
Mentari pagi telah menyingsing. Nyanyian burung saling bersahutan. Namun, meskipun begitu membuat tidur seorang wanita terganggu, karena dia baru tidur pukul tiga dini hari. Hampir satu malaman dia tidak bisa memejamkan mata karena terus-menerus memikirkan suaminya yang saat ini sedang bersama wanita lain. Entah sampai kapan dirinya harus berpura-pura tidak mengenalnya, padahal rasa rindu sudah sangat menggebu.
Ketukan pintu berulang kali terdengar, tetapi tak kunjung membangunkan Eliza yang masih terlelap dalam mimpinya. Mbak Lily sebagai asisten rumah tangga merasa menyerah saat membangunkan Eliza yang tak kunjung bangun. Satu-satunya cara hanyalah memanggil Alan, sebagai pawangnya.
Rumah megah yang begitu luas hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Sebenarnya dulu Keanu dan juga Mouza juga tinggal di rumah itu. Namun, karena mereka sudah memiliki rumah sendiri akhirnya mereka memilih untuk berpisah. Dan tinggallah Alan beserta anak dan istrinya yang menempati rumah megah peninggalan kakek Wijaya ini. Dulu ada Elena, tetapi saat ini anak angkat Azra itu memilih untuk tinggal di Jerman, karena skandalnya dengan pria yang beristri beberapa bulan yang lalu.
"Ada apa, Mbak?" tanya Azra saat melihat Mbak Lily mendatanginya yang sedang menikmati secangkir teh di teras.
"Non Eza tidak mau bangun. Saya sudah menggedor pintunya tetapi tidak ada jawaban sama sekali," adu Mbak Lily pada Azra.
"Kalau sudah seperti itu panggil saja Alan! Karena hanya dia yang bisa menanganinya," saran Azra. "Alan sedang memberi makan burungnya di teras belakang," ujar Azra lagi.
Mbak Lily pun segera meninggalkan Azra di teras rumah dan segera menemui Tuan-nya. Benar apa yang dikatakan oleh sang Nyonya jika saat ini Alan sedang memberikan makan pada burungnya. Bahkan karena saking asyiknya, Alan sampai tidak mendengar panggilan Mbak Lily.
"Tuan!" panggil Mbak Lily untuk kesekian kalinya.
Merasa ada yang memanggil, Alan langsung menoleh. Dilihatnya sang asisten rumah tangga sudah berdiri di belakangnya. "Ada apa, Mbak?" tanya Alan langsung.
"Itu Tuan ... Non Eza gak bangun-bangun," kata Mbak Lily.
"Lalu?"
Mbak Lily langsung menautkan kedua alisnya. Bukannya panik atau terkejut, Alan hanya bisa saja.
"Ini sudah pukul tujuh pagi, Tuan. Apakah non Eza tidak akan berangkat ke apartemen?"
Mendengar pertanyaan Mbak Lily, Alan langsung mengernyitkan dahinya. Hampir saja dia melupakan sesuatu tentang Kenza, yang mana saat ini mereka sedang menjalankan sebuah misi untuk memancing ingatan Arshen.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih, Mbak? Ya udah jagain burung aku, jangan sampai lepas!" titah Alan sebelum meninggalkan Mbak Lily.
Mbak Lily hanya bisa menelan kasar salivanya. Bahkan dia masih tercengang dengan ucapan Alan. Bagaimana mungkin dia harus menjaga burung yang sudah berada dalam sangkar, sementara tugasnya saja masih banyak.
__ADS_1
"Ya ampun ... apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus nurut untuk menunggu burung yang sudah berada pada tempatnya. Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" gerutu Mbak Lily dengan kesal.
Entah apa yang terjadi pada Eliza, mengapa sampai detik ini dia belum bangun, sementara Eliza harus segera berangkat ke apartemen, karena sebentar lagi pria yang bernama David itu pasti sudah hampir tiba di apartemen.
"Eza ... bangun, Za!" Alan menggedor pintu kamar yang terkunci dari dalam.
Mencoba untuk sabar, tetap kesabaran Alan hanya setipis tisu, akhirnya dia berteriak untuk memanggil Mbak Lily.
"Mbak Lily .... " teriak Akan dengan kuat agar wanita yang dipanggilnya mendengar panggilannya.
Entah mengapa yang dipanggil Mbak Lily tetapi yang datang adalah istrinya.
"Kok malah kamu yang datang? Aku kan lagi panggil Mbak Lily?" protes Alan saat melihat Azra mulai mendekat.
"Memangnya salah kalau aku datang? Kamu ngapain teriak kayak gitu manggil Mbak Lily? Dia gak bakalan dengar karena ada di teras belakang jagain burung kamu. Ada apa manggil dia?" tanya Azra yang memang sudah mengetahui jika Mbak Lily sedang menunggu burung-burung Alan.
"Oh iya, aku lupa kalau Mbak Lily lagi aku suruh buat jagain burung-burung itu. Eh, tunggu! Bukannya burung-burung itu sudah berada didepan sangkarnya?" komentar Alan.
