
Saat ini Reno telah membawa David ke ruang kerjanya. David langsung mendapatkan jabatan kepala ekspedisi, karena posisi itu yang sedang dibutuhkan. Dengan senang hati David mendapatkan jabatan sebagai kepala ekspedisi. Padahal dia mengira hanya akan menjadi karyawan biasa. Namun, nyatanya nasib baik sedang berpihak kepada dirinya.
"Kamu sudah tahu kan tugas kamu apa aja? Kalau ada kendala jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada Lila. Dia adalah salah satu admin ekspedisi yang biasa membantu kepala ekspedisi yang lama," kata Reno setelah mengantarkan David ke ruang kerjanya.
"Iya, Pak. Saya tahu. Saya akan belajar dari Lila."
"Bagus. Jika ada apa-apa segera lapor. Dan satu lagi .... " Reno menjeda ucapannya. Matanya melirik kanan kiri berharap tidak ada orang di sekitar mereka. Kemudian Reno membisikkan sesuatu ke telinga David. David menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Tolong kamu awasi juga, ya!"
"Siap, Pak. Saya akan mengawasinya."
Sepeninggal Reno, David langsung membuka komputer yang telah tersedia. Kini tangannya mulai menggerakkan mouse yang tersambung dengan komputer untuk memulai pekerjaannya.
Disi lain Alan memberitahu kepada Keanu tentang apa yang baru saja diceritakan Eliza, jika ada pria yang mirip dengan Agash. Namun, karena Alan belum bertemu secara langsung dia tidak bisa menghakimi jika itu adalah Agash. Bisa jadi pria itu hanya sekilas mirip dengannya dan Eliza yang berlebihan. Terlebih kata Eliza istrinya juga sedang hamil. Jika dia memang Agash hanya ada dua kemungkinan.
Pertama, Agash sengaja meninggalkan Eliza dengan alasan keluar kota untuk menangani sebuah proyek, tapi diam-diam dia ingin menemui wanita lain dan dengan adanya sebuah kecelakaan itu Agash memanfaatkan keadaan.
Yang kedua bisa saja Agash memang berada di dalam pesawat itu tetapi dia salah satu korban yang selamat dan saat ini Agash sedang hilang ingatan. Panjang lebar Alan menceritakan apa yang dialami oleh Eliza melalui sambungan telepon.
Namun, Keanu belum bisa memberi kesimpulan karena dia sendiri juga belum melihat seperti apa orang yang dikatakan mirip dengan Agash. Karena saat ini Keanu sedang ada rapat, dia pun menyuruh Alan untuk datang ke perusahaannya untuk membicarakan lebih lanjut masalah orang yang mirip dengan Agash.
*
*
Eliza tidak tahu ingin mengadu kepada siapa lagi. Lelah hatinya menangis, hingga dia melupakan sesuatu yang sangat penting yaitu menyelidiki pria yang mirip dengan Agash Karena hatinya begitu sangat yakin jika pria itu adalah suaminya. Karena Eliza selalu yakin dengan kata hatinya. Jika kata hatinya mengatakan itu adalah Agash berarti pria yang bernama David itu adalah Agash. Tanpa pikir panjang dia pun segera mengambil ponsel dan tas yang berada di atas meja. Kali ini dia ingin meminta bantuan Kenzo, saudara kembarnya untuk mencaritahu tentang pria itu.
"Za, kamu mau ke mana?" tanya Azra yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Eza ingin bertemu dengan Kenzo, Momm."
"Tumben? Ada apa?" tanya Azra lagi.
"Ada sesuatu yang ingin dibicarakan Kenzo. Ini mengenai Alma, Momm. Ya udah, Eza pergi dulu ya," pamit Eliza pada Azra.
__ADS_1
"Apakah hubungan mereka berdua sudah ada perkembangannya?" tanya Azra yang mengingat jika hubungan Kenzo dengan Alma tidak sejalan dengan apa yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Sampai sekarang Kenzo masih belum menerima Alma, meskipun pernikahan mereka akan dilangsungkan beberapa bulan lagi.
"Enggak tahu juga sih, Momm. Makanya Eza mau ke kantor untuk menemui Kenzo. Siapa tahu dia telah berubah pikiran untuk menerima Alma."
Azra pun hanya mengangguk pelan. Berharap ucapan baik akan menjadi sebuah doa yang baik juga.
"Ya udah, hati-hati ya. Bilang sama Pak Jeki, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" pesan Azra.
"Siap, Momm."
Eliza sudah tidak sabar untuk bertemu dengan saudara kembarnya. Namun, karena saat ini Kenzo sedang mengikuti rapat di kantor utama milik sang Daddy, akhirnya Kenza mengubah haluan untuk ke kantor Daddy-nya.
