Jerat Sang Dosen

Jerat Sang Dosen
Chapter 40 - Akan tetap Manjadi Rahasia


__ADS_3

Sore itu, saat para mahasiswa berhamburan keluar dari gedung kampus. Secara kebetulan hujan pun turun begitu derasnya.


Yoona dan para mahasiswa lainnya berdiri di koridor menanti hujan reda. Seorang pria berwajah malaikat terlihat menerobos ditengah-tengah hujan dengan payung putih di tangannya.


Suara-suara sumbang itu terus mengikuti langkah pria itu yang berhenti tepat didepan gadis bernama Yoona Navia. Semua mata tertuju pada keduanya, Yoona melemparkan senyuman begitu juga pria itu yang tak lain adalah Arthan Miller.


''Maaf membuat mu menunggu,'' ucap Arthan begitu hangat.


Bukan hanya Yoona yang tersipu, semua orang yang ada disana ikut merasakan kehangatan suara bariton yang Arthan miliki.


''Kita pulang, hmm?'' Yoona mengangguk dan mulai bergabung berdiri dibawah payung bersama Arthan.


''Wulan, duluan ya,'' ucap Yoona berpamitan pada sahabatnya.


Wulan mengangguk dengan mata yang terus menatap wajah tampan Dosennya itu. Bukan hanya Wulan tapi semua mahasiswi pun terpanah akan rupa Arthan ditambah rambutnya yang sedikit basah membuat semua wanita seperti terhipnotis akan dia.


Arthan merekatkan tangannya yang meraih pundak Yoona agar lebih dekat dengannya. Bukan, dia bukan sedang memamerkan kemesraan, hanya saja dia tidak ingin istri tersayangnya itu terkena air hujan yang bisa membuatnya sakit.


''Lebih dekat,'' lirih Arthan dan Yoona hanya bisa terdiam dengan pipi yang bersemu.


Keduanya berjalan ditengah-tengah air hujan yang turun begitu derasnya. Seperti drama romantis yang sedang dipertontonkan secara live, semua penonton menjerit terbawa suasana.


''Aakkhh! astaga kenapa mereka manis sekali,'' ucap salasatu dari penghuni kampus.


''Ya, kenapa Pak Arthan bisa semanis itu.''


''Apa ada Pak Arthan lainnya? aku mau satu.''


Seruan itu yang terdengar nyaru dengan suara air yang berjatuhan ke atap gedung.

__ADS_1


Payung yang tidak terlalu besar dengan kapasitas dua orang dewasa tentunya salasatu dari mereka ada yang mengorbankan dirinya demi satu orang lainnya aman dari tetesan air hujan. Ya siapa lagi kalau bukan Arthan, ia memberikan sepenuhnya payung pada Yoona dan dia yang basah tubuh bagian kirinya dan itu tidak masalah.


Dengan sangat hati ia membukakan pintu mobil untuk Yoona dan menunggu istrinya masuk dan duduk dengan benar setelah itu barulah ia memutar untuk menempati kursi bagian kemudi.


''Mas kamu basah?'' Yoona menatap merasa bersalah pada bagian baju Arthan yang basah kuyup.


Arthan pun tersenyum dengan tangannya yang sibuk melipat payung dan diletakkannya di bagian belakang mobil, lalu tangannya mengusap rambut Yoona dengan sayang.


''Tidak apa, yang penting kau aman,'' sahut Arthan.


''Rambut mas juga basah, setelah sampai rumah segera cuci rambutnya dengan air hangat, kalau tidak mas akan sakit.''


Arthan tersenyum lembut pada Yoona yang mengkhawatirkan keadaannya, tangannya mengusap lagi kepala Yoona dan ciumannya mendarat lembut dikeningnya.


''Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku.''


''Itu sudah seharusnya,'' jawab Yoona dengan pelan.


Yoona menatap kearah luar mobil, menatap hujan yang turun dan mengenai kaca mobil, membuat Yoona teringat ketika tiba-tiba menjadi istri dari Dosennya itu.


Bibir Yoona tersenyum dan itu tertangkap oleh mata Arthan. ''Kenapa?'' tanya Arthan.


Yoona menoleh, dan kembali tersenyum lebar. ''Enggak! cuma lagi ingat kejadian penggerebekan hari itu aja,'' sahut Yoona dan Arthan pun ikut tersenyum saat mengingatnya.


Dia terdiam, memikirkan hari itu dimana kejadian penggerebekan itu bukanlah kejadian yang kebetulan melainkan kejadian yang sudah direncanakan oleh dirinya dan beberapa orang.


Rasa gundah pun mulai datang, ia takut jika Yoona mengetahui itu, apa Yoona akan marah kepadanya, tapi Arthan bertekad untuk merahasiakannya sampai kapanpun dari Yoona.


Arthan pun merasa kalau dia sudah menjerat Yoona untuk masuk kedalam kehidupannya dengan sedikit egois. Tapi sungguh! dia juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memiliki gadis manis seperti Yoona.

__ADS_1


Gadis yang selalu menatapnya sinis di banyaknya para gadis mengaguminya tapi tidak dengan Yoona. Yoona gadis yang berbeda dimatanya, dan dia suka itu.


Sesampainya dirumah, seperti biasa Bi Sumi akan selalu menyambut kedatangan Tuan dan nyonyanya didepan pintu rumah.


''Pak, mau langsung makan—''


''Tolong buatkan sup jamur dengan asparagus dan antarkan keatas,'' sahut Arthan menyela ucapan Bi Sumi yang belum selesai. Yang tentunya segera di iyakan oleh asisten rumah tangga itu.


''Ayo! segera bersihkan tubuhmu, aku tidak mau kamu terkenal flu.''


Arthan meraih tangan Yoona dan menggenggamnya lalu membawanya ke lift untuk naik kekamar mereka.


Yoona hanya mengikuti kemana Arthan membawanya, ia merasa terharu dengan keadaan Arthan yang sangat basah masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan dirinya yang bahkan tidak ada setetes pun air hujan yang mengenai pakaian dan tubuhnya.


Sesampainya di kamar, Arthan masih saja menggenggam tangan Yoona. Yang langkahnya terus menuju kamar mandi.


''Mas? aku bisa sendiri,'' ucap gugup Yoona yang sudah berada dalam kamar mandi dan Arthan pun juga berada disana.


''Lupa? kamu yang tadi bilang agar mas membilas rambut?''


''He'um…"


"Kalau begitu bantu Mas!''


Yoona mengulumkan senyumnya, ia tahu akan bagaimana setelahnya, yaitu dia akan berakhir dibawah kungkungan Arthan didalam bathtub sana.


Arthan membantu melepaskan satu persatu pakaian Yoona yang bahkan hanya menurut bak terhipnotis akan senyuman hangat seorang Arthan.


Dan benar, baru saja tangannya membantu melepaskan kancing kemeja Yoona, ia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menjamah istri cantiknya itu.

__ADS_1


Aroma parfum yang dikenakan Yoona dan tertinggal diceruk leher, membuat Arthan terpancing untuk menghirupnya dalam-dalam. Suara desa-han manis pun lolos begitu saja dari bibir tipis Yoona.


Dan terjadilah adu gambrut itu didalam sana. Membersihkan diri dan membilas rambut, itu mereka tunda untuk melaksanakan kegiatan panas mereka dulu.


__ADS_2