"Ya udahlah, mending kamu bantu aku untuk mencari kuncinya cadangan kamar Eza. Heran ngapain aja tuh anak tadi malam. Udah siang juga belum bangun!"
"Bukannya kunci cadangan kamar Eza jadi satu sama kunci kamar kita?"
"Ah iya. Ya udah tunggu apa lagi? Ambil sana!"
Tak butuh waktu lama pintu kamar Kenza sudah berhasil dibuka. Alan hanya bisa menghela napas panjangnya saat Eliza masih terasa nyaman berada dibawah selimut tebalnya. Bahkan dia tidak peduli dengan suara alarm dari ponselnya.
"Nih, anak benar-benar ya!" gerutu Alan saat melihat wajah lelapnya Kenza.
"Ibu hamil bukannya bagun pagi terus jalan pagi biar sehat, malah ngeram dibawah selimut!" ujarnya lagi. "Eza, bangun!"
Eliza yang merasa tubuhnya ada yang menggoyang-goyangkan langsung mengerjap dengan pelan. Perlahan dia membuka matanya. Dilihatnya saat ini ada Daddy si Alan-nya dan juga Mommy Azra. Melihat dia orang berada didalam kamarnya, Kenza langsung bertanya, "Kalian ngapain disini?"
__ADS_1
"Daddy pikir kamu udah lewat. Udah mandi sana! Jangan lupa dandan yang cantik, banget lagi mau ketemu sama Mas Agash!"
Eliza masih berusaha untuk mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Lima menit lagi, Dadd Eza ngantuk berat!"
"Masa mau ketemu suami pakai nunda waktu lagi? Katanya gak mau kalau suaminya diambil orang," sahut Azra yang berada disamping Alan.
Saat itu juga Eliza langsung terbelalak dengan lebar dan membuang selimutnya kesembarang arah. Eliza hampir saja melupakan sesuatu tentang rencananya.
"Astaga ... Mommy kenapa enggak bilang dari tadi? Udahh ah, Eza mau mandi dulu."
"Eza, hati-hati!" teriak Azra saat Eliza berlari kecil menuju ke kamar mandi.
"Dasar anak itu!" cibir Alan.
Eliza adalah wanita yang paling beruntung. Selain mempunyai dua orang Daddy dan dua orang Mommy yang sangat menyayanginya, dia juga mempunyai Daddy mertua dan Mommy mertua yang tak kalah menyayanginya. Mereka semua mencurigakan cinta dan kasihnya kepada Eliza. Terlebih saat Eliza harus mengikhlaskan Agash beberapa bulan yang lalu. Merekalah kekuatan Eliza untuk bangkit.
Eliza diperlukan bak seorang ratu. Semua akan melindungi Eliza, bahkan tidak akan membiarkan Eliza untuk menitihkan air matanya lagi. Mereka semua ingin melihat Eliza yang dulu, Kenza yang penuh energik dengan canda tawanya. Bahkan mereka juga memberikan support dengan apa yang Eliza lakukan.
Pagi ini Eliza harus terlambat datang ke apartemen, karena bangunnya kesiangan. Benar saja apa yang dikatakan oleh Alan, jika saat ini pria yang bernama David itu sudah menunggunya di depan apartemennya. Mungkin karena terlalu lama, pria itu duduk berjongkok di depan pintu apartemen.
"David," panggil Eliza dengan mata berbinar. Agash ... lihat aku dan anak kita. Aku dan mereka sangat merindukanmu. Agash, cepatlah kembali. Jangan membuatku terlalu lelah. Awas saja jika nanti kamu sudah kembali mengingatku, aku akan memberikan pelajaran untukmu. Bisa-bisanya kamu pergi setelah menanamkan bibit kecebong ini. Kamu harus menerima pembalasanku! batin Eliza dengan mata yang menatap David dengan dalam.
Mendengar ada yang memanggil namanya David langsung mendongak. Dan saat melihat sosok berada di depannya saat ini dia pun langsung berdiri.
"Mbak kamu darimana? Aku hampir aja lumutan untuk menunggu Mbak Eliza." David langsung menyodorkan sebuah pertanyaan kepada Eliza.
"Maaf, tadi aku cari angin sebentar. Ya udah, ayo masuk!"
David pun mengikuti langkah kerja untuk masuk ke dalam apartemen. Namun, siapa yang menyangka jika sepasang mata sedang memperhatikan kedua orang itu masuk ke dalam. Dadanya naik turun, bahkan telapak tangannya sudah menggenggam dengan erat.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa David bersama dengan wanita itu? David bilang kalau dia bekerja di salah satu perusahaan sebagai kepala ekspedisi. Lalu mengapa bisa David masuk ke apartemen apartemen wanita itu? Apakah wanita itu mempunyai hubungan dengan David. Tidak! Aku tidak akan membiarkan David meninggalkanku. David milikku!" Heni hanya bisa menahan rasa sakit dalam dadanya, ketika menyaksikan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
~BERSABUNG~