggilan itu masuk lagi, dan segera Arthan jawab. ''Ada apa?'' tanya Arthan dengan santainya.
''Apa apa kau bilang, Arthan Miller! aku sudah dua jam berada di luar, kau tau!''
Arthan menjauhkan ponselnya dari telinga karena Suara Ziko yang berteriak disebrang sana. ''Ngapain kamu diluar?''
Ziko terbelalak kaget mendengar jawaban Arthan, entah karena usia yang sudah berkepala tiga atau memang sudah keturunan pikun. Ziko tidak menyangka kalau Arthan semudah itu melupakan perintahnya sendiri.
''Kau lupa Arthan Miller! kau yang meminta ku membawakan gaun berikut pakaian dalam istrimu!''
''Oh iya, sebentar!'' dengan sangat santainya tanpa merasa bersalah ataupun terlontar kata maaf, Arthan memutus sambungan telponnya lalu berjalan keluar kamar untuk membukakan pintu.
''Brengsek bandit satu ini!'' maki Ziko diluar sana.
__ADS_1