
Setelah melakukan check up dan memberitahu tentang perkembangan cucunya yang masih berada di dalam perut, Eliza pun langsung menyuruh ke 6 orang tuanya untuk pulang karena kan Eliza ingin bertemu dengan Grace—sahabatnya.
Karena tak ingin mengekang Eliza, keenam orang tuanya tidak keberatan kemanapun Eliza pergi, asalkan Eliza masih ingat pulang dan tidak menyakiti dirinya sendiri. Apapun yang Eliza lakukan keenam orang tuanya akan terus mendukungnya.
Hari ini Eliza berencana untuk membeli beberapa kebutuhan calon babynya yang sebentar lagi akan mbrojol dari perutnya. Bersama dengan Grace, keduanya mengelilingi Mall untuk mencari pernak-pernik untuk calon baby nanti.
"Za, kamu yang bener dong, masak anak cowok kamu pilihin warna pink? Pink itu warna untuk anak cewek, Za!" Grace hanya menggelengkan kepala saat Kenza memilih perlengkapan untuk calon baby-nya serba warna pink.
"Terserah aku dong, Grace! Kan ini anak aku. Emangnya dia bisa protes kalau aku pakaikan warna pink? Kan enggak," jawab Eliza dengan santai.
"Ya aku tahu itu anak kamu. Tapi selama ini belum ada sejarahnya anak cowok perlengkapannya serba pink, Za! Kamu mau pas nanti udah besar anak kamu kayak cewek. Yang benar dong, Za. Masa ganteng ganteng kayak cewek!"
"Daripada kamu tahu anak aku ganteng? Kan belum keluar?
"Aduh ... Eza. Kamu hari ini kenapa, sih? Dimana-mana kalau kalau bibitnya bagus itu kualitasnya juga akan ikut bagus, Eza ... Ah, ya sudahlah terserah kamu saja. kalau perlu kamu cat sekalian kamarnya dengan warna pink!" Entah mengapa Eliza merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Eliza. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Eliza saat ini.
__ADS_1
"Emang iya. Aku udah siapin kamar warna pink untuk calon babyku."
Kali ini Grace tidak bisa berkata-kata lagi. Lebih baik diam dan mengikuti saja tingkah lakunya Eliza yang hampir kurang satu ons. Dimana-mana saat ingin menyambut anak cowok mereka menggunakan warna yang netral, bukan warna feminim.
Karena tidak bisa membawa banyak, Eliza memutuskan untuk membeli seperlunya saja. Toh masih ada waktu 2 bulan lagi untuk persiapan kelahirannya. Sebenarnya tanpa berbelanja sendiri, semua kebutuhan calon babynya juga sudah dipersiapkan oleh karena orang tuanya. Tidak mungkin mereka akan lepas tangan. Hanya saja belum waktunya mereka untuk membeli perlengkapan bayi, karena usia kandungan Eliza masih menginjak di usia 7 bulan.
"Grace, tolong bawain dong. Berat, nih!" Eliza menyerahkan tiga paper bag kepada Grace.
Grace langsung mengambil tiga papar bag dari tangga Eliza. "Apanya yang berat, Za! Ini ringan, lho!" protes Grace saat tak merasakan berat dari ketiga paper bag itu.
"Dih ... kebiasaan deh!" gerutu Grace.
Kenza hanya nyengir saat melihat bibir Grace telah mengerucut.
Mata Eliza pun berkeliaran untuk mencari tempat yang ingin dimasukinya lagi. Namun, pandangannya terhenti pada dua orang yang berjalan berlawanan dengan langkahnya. Bahkan Eliza sampai tak berkedip saat ingin memastikan pria yang sedang berjalan dengan menggandeng seorang wanita.
__ADS_1
Seorang pria yang begitu familiar untuknya. Pria yang sangat mirip dengan suaminya. Dadanya langsung bergejolak dengan kuat. "Agash," lirihnya dengan pelan.
Grace yang mendengar ucapan Eliza langsung menghentikan langkahnya. Grace mengira jika Eliza belum bisa melupakan Agash, sehingga menyebutkan suaminya yang telah tiada.
"Za, aku tahu kamu sangat mencintai Agash. Tapi tolong, biarkan dia tenang di alamnya. Dia akan bersedih jika melihatmu tidak bisa mengikhlaskannya, Za. Ayo kita pulang." Grace mencoba untuk menggandeng tangan Eliza.
"Grace itu Arshen!" Eliza menunjuk salah seorang yang berjalan kearahnya. Saat Grace melihat kearah jari telunjuk Eliza, matan Grace hampir terlepas karena sangat terkejut dengan penglihatannya. Bahkan beberapa kali Grace mengucap kepalanya untuk memastikan lebih jelas dari apa yang dilihatnya. Namun, hasilnya tetap sama.
"Kok bisa. Eh tunggu ... " Seketika Grace menutup mulutnya. "Gak mungkin, Za. Itu bukan Agash! Lihatlah wanita yang sedang digandengnya! Wanita itu sedang hamil besar. Berarti itu bukan Agash! Mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja di mana pria itu terlahir mirip dengan Agash." Grace mencoba untuk menepis perasaannya.
Namun, tidak dengan Eliza yang sangat yakin jika pria itu adalah Agash.
"Za, mau kemana?" teriak Grace saat melihat langkah kerja begitu cepat untuk menghampiri orang yang sangat mirip dengan Agash.
"Agash!" panggil Eliza.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~