Tak Berapa lama mobil yang dinaiki oleh Kenza telah sampai di perusahaan Daddy-nya. Namun, saa Eliza baru saja ingin masuk kedalam kantor, seseorang di belakang telah memanggil namanya.
"Eza!" panggilnya.
Eliza pun langsung menoleh dan tercengang saat melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Daddy ngapain kesini?" tanya Eliza dengan heran saat melihat Alan.
"Aku mau ketemu sama Daddy-ku, kenapa?"
"Lha, aku kan Daddy-mu."
"Ah, udahlah Dadd, Eza lagi gak mood bercanda dengan Daddy! Suka-suka Eza mau ngapain kesini. Toh besok kalau Daddy Ke udah dipanggil sama malaikat Izrail, kantor ini bakalan menjadi milik Eza." Eliza pun langsung terlalu meninggalkan alam begitu saja.
"Hei ... Dasar anak durhaka kamu, ya! Doain cepat mati atau gimana kamu, Za!" Alan berteriak, namun Eliza sama sekali tidak peduli.
Dan pada saat Alan hendak masuk ke dalam, matanya teralihkan pada seseorang yang sedang berbicara di pojokan. Untuk memastikan penglihatannya Alan sampai mengucek matanya, berharap itu tidak benar.
"Tunggu. Ini apakah mataku yang sliwer atau dia memang orang yang sama." Alan pun memutuskan untuk menghampiri agar dirinya tidak merasa penasaran.
Sorot mata Alan terlihat sangat tajam saat melihat pria yang sedang berbicara dengan dua orang. Dalam hati Alan bertanya-tanya sejak kapan pria ini bekerja di perusahaan milik sang kakak?
Saat empat mata saling bertemu David kepala David sedikit membungkuk untuk memberi hormat kepada Alan yang telah mendekat.
__ADS_1
"Siang, Pak. Apakah ada sesuatu yang ingin bantu?" tanya David pada Alan.
Mata Alan masih tak berkedip untuk melihat pria yang baru sja menyapa dirinya. Mungkinkah ini adalah pria yang diceritakan oleh Kenza. Tak ada sedikitpun celah untuk membedakan pria yang ada dihadapannya dengan Arshen. Pantas saja Kenza bersikeras mengatakan jika pria ini adalah Arshen.
"Pak." David mencoba untuk menyadarkan Alan dari lamunannya.
"Ah iya. Aku hanya penasaran saja, mengapa aku tidak pernah melihatmu disini. Atau ... kamu adalah salah seorang mata-mata?" Alan hanya asal berbicara.
"Saya bukan mata-mata, Pak. Saya memang baru mulai bekerja hari ini, makanya bapak baru melihat saya hari ini," jelas David.
"Oh, maafkan aku yang telah menuduhmu yang tidak-tidak. Kalau boleh tahu siapa nama kamu? Masih lajang atau sudah beristri? Kalau masih lajang aku ingin menikahkanmu dengan putriku," ucap Alan.
David hanya tersenyum kecil. "Maaf, Pak. Saya sudah menikah. Dan sebentar lagi saya akan dikaruniai buah hati."
Sejenak Alan terdiam tanpa kata. Jika dia Arshen pasti dia tahu sedang berbicara dengan siapa. Bahkan saat berbicara David tidak merasakan kegugupan sama sekali.
"Bapak ada yang mau dibantu?" tanya David lagi karena Alan belum menjawab pertanyaannya.
"Ah, tidak ada. Kan tadi aku sudah mengatakan jika aku hanya penasaran denganmu saja."
"Baiklah, jika tidak ada saya mau permisi karena masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan," kata David.
"Oh, silahkan!" balas Alan. Namun, setelah beberapa langkah David meninggalkan alam, tiba-tiba Alan menghentikan langkah David. "Tunggu!" cegahnya.
Langkah David pun terhenti dan menoleh ke belakang. "Iya, Pak. Ada apa?"
"Berikan dulu nomer teleponmu karena aku membutuhkan bantuan," kata Alan yang langsung memberikan ponselnya kepada David, agar pria itu memasukkan nomor teleponnya.
Karena merasa tidak enak, David pun langsung memasukkan nomor teleponnya di ponsel Alan. "Ini Pak." David pun mengembalikan ponsel Alan.
"Baiklah, terima kasih. Lain kali aku akan mengundangmu untuk ngopi bersama, karena aku memang membutuhkan bantuanmu," ujar Alan.
~BERSAMBUNG~
Jan lupa jejaknya! Kasih komentar apa gitu kek, biar kolom komentar kagak sepi 😠Yang punya bunga, punya kopi, punya Vote boleh kalian berikan untuk mendukung Novel ini.
__ADS_1