Jodohku Kembali Pulang

Jodohku Kembali Pulang
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Seberapa pun rasa kesal yang dimiliki oleh Eliza tak akan pernah bisa untuk menolak sentuhan yang telah dirindukannya selama ini. Entah dimana harga dirinya sehingga Eliza begitu mudah untuk menyerahkan diri saat baru bertemu dengan Agash. Padahal sebelumnya Eliza tidak menginginkan untuk melihat wajah suaminya itu. Namun, Agash terlalu pendek untuk mengambil hati Eliza sehingga dengan mudah Agash menaklukkan kerasnya hati Eliza.


Dibawah selimut tebalnya, keduanya masih menikmati sisa percintaannya yang baru saja mengguncangkan tempat tidur. Tangan Agash masih setia untuk mengelus perut Eliza yang sesekali memberikan respon dengan cara menendang.


Kecuupan pun terus mendarat di kening Eliza. Agash benar-benar sangat berterima kasih kepada Eliza. Selain jatah yang baru saja di dapatkannya, Agash berterima kasih karena Eliza benar-benar mengandung benihnya. Rasa bahagia itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang, terima kasih." Untuk kesekian kalinya Agash mengulangi kata-katanya, karena saking bahagianya. "Mereka terlalu aktif, seperti Mommy-nya." bisik Agash tepat di telinga Eliza.


"Kamu jangan ngadi-ngadi. Kamu itu yang super aktif. Seharusnya aku tidak tergoda dengan jari-jari nakalmu! Tidak seharusnya juga aku memberikan secepatnya. Seharusnya aku memberikan kamu pelajaran dulu baru kamu bisa nyangkul! Ah ... kenapa aku begitu bodoh tergoda dengan sentuhananmu!" rutuk Eliza dengan bibir cemberutnya.


Agash tertawa pelan. "Mungkin itu sudah menjadi rejekiku. Sudahlah gak usah dibahas, yang penting kita sudah meluapkan rasa rindu kita selama ini. Apakah kamu masih ingin nyangkul! Jika iya, aku akan bersiap-siap," ujar Agash dengan senyum licik di bibirnya.


"Gak udah ngelunjak deh! Dikasih jantung minta hati!


*


*


Semula berawal dari Agash. Jadi orang yang patut disalahkan adalah Agash. Bisa-bisanya baru pulang langsung nyangkul. Mana hari masih siang lagi.


Beda usia, beda gaya, beda tenaga beda juga darusi saat menggarap sawah mereka. Tentu saja pemenangnya adalah yang paling berpengalaman dalam segala bidang.

__ADS_1


Tubuh Azra lemas tak berdaya ketika baru selesai melayani kuda liar yang kelaparan. Padahal hampir setiap malam dijinakkan dan dikasih makan, tetapi tetap saja merasa tidak puas. Namun, setidaknya sang suami tidak jajan diluar karena sang istri bisa memberikan kepuasan tersendiri.


"Capek enggak?" tanya Alan dengan deru nafas yang masih naik turun. "Kalau belum capek, aku naik lagi ya. Kan kamu dibawah enggak ngapa-ngapain."


"Kamu gila Alan! Kamu pikir dibawah enggak capek. Mana tenaga kayak kuda liar lagi! Udah ah, nanti malam lagi. Aku bener-bener capek!"


Alan tersenyum puas lalu mendaratkan sebuah keccupan di kening sang istri. "Aku cuma bercanda kok. Lagian ini masih siang. Gak seru mainnya. Ya udah kalau capek kamu istirahat aja, tapi dibersihin dulu."


Cinta Alan terlalu besar untuk Azra. Bahkan setiap detik, setiap nafas wajah Azra yang terus-menerus terbayang. Mungkin ini adalah sebuah karma karena dahulu pernah mengabaikan Azra yang telah berusaha untuk menggodanya. Alan bersyukur saat Azra mau kembali pulang dan melanjutkan pernikahan yang awal mula tak ada rasa cinta.


*


*


"Dadd, dimana Mommy. Kok hampir satu harian Eza tak melihat Mommy?" Kenza menanyakan keberadaan Azra yang tak berada di meja makan. Padahal biasanya wanita itu yang akan menyiapkan semuanya.


"Mommy kamu masih capek, Za. Sudahlah biarkan Mommy beristirahat. Nanti Daddy yang akan mengurusnya," ujar Alan dengan santai.


"Memangnya Mommy habis ngapain, kok capek. Kayaknya semua pekerjaan rumah udah dikerjakan Bi Lily deh!" protes Eliza dengan heran.


"Capek nyangkul sawah."

__ADS_1


"Nyangkul sawah? Yang benar aja Dadd? Sejak kapan Mommy punya sawah? Daddy bercanda gak lucu!"


Sebagai seorang laki-laki tentu saja Agash paham akan ucapan Alan. Dia pun langsung menyuruh Eliza untuk makan saja.


Cih, bisa-bisanya Daddy gak tau malu ngomong layak gitu sama anak perempuannya. Untung Eza gak tahu maksudnya apa. Dasar orang tua yang gak ada akhlak Agash hanya bisa membatin.


Mata Alan terus memperhatikan Agash yang sesekali juga mencuri pandangan padanya. Kamu pikir kamu aja yang punya sawah dan bisa nyangkul? Daddy juga bisa nyangkul, Shen! Kamu pikir diusia Daddy yang masuk ke angka 50 tahun, Daddy udah loyo? Kamu salah, Gash! Daddy ini lebih unggul daripada kamu!


"Oh iya habis ini rencana kalian apa? Apakah mau melakukan honeymoon yang sempat tertunda atau mau punya rencana apa gitu?" Alan bertanya sambil melirik kearah Agash.


"Honeymoon? Daddy ada-ada aja. Perut Eza udah segede ini mau diajak honeymoon? Bisa-bisa belum waktunya mbrojol, nih bayi udah brojol duluan karena ulah bapaknya. Mending di rumah nyiapin para utun ini keluar," ujar Eliza.


"Memangnya ulah bapaknya seperti apa? Bar-bar sekali ya?" Alan memancing Kenza untuk bercerita.


"Iya Dadd! Mentang-mentang baru buka puasa langsung ngegas. Untuk pelan. Eh ... " Eliza langsung menutup mulutnya saat menyadari kesalahannya. Tak seharusnya Eliza berbicara seperti itu pada Daddy-nya.


"Uuuppss ... maaf, Gash! Keceplosan," lanjut Eliza dengan lirih sambil menatap wajah Agash yang sudah memerah karena menahan rasa malunya.


Astaga Eza ... kenapa kamu masih aja ceroboh? Kenapa kamu buka aibku. Eza benar-benar, ya!"


"Iya ... iya. Daddy paham kok. Daddy ini sudah berpengalaman akan hal seperti itu. Rata-rata laki-laki memang bar-bar." Alan mengangguk pelan dengan bibir yang tersenyum tipis.

__ADS_1


~BERSAMBUNG~


__ADS_2