
Agash terus mengusap telinganya yang terasa panas karena terlalu lama dijewer oleh istrinya. Padahal niatnya hanya ingin mengompori Kenzo agar tidak menyia-nyiakan Alma, tetapi ujung-ujungnya dia sendiri yang terkena masalah. Beruntung saja saat ini ada para kakek dan nenek yang menunggu anaknya sehingga dia bisa melampiaskan kekesalannya pada suaminya.
"Udah dong Za, jangan ngambek! Aku hanya sedang menggoda Kenzo saja. Aku tidak serius dengan ucapanku," rengek Agash pada istrinya yang sesekali menggosok telinganya.
"Laki-laki memang seperti itu tidak merasa puas dengan satu wanita! Coba aja kamu berani memikirkan wanita lain, aku getok kepalamu biar gagar otak sekalian!" geram Eliza.
Agash hanya bisa mengelus dadanya. Ternyata wanita yang telah melahirkan itu akan terlihat ganas dan menakutkan. Terbukti dengan cara Eliza marah seperti saat ini. Biasanya Eliza mudah dibujuk, tetapi untuk tidak saat ini. Mungkin karena jurus andalan yang sering digunakan oleh Agash sedang di blokade sehingga susah untuk meluluhkan kemarahan istrinya.
"Satu lagi, malam ini kamu enggak usah tidur di kamar karena aku nggak mau tidur sama laki-laki yang di dalam pikirannya ada wanita lain!" ucap Eliza yang kemudian meninggalkan Agash begitu saja.
Agash langsung menghela napas panjang. Tidak disangka Eliza akan benar-benar marah padanya. "Lalu aku harus meluluhkan Eza dengan cara apa? Biasanya cara ampuh untuk mengatasi kemarahannya diajak main diatas tempat tidur. Tapi sekarang jalannya sedang diblokade. Aku harus bagaimana?" Agash merasa sangat bingung.
"Sepertinya aku harus meminta saran dari Daddy si Alan untuk meluluhkan Eza. Dia kan pawang Eza." Setelah mantap dengan pemikirannya, Agash pun langsung keluar dari kamar dan segera mencari keberadaan Daddy si Alan-nya itu. Sungguh Agash tidak mau jika di harus tidur di luar. Apa kata nyamuk jika melihat dirinya sampai tidur di luar.
__ADS_1
Di lantai bawah Eliza sudah bergabung bersama dengan para orang tua yang saat ini sedang menunggu anaknya. Dilihatnya ketiga wanita dengan sebutan mommy sedang mengerumuni box baby girlnya. Sedangkan tiga pria dengan sebutan Daddy mengerumuni box baby boy. Keenam orang itu merasa sangat bahagia ketika mendapatkan dua sekaligus calon pewaris mereka kelak.
Langkah Eliza pun membuat keenam orang itu langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sedang menghampiri mereka. Dilihatnya sang ibu bayi tengah berjalan mendekat.
"Eza, kamu kenapa? Kok mukanya lecek gitu? Gak dapat jatah dari Agash, ya? Upss ... sorry Daddy lupa. Saat ini kan sedang ada blokade jalan." Alan yang peka dengan wajah Eliza sengaja menggodanya.
"Apakah kamu murung karena tidak saat ini ada blokade jalan?" timpal Keanu sambil menautkan kedua alisnya. "Sabar, dulu Daddy dan Mommy juga pernah merasakan bagaimana galaunya saat tidak bisa naik Ke bulan. Tapi itu enggak lama. Paling-paling hanya sekitar tiga bulan aja. Iya kan Momm?"
Eliza pun berjalan gontai menuju box baby girlnya. "Mau kamu beri mana siapa bayi-bayi yang lucu ini?" tanya Mommy-nya.
Eliza terdiam untuk sesaat. Karena kesal pada Agash, Eliza sampai lupa untuk mendiskusikan pembuatan nama untuk baby twins-nya.
"Jangan bilang kamu belum menyiapkan nama untuk bayi kamu?" tebak Alan.
__ADS_1
Kepala Eliza mengangguk dengan pelan. Namun, saat Alan ingin mencibir suara Agash langsung menyahut dari belakang.
"Arshena Dinata untuk baby girl. Arsheno Dinata untuk baby boy. Bagaimana menurut kamu, Sayang?" Agash langsung meminta pendapat dari sang istri.
Eliza benar-benar terkejut dengan suara Agash yang menyangkut dari belakang. Dia tidak menyangka jika suaminya telah menyiapkan sebuah nama untuk baby mereka.
"Bagus juga. Jadi mulai sekarang kita bisa memanggil Shena untuk bayi girl dan Sheno untuk baby boy," celetuk Alan dengan antusias.
"Iya, aku setuju dengan nama itu." Eliza menyetujui nama yang diberikan oleh Agash.
...***...
Anggap aja Agash itu Arshen dan Eliza itu Kenza karena mereka adalah tokoh yang sebenarnya 🤧
__ADS